Latest Post
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

(Cerita Pendek) KENAPA HARUS BERAKHIR BEGITU?

Written By Unknown on Senin, 30 Desember 2013 | 19.18

(Cerita Pendek) KENAPA HARUS BERAKHIR BEGITU?

Catatan Pengantar: Ini naskah dan judul asli dari cerita pendek "Selepas Subuh" sebelum disunting oleh AWSp (almarhumah) dan dimuat dalam Tabloid Jelita pada tahun 2005.



RUMAH DI DEPAN bekas bong --pemakaman Cina-- di Desa Cendono, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu sederhana tapi asri. Asap rokok yang mengepul dari ruang tamunya demikian tebal. Tentu saja begitu, hla wong semua orang, baik tuan rumah maupun tamu, laki-laki maupun perempuan, seakan-akan berlomba mengalahkan rekor mengisap rokok paling banyak dalam satu jam.

Lihatlah perempuan yang berseragam aparat pemerintah itu, dia malahan mengisap cerutu buatan Negeri Belanda. Dari luar, Anastasia Astuti, dokter umum, tampak ceria, apalagi dengan benges, eh, lipstick merah muda berhiaskan bintik-bintik kecil perak di bibirnya yang sedikit tebal.

“Tasya, gimana? Sudah hafal? Masa hanya beberapa kata saja susah merekamnya di benakmu?” tanya pria setengah baya yang menggunakan sarung dan berbaju batik, juga ber-prada perak di sana-sini, serta berpeci putih. (Apakah ini tanda ia telah naik haji, aku tidak yakin!) Jarinya memegang tasbih yang setiap maniknya bertuliskan asma Allah. Jarinya berhenti berpindah dari manik ke manik sewaktu ia bicara. Ya, mana mungkin bicara sambil wirid, bibir kan cuma sepasang?

“Agak susah, mBah, bahasa Arab, sih. Apa tidak ada do’a yang berbahasa Indonesia saja? Tapi, puasanya lancar. Saya kian asyik, sekalian diet. Berat badan saya turun agak drastis sejak melakoninya sebulan lalu.”

“Bisa saja aku kasih yang bahasa Indonesia, tapi kalau nggak manjur, jangan salahkan aku,” jawab sang paranormal sekota asal, Sidoarjo, dengan penyanyi “kuna” Arie Koesmiran yang sekarang sudah jadi istri milyarwan pembuat rokok dari Kota Kretek Kudus itu.

Sudah menjadi rahasia umum sekarang bahwa kalangan eksekutif lari ke dukun, bila menghadapi kesulitan psikologis dalam rumah tangga, walaupun mereka lulusan perguruan tinggi yang paling rasional, bahkan penyelesaian doktoralnya di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat.

Padahal, dari segi karier, Dokter Tasya boleh dibilang sukses. Di kantor pemerintah, dia sudah menjabat kepala bagian hampir setahun. Klinik pribadinya di rumah tinggalnya juga tak sepi dari pasien. Suaminya, yang juga dokter, bahkan kepala rumah sakit.

Pasangan dokter tidak bahagia dan sang istri lari ke dukun? Ya, begitulah gejala umum di Indonesia pasca krisis moneter yang melanda dengan dampak yang memorakporandakan siapa saja sejak Juli 1997. Kakak ipar dukun kampung itu, yang praktik di bilangan Ciledug, yang masih relatif dekat dengan Istana Kepresidenan di Jakarta, malahan berpasien direktur jenderal, urusan energi minyak lagi. Dunia sudah terjungkir balik?

“Bardo masih tinggal di rumah tempat ia praktik pribadi?” tanya sang dukun tentang sang suami.

“Kata orang, ia lebih banyak tidur di rumah Etik, pacarnya,” jawab perempuan itu. Alis Dokter Tasya berkerut. Bila bedak tebal di wajah itu dicuci, tak pelak lagi akan terbaca gurat kesedihan seorang ibu beranak tiga yang pisah ranjang dari suaminya yang secara terang-terangan menyeleweng. Anak kecil juga tahu, sahut tukang rokok di depan rumah sakit yang dipimpin sang bapak bila ditanya soal tersebut.

“Dari dulu aku sudah bilang, kalian terlalu sibuk. Buat apa sih harta dikejar di luar nalar, dengan mengorbankan ketentraman rumah tangga? Apa sih yang kurang dari yang sudah kalian miliki? Anak tiga, manis-manis. Yang sulung pun sekarang sudah pantas menikah...”

“Bardo saja yang kurang mensyukuri nikmat yang dikaruniakan Tuhan.”

Si dukun mendesah. Lama mereka tak bicara, agak susah membicarakan siapa yang salah dan siapa yang memulai dalam perkara ini. Sebagai laki-laki, ia tahu persis betapa hal kecil dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi biang masalah. Bahkan, perbedaan lidah --yang satu suka santan, yang lain suka sayur bening-- saja bisa meretakkan pernikahan belasan tahun yang dulu dilandasi ikrar: “Sumpah mampus, aku cinta banget kepadamu!”

“Bagaimana dengan tujuhbelas jurus Kama Sutra yang kamu pelajari dari temanmu yang berkebangsaan India itu? Siapa namanya? Nilakanta Sastri?”

“Kopinya sudah terlanjur dingin,” jawab Dokter Tasya dengan ibarat.

Empat lelaki lain di ruang tamu yang berhiaskan banyak benda kuna itu tak berani ikut bicara. Dua cantrik --murid learning by doing-- paranormal itu jelas harus mengamalkan ilmu “diam itu emas”. Sopir Dokter Tasya juga lebih banyak menyimpan dulu bahan pembicaraan itu dan baru menceritakannya di rumah kepada bininya, awal rantai perjalanan panjang perkara pribadi itu menjadi rahasia umum. Seorang lagi, keponakan istri sang dukun, penulis cerita pendek ini, tangkas merekamnya dalam ingatan untuk diolah menjadi karya tulis yang sedang Anda baca ini. He he he... cari uang dengan membeberkan penderitaan orang, payah!

“Gimana dengan ketiga anakmu? Apakah sudah tidak bisa lagi dipakai sebagai sarana untuk mendekatkan kembali?”

“Hubungan Bardo dengan mereka sudah layaknya ikatan bisnis antara bank dengan nasabahnya, apalagi sekarang anak-anak sudah lebih sering mengunjungi bapaknya hanya untuk sekadar menguras kantung ayahnya.”

Dukun itu seakan-akan kehabisan pertanyaan. Dokter Tasya mengisap cerutunya dalam-dalam. Sebagai tamu di rumah paman, aku justru masih punya segudang pertanyaan dan juga ... pernyataan, dari yang paling sederhana: “Santai saja, Anda kan sebentar lagi menopause!” sampai yang kelewat kurang ajar: “Kalau Anda ingin terpuaskan, bayar saja saya sebagai gigolo yang ditanggung bisa membuat Anda merem-melek terbang ke surga dunia yang paling nikmat!”

Setengah jam waktu berlalu, aku tak tahan untuk tidak menguap, apalagi tanteku, istri sang dukun, dari tadi tanpa sungkan-sungkan menyisiri rambutku yang panjang dan sudah mulai memutih di sana-sini, lalu mengikatnya dengan tali hitam bermanik perak. Bagi tante, aku memang anaknya yang sulung, yang mengembalikan suaminya, yang saat itu sebagai sopir sudah enam tahun tidak pulang.

Hei, jadi: dukun itu menjadi penasihat perkawinan yang berantakan berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri? Tidak tepat begitu, yang pantas menjadi penasihat pernikahan itu aku, ia mah biang perkaranya juga.

“Kamu ingin menyumbangkan saran?” tanya pak dukun mengagetkanku. Gelagapan aku dibuatnya. Akhirnya aku cuma bisa mengisap rokok menthol Dunhill kesayanganku, yang kian susah dicari di kota kecil macam Cepu, dalam-dalam. “Kamu memikirkan sesuatu yang nakal ya?” tanyanya pula.

Pandangan Dokter Tasya terasa menghunjam, tapi aku mengalami kesulitan menafsirkannya, kecuali bahwa ada nada-nada putus asa di sana.

“Mencari kesibukan lain mungkin akan membantu, Paman,” kataku pada akhirnya. “Ikut organisasi, misalnya...” Namun, aku tidak bisa melanjutkannya. Aku ingat tetangga sebelah rumahku, janda berumur enam puluh tahun yang kawin lagi dengan duda seusianya. Dan ketika ditanya apa yang dicari dalam perkawinan pada umur lanjut demikian itu, janda tersebut menjawab genit: “Kan selalu ada jalan lain ke Roma.”

“Jalan lain” itulah gembok-nya, sedangkan anak kuncinya ialah kesediaan untuk bersama-sama menempuh the other way-out itu sendiri. Jadi, bila niat itu sudah tidak lagi ada, ya lebih baik rumah tangga itu diakhiri baik-baik.

“Kamu berpikir tentang sebaiknya aku bercerai saja dari Bardo?” tanya Dokter Tasya, masih dengan pandang mata yang menghunjam itu, seolah-olah dia bisa membaca apa yang kupikirkan.

Nuwun sewu, Dokter Tasya,” jawabku dalam bahasa Jawa campur Indonesia, “dalem percados mbok bilih masyarakat mboten saged nampi talak sebagai jalan keluar terakhir. Nanging, sepindhah malih, nuwun sewu, masyarakat menika namung saged maiben, maiben, lan maiben!

Entah berapa lama waktu berjalan dalam diam. Dokter Tasya melihat ke arlojinya, yang konon dirancang oleh Salvador Dali, dia pun pamit seraya menyelipkan amplop yang cukup tebal ke saku rok tante. “Kamu bisa pulang bareng aku,” katanya. Aku pun mengangguk.

“Kenapa kali ini pamanmu sampai kehabisan bahan?” tanyanya dalam perjalanan.

Aku hanya tersenyum.

“Tolong dijawab, dong, hayo...”

“Pada waktu paman dulu bertingkah seperti Dokter Bardo sekarang, saya yang justru baru tamat SMA harus turun tangan menyelesaikannya.”

“O, begitu!”

“Nuwun sewu, Dok, menawi watuk, Dokter saged ndamel resep ingkang cespleng, ananging menawi watak...”

Dokter Tasya memandangku lekat-lekat. Tangisnya pun pecah. Aku tak tahu harus bicara apa. Batuk bisa diobati, kalau watak, itu susah diubah. Kata orang Jawa: ciri wanci ilange ginawa mati (watak dasar baru hilang setelah orangnya mati).

Kami pun mengganti bahan pembicaraan, bahkan tentang kemungkinan Dokter Tasya membantu menulis konsultasi kesehatan di koran lokal yang kuterbitkan bersama beberapa teman. Juga kemungkinan mendirikan apotek dan optik bila keponakanku, kakak kelas anaknya, sudah lulus Akademi Farmasi. Sungguhkah itu isyarat positif bagi penyelesaian masalahnya?

Selepas jembatan kuna Bengawan Sala, masuk wilayah Jawa Tengah, tepatnya Kota Cepu, tempat aku dan Dokter Tasya tinggal, aku minta turun. “Mau ke mana, rumahmu kan masih jauh?” tanyanya masih dengan mata merah dan pelupuk membengkak.

“Wawancara untuk Tabloid Cahya, Dok.”

Kami pun berpisah.

Pagi esoknya, lepas subuh, kota Cepu geger. Dokter Anantasia Astuti, ditemukan oleh putrinya yang sulung, bunuh diri dengan cara membakar diri. Haruskah berakhir begitu?

mBalun, Cepu, Sanggar Jangka Langit, 2 Agustus 2005.15:29.

(Cerita Pendek) JANGANKAN AMNESIA, NUNGGING CAMPUR UNDUR-UNDUR KUBURAN PUN, OK!

Written By Redaksi on Jumat, 20 Desember 2013 | 14.05

(Cerita Pendek) JANGANKAN AMNESIA, NUNGGING CAMPUR UNDUR-UNDUR KUBURAN PUN, OK!

BERDIRI DEKAT toko swalayan Isetan di Singapura, aku benar-benar hilang orientasi. Aku tak ingat lagi jalan ke pelabuhan untuk menyeberang dan bertamasya di Pulau Sentosa atau bahkan pulang ke Jakarta lewat Batam. Aku tak ingat lagi rute bus ke Bugis Street dan kenangan apa yang ada di sana. Kecuali naik taksi dan bayar mahal, aku tak ingat lagi bus nomor berapa yang bisa mengantarku ke Changi International Airport. Apalagi, ketika meraba sakuku, tak ada dompet dan uang sepeser pun di sana.

Apakah kerusakan syaraf (spasmofilia) baik di otak maupun sebagian besar jaringan di tubuhku karena radiasi layar komputer sudah sedemikian parah? Satu-satunya hal yang masih kuingat hanyalah harum nasi goreng murahan dekat Center Point, tak jauh dari Grand Hotel. Di situ, sutradara keturunan Arab yang punya studio alam di Pacet, dekat Puncak, Ali Shahab, me-nraktir-ku ketika kami transit dalam tugas menghadiri Asia-Pacific Film Festival di Kuching, Negara Bagian Serawak, Malaysia Timur, pada tahun 1990.

Dua perempuan usia 30-an mendekatiku. “Dicari ke mana-mana, nggak ketemu, tahunya bengong di sini?” sapa yang agak kurusan. Wajahnya menunjukkan kelegaan. Demikian juga perempuan yang satunya. Di kantungnya, tersembul stetoskop. Dia dokter?

“Kalian siapa? Kenapa menegurku begitu?” Aku benar-benar tak ingat siapa kedua perempuan pendek yang relatif gemuk-gemuk itu.

Yang dokter segera meraba dahiku, lalu memelukku erat-erat dengan air mata berlinangan. Tampak sekali dia berusaha menahan isak. Lalu, dia mendadak melepaskan pelukan dan mengangsurkan aku ke perempuan yang agak kurusan seperti mengoper bola saja. Menerimaku dengan tatapan mata penuh kasih, tangannya mengetuk dahiku pelan. “Dijitak begini, kamu bisa siuman?” katanya dengan sinar mata menghunjam penuh kasih.

Jitakan sayang itu membuatku ingat dia. Aku berkenalan dengan Theresia Rini Astuti ketika aku mengajar Islamologi di salah satu kumpulan jemaat gereja di Batam. Asal Pare, Kediri, Jawa Timur, Tere bekerja sebagai pengendali mutu di perusahaan semikonduktor kerja sama Indonesia-Amerika Serikat di pulau entreport yang kini menjadi ibukota Provinsi Riau Kepulauan itu.

Di pergelangan tangannya, ada bekas sayatan cutter, yang kurebut darinya di halaman parkir salah satu hotel bintang tiga di kawasan Nagoya, saat dia mau bunuh diri. Katanya, begitu sering dia ditipu lelaki. Karena itu, dia rela bekerja di bagian penyinaran Rontgen di pabriknya, yang mungkin sekali bisa membuatnya mandul. Sejak itu, kami akrab, SMS-an sehari paling sedikit 10 kali di mana pun kami berada. Kalau lagi ketemu, kami asyik berdebat soal perbandingan antaragama, bidang yang sangat diminatinya!

Tentang perempuan yang satunya, aku baru ingat nama panggilan dan profesinya saja.

“Kamu Tere rupanya dan kamu dokter Tasya. Ada apa kalian berdua di Singapura? Tere, bukankah kamu harus mengikuti kursus las pipa bawah laut di pabrikmu di Batam? Dan kamu, Tasya, bukankah kamu sibuk mengurus wabah flu burung yang merebak di Tangerang, terutama di wilayah Puskesmas tempat kamu bertugas?”

Wajah keduanya kembali keruh. Sungguh, aku sama sekali tidak mengerti. Angin yang bertiup agak kencang di sela hutan beton Singapura yang masih cukup banyak berpohon menerpa dan memorat-maritkan rambutku yang kian banyak dihiasi warna perak. Aku mencoba mengingat-ingat. Akan tetapi, makin keras aku berpikir, rasanya kian tertutup khasanah ingatanku. Apa gerangan yang terjadi denganku?

“Tasya, beliin aku nasi goreng...” pintaku seperti anak kecil merengek minta permen ketika bau harum nasi goreng “mengalun” di tengah terik sang surya.

Rengekan itu sedikit mengurangi kerutan sedih di wajah keduanya. Mereka lantas mengapitku berjalan menyusuri jalan yang salah satu sisinya penuh pertokoan. Sisinya yang lain hotel dan perkantoran. Hai, aku ingat. Di lingkungan ini pula, anak Ita, teman sekantorku, namanya Branden, yang baru empat tahun, hilang entah ke mana. Polisi baru menemukannya enam jam kemudian. Branden lagi minum es krim di Hotel Ming Court bersama wartawan The New Strait Times kenalan ibunya.

“Kenapa Papi senyum-senyum?” tanya dokter Tasya yang dari tadi sering serius memperhatikan raut mukaku.

Panggilan “Papi” itu membuatku ingat siapa dokter Tasya. Tigabelas tahun lalu, selepas ujian SMA, dia dihamili pacarnya, yang lantas kabur. Dia berusaha bunuh diri, aku mencegahnya. Singkat kata, aku mengangkatnya sebagai anak. Demikian juga anaknya yang lahir tujuh bulan kemudian, praktis menjadi cucuku. Sejak itu, dia membenci laki-laki. Lalu, kuliah lima tahun kurang, dia lulus Fakultas Kedokteran dan ditempatkan di salah satu Puskesmas di Tangerang, Provinsi Banten.

“Aku ingat kasus hilangnya Branden...”

Wajah dokter Tasya agak mencerah. Dia saling pandang dengan Tere, baru menyahut, “Tante Ita, bersama Branden dan Tia, ikut Om Jay tinggal bersama ibunya di Inggris, tapi sebulan kemudian Om Jay dapat tugas di Malaysia.”

“O, begitu...” jawabku enteng. Aku lalu menyendok dan mengunyah nasi goreng murahan itu, yang benar-benar harum bau bawang goreng.

“Pi, kenapa hanya bagian tertentu kenangan dalam otakmu bisa muncul. Tak ingatkah Papi kenapa kami membawamu berobat ke sini?” tegur dokter Tasya seperti hilang sabar dan meledak.

“Berobat? Aku kalian bawa ke Singapura untuk berobat?” tanyaku bingung. “Rasanya aku sehat-sehat saja.”

“Ya, Papi terkena amnesia akibat trauma karena hasrat Papi secara seksual tak tersalur sejak Papi pensiun dini tiga tahun lalu! Ditambah lagi dengan kekecewaan mendalam akibat tak satu pun dari puluhan manuskrip Papi, baik karya ilmiah maupun novel, yang bisa terbit! Kemudian, yang paling dahsyat: ... perceraian!” Dengan air mata berlinangan dan isak yang tertahan-tahan, Tasya meneruskan penjelasannya.

“Papi ingat ketika para tetangga melarikan Papi ke rumah sakit, setelah malamnya Mami menolak Papi?! Papi ingat??!! Saat itu ‘burung’ Papi menegak lebih dari tiga jam dan baru bisa melemas setelah Papi disuntik bius. Papi ingat???!!! Dan sejak itu, Papi lebih sering tinggal di rumahku karena malu terhadap tetangga. Anehnya, ketika aku nekad melanggar aturan dan norma untuk menolong Papi, Papi malahan menolakku telak! Papi ingat????!!!!”

“Kamu anakku, Tasya!”

Begitulah, air sedingin angin hampir nol derajat yang pernah kurasakan di Selat Juan de Fuca yang memisahkan Negara Bagian Washington, Amerika Serikat, dari Kanada pada musim gugur seakan mengguyur kepalaku. Pelan-pelan aku ingat semuanya. Sebagai ketua penelitian dan pengembangan serikat buruh di kantorku, aku terjebak perselisihan antarlini yang ujung-ujungnya adalah perebutan jabatan.

Saking runcingnya perseteruan itu dan karena aku lebih banyak mem-back-up manajemen dengan data hasil penelitianku, ada karyawan yang secara fisik menggangguku, bahkan mengancam akan membunuhku. Aku pun merasa sangat letih dan mengajukan permohonan pensiun dini. Saat itu, aku berjanji kepada “ibunya anak-anak” bahwa aku akan segera mendapatkan pekerjaan baru.

Apa lacur, tak mudah mencari lowongan untuk orang seusiaku di tengah gencarnya perusahaan ambruk dan larinya investor dari bumi pertiwi Indonesia. Dengan uang pensiun yang sangat minim, istriku makin sibuk menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Dan: perkara memalukan itu pun terjadilah, berpuncak dengan pengajuan gugatan cerai oleh “ibunya anak-anak”.

Aku pun shock, hilang ingatan! Ingat sampai di situ, aku memeramkan kedua mataku. Sebutir air bening mengalir di pipiku yang kian banyak dihiasi keriput kerentaan.

Laptop-ku kamu bawa, Tasya?” tanyaku pada akhirnya.

Bukannya menjawab, kedua gadisku itu segera berebut memelukku dan menghujani pipi dan keningku dengan ciuman. Mereka tak pedulikan lagi pandangan orang yang ada di sekeliling kami. Pertanyaanku itu membuktikan aku telah sembuh.

“Kamu tahu, kami ber-nadzar apa bila kamu sembuh?” tanya Tere, ketika kami bertiga dalam perjalanan pulang ke Batam dengan kapal penyeberangan selepas Isyak. “Kami berdua akan merawatmu sampai akhir hidupmu, bukan sebagai anakmu, melainkan ... istrimu!”

Aku tak kuasa dan tak perlu menjawab. Sinar yang memancar dari keriuhan malam negeri pulau yang dulu bernama Tumasik dan didirikan oleh Parameswara, bangsawan Majapahit yang terusir akibat Perang Paregreg (1404-1406) antara Bre Wirabumi dan Maharaja Majapahit Wikramawardhana itu terasa begitu indah. Dan: ... kalau begini akhirnya,
jangankan
amnesia,
nungging
campur
undur-undur
kuburan pun aku mau! He he he...

Toa Payo, saat terbaring lemas after recovery, Jum’at 19 Agustus 2005.09:43.

BARA NOSTALGI(L)A

Written By Unknown on Rabu, 30 Oktober 2013 | 04.47

BARA NOSTALGI(L)A

TAK ADA KATA lain yang pantas diucapkan orang mengenai rumah tanggaku duabelas tahun ini kecuali “extremely excellent!” atau “kelewat asyik” kata orang Betawi.

Kalau Anda tanya tentang suamiku, bapak dari ketiga anakku, pun tak ada kalimat lain kecuali “dia mah tipe idola”, “orang rumahan”, atau bahkan “tahunya kerja, capek, pulang, dan tidur!”, serta “tak kenal dugem[1]”.

Dia ganteng, berkupis tipis, banyakan diam, dan baru nerocos kalau sudah marah dan tak kuat lagi menahan sabar. Tukang insinyur macam dia memang lebih banyak bekerja dengan tangan dan otaknya, ketimbang dengan bibirnya.

Mungkin Anda akan bertanya nakal: apa tidak bosan memiliki rumah tangga yang ayem-tentrem seperti itu di tengah zaman penjungkirbalikan nilai dan norma yang mendera dengan teramat keras sekarang ini?

Izinkanlah aku hanya menjawabnya dengan seulas senyum. Stt, lelaki pendiam itu bak gunung berapi yang sedang tidur. Di dalamnya, tersimpan magma. Entah berapa jilid dan versi Kama Sutra[2] tersimpan di benaknya. Terus terang saja, hidup berpasangan dengannya bagaikan berpacaran seumur hidup, sungguh!

Malam itu tepat peringatan ke-13 tahun malam perkawinan kami. Seperti biasanya, kami tidak merayakannya, kecuali melaksanakan tugas rutin suami-istri. Itu pun karena aku yang memulainya, dengan cara sesederhana memakai baju tidur tipis warna pink kesukaannya.

St, bedanya ialah, tentu saja, seperti biasanya, kami melakukan eksplorasi gaya baru bersanggama. Sungguh, seperti tadi telah aku tuliskan: Entah berapa jilid dan versi Kama Sutra tersimpan di benaknya. Malam itu, setelah melepaskan semua benda yang terbuat dari benang dari tubuhnya dan ... tubuhku, ia mengambil sarung kesayangannya dan menyodorkannya kepadaku.

“Tari Plesiran,” katanya.

Anda ingin tahu? Itu nomor tari “sedikit kuna” dari khasanah tontonan rakyat yang mengeksplorasi sarung. Di dalam sarung, penari perempuan menari berkebaya dan berkain panjang motif gendongan bayi, sedangkan yang lelaki bercelana panjang, kemeja panjang, serta topi putih yang diikati sapu tangan. Tari Plesiran itu diangkat ke pentas oleh Yulianti Parani pada tahun 1972 serta dibawakan oleh Farida Sjuman dan Trisapto di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.[3]

“Sarung memang punya berbagai kemungkinan,” tulis pakar tari Edi Sedyawati. Seniman Betawi Nasir pernah pula memanfaatkan sarung ketika mendemonstrasikan nomor tari Topeng Betawi bersama Ipon, juga di TIM, pada tahun 1976. Yang pasti, imitasi gerakan tari Plesiran itu ke dalam adegan ranjang hanyalah berguna sebagai pembangkit selera. Selanjutnya... (st, pinjam kalimat iklan:) terserah Anda!

Yang jelas, kemudian kami sama-sama terkapar lunglai di ranjang tua dari kayu berukir buatan Jepara hadiah perkawinan kami dari neneknya, ibu dari bapaknya. Kata perempuan yang mengasuhnya dari bayi itu, nenek moyang pengukir ranjang tersebut dididik langsung oleh pahlawan pejuang persamaan hak kaum perempuan, Raden Ajeng Kartini.

“Mas, masih ingat Anti?” tanyaku pelan dan hati-hati.

Alisnya berkerut aneh, tapi Mas Wiwiet mengangguk. Aku kaget juga. Sepanjang hidup mendampinginya, aku belum pernah melihat kerutan alis macam itu. Ada tanda kecemasan di wajahnya, bahkan samar-samar terbayang ketakutan.

“Dia mengajakku mempersiapkan reuni SMA kita...”

Lama ia tidak menjawab. Aku pun dengan sabar menunggu. “Di mana?” kata Mas Wiwiet pada akhirnya.

“Di salah satu hotel di Ancol.”

Ia mendesah pendek. Sulit rasanya memaknai desahnya itu. Beberapa menit kemudian, ia mencium keningku. Itu tanda kalau ia pamit tidur lebih dulu. Aku pun mencoba tidur, tapi kerutan alis itu terus membayang.

Memang, dulu, waktu SMA, aku cukup lama terombang-ambing, antara memilih Mas Wiwiet dan Koeshardjoko, yang kini sarjana karawitan dan dalang wayang kulit yang cukup terkenal di Jawa Tengah. Terus terang, aku lebih sering bersama Koes ketimbang dia. Hobiku dan Koes sama: nembang dan nari Jawa, sedangkan Wiwiet lebih suka mengotak-atik sepeda dan mesin motor atau membenahi bangunan rumah.

Dalam soal antar-jemput pun, Koes lebih telaten. Bahkan, sejak hari pertama aku ikut ekstra-kurikuler kesenian Jawa, tak hanya mengantar-jemput, ia begitu rajin membetulkan gerak tanganku. Maklum, begitu lahir, ia sudah berada di sanggar tari, karena ayahnya memang dalang dan penari. Sementara itu, Wiwiet malahan kabur karena cemburu melihat kami berdua begitu akrab. Selepas SMA pun, aku seakademi-karawitan dengan Koes, sedangkan Wiwiet masuk jurusan arsitektur fakultas teknik.

Hanya karena kehidupan awal Koes sebagai seniman begitu susah, bahkan sempat terpaksa menjadi sopir di Pertamina, sedangkan karier Wiwiet sebagai perencana bangunan cepat sekali menanjak, dia lebih berpeluang mendekatiku. Dan akhirnya Wiwiet berhasil mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuaku untuk mempersunting aku.

Aku sendiri? Sarjana sih sarjana, bahkan sempat menyelesaikan tugas magister, tapi aku gagal menjadi penari dan waranggana[4] profesional, serta hanya mampu sekadar mengajar dan menjadi ... makelar kain batik.

Akh, itu kenangan manis masa SMA dan kuliah. Malam itu, entah berapa jam aku gelisah mencoba memahami kerutan alis suamiku. Baru setelah aku memutuskan untuk menolak ajakan Anti, aku baru bisa mulai mengantuk dan lalu tertidur.

Pada pagi harinya, tentu saja aku terlambat bangun. Seperti biasanya, Mas Wiwiet tidak membangunkanku. Bahkan, ia sempat menyiapkan sarapan bagi kami sekeluarga. Aku baru terbangun ketika si bungsu bertengkar kecil dengan si sulung yang hari itu tidak mau mengantarnya sekolah. Dan seperti biasanya, ayahnya pun mengalah mengantarnya.

“Asti,” kata Mas Wiwiet memanggil dengan potongan namaku, setelah mencium pipiku di depan pintu rumah kami, “Kau bantu saja Anti, tapi jangan libatkan aku...”

“... sama sekali?” tanyaku, setelah memupus rasa kagetku.

“Sama sekali!” jawabnya tegas.

Aku terpana. Pada akhirnya ia memberiku izin.

Setelah suami dan ketiga anakku pergi, aku pun menelefon Anti. Kami berdua lalu mencocokkan “angan-angan” gambaran pelaksanaan reuni itu. Rapat demi rapat di berbagai tempat pun terlalui. Aku diminta menjadi ketua panitia reuni.

Setelah kontak intensif hampir sebulan, hanya tujuh dari 213 teman seangkatan di SMA menyatakan tidak bersedia datang. Yang tujuh orang itu pun tidak mau karena memang sudah meninggal. Dan ... akibat itu kesibukan, kerutan alis suamiku pun terlupakan!

“Kamu mau menghadiahi aku apa dalam reuni nanti, As?” tanya Anti begitu persiapan sudah tuntas dan tinggal menunggu hari “H” pertunjukan.

“Apa yang kamu mau?”

“Bukan barang!”

Okey-lah, tapi apa?”

“Aku hanya ingin kamu datang dengan baju tari. Masih kamu simpan kan baju itu?”

“Mana cukup, aku sekarang agak gemuk...”

Anti terlihat kecewa sekali.

“Jangan kuatir, aku akan pakai yang belum lama ini dibuat untuk pementasan di kantor Mas Wiwiet,” jawabku tanpa curiga apa-apa.

“Baguslah, kalau begitu,” sahutnya, disambung dengan kalimat “ancaman” dalam bahasa Jawa, “Awas ya, aja blenjani janji.[5]”

Berkat teman seangkatan yang punya jabatan cukup tinggi di perusahaan penyiaran, reuni itu direkam untuk siaran tunda. Pihak televisi boleh dikata hanya melakukan penyuntingan bahan, sama sekali tidak campur tangan dalam penyusunan acara, yang sebetulnya lebih mirip out-bound manajemen kepemimpinan, ketimbang pertemuan kangen-kangenan.

Yang pasti, kami semua, termasuk aku dan Mas Wiwiet, terhanyut larut dalam nostalgia masa SMA. Seperti biasanya, temu kangen itu tak hanya merupakan ajang luapan perasaan setelah sekian lama berpisah, melainkan juga sarana pamer kesuksesan. Sebagai istri, aku cukup bangga dengan keberhasilan Mas Wiwiet, yang perusahaannya sudah beranak-cucu dan menjadi salah satu developer tepercaya di Ibu Kota.

Namun, sebagai pribadi, aku merasa sedikit getir. Aku hanya ibu rumah tangga biasa. Ada butik kecil yang menjual kain tradisional dan perlengkapan tari Jawa di paviliun rumah kami, plus sekian jam mengajar di akademi kesenian, tapi itu sebenarnya hanya sekadar menghibur hati.

Koeshardjoko dan istrinya, Endang Koesoemastoeti, sindhen yang cukup kondang, duduk di pojok belakang. Kami malahan belum sempat bertegur sapa, kecuali bersalaman waktu mereka datang.

Acara demi acara malam itu berlangsung lancar. Sebagai ketua panitia reuni, aku kian lega. Terbit kebanggaan bahwasanya ibu rumah tangga macam aku bisa mengorganisir reuni yang begitu meriah dan gayeng.

“Sekarang, tibalah saatnya puncak acara reuni ini,” kata Menik sebagai M.C. Teman kami yang berprofesi sebagai penyiar radio ini dari awal pembentukan panitia memang sudah minta dijadikan pembawa acara.

Aku kaget: puncak acara apa lagi?

“Kami semua sepakat untuk mendaulat ketua panitia reuni, Bu Asti Wietdarmono, serta dalang dan penari terkenal kita, Pak Koeshardjoko, agar naik ke panggung membawakan nomor tari Gatutkaca Gandrung. Kepada Pak Wiwiet dan Bu Endang, kami mohon maaf dengan acara kejutan ini. Dan, karena Pak Koes masih harus ganti pakaian, sedangkan Bu Asti sudah berbaju tari, saya persilakan Bu Asti naik lebih dulu. Mangga, Bu Asti.”

Jadi, itu maksud Anti minta aku berpakaian tari? Aku lihat Koes juga tak kalah kaget. Aku agak lega. Itu menandakan permintaan mendadak ini bukan akal-akalannya. Aku pun memandang suamiku, yang juga kaget, minta persetujuan. Teriakan hadirin yang bergemuruh membuatnya mau tak mau harus memberikan izin. Bahkan, ia pun didaulat memakaikan kuluk Pregiwati dan membimbingku ke panggung.

“Mas nggak keberatan, kan?” bisikku pelan.

“Kalau sudah begini, aku bisa berbuat apa?” jawab Mas Wiewiet tak kalah pelan, tapi... dengan kerutan alis seperti malam itu, yang bikin aku serasa kehilangan nyawa. “Sudahlah, menarilah, niatkan buat aku, sayang.”

Setelah mengangguk hormat kepada sekalian hadirin, mengikuti alunan gendhing, aku pun berimprovisasi menarikan Dewi Pregiwati sedang bersuka-ria main di taman sari keputren, mengejar kupu-kupu, menangkapnya, dan menaruhnya di tengah kuntum bunga. Kamera televisi mengikuti setiap langkahku dengan cermat, apalagi ketika dari balik panggung, Koes muncul sebagai Gatutkaca yang membawakan tembang ungkapan rindu, Kinanthi.

sasarmu neng taman santun,
praptamu inganti-anti,
wus dangu nggenira lenggah,
ndadak wadi ngemu wadi,
marma nuli ngandikoa,
sakecap sun tuku pati.

yen nganti tita lan segu,
kelakon kunjana kingkin,
amirangrong karungrungan,
dasihe tan ngrasa sisip,
tinekan ing duka cipta,
paran darunaning runtik.[6]

Aneh bin ajaib, seolah-olah aku kembali muda, seusia SMA. Kata demi kata ungkapan kangen Raden Jaka Pramana, putra mahkota Kerajaan Pagelen, kepada Rara Kumenyar di Desa Cengkarsari dalam alam Cemporet ciptaan pujangga R.Ng. Ranggawarsita itu seolah-olah luapan hati Koes kepadaku.

Ketika ia memegang pinggangku, lalu dengan gagah mengangkatku, dan mendudukkanku di paha-kanannya, dengan masih terus mengalunkan tembang rindu itu, aku pun berada dalam kebahagiaan yang tak terperikan.

Aku serasa melayang. Mata kami bertatapan. Aku lupa bahwa ia suami orang dan aku pun istri orang. Aku bahkan sejenak lupa bahwa kami sedang berada di panggung dan menari, bersandiwara di depan orang banyak membawakan nukilan lakon Gatutkaca Rabi[7].

“Andaikan ini belasan tahun yang lalu, mungkin anak-anakku yang akan keluar dari rahimmu,” bisik Koes menyadarkanku dari lamunan.
Kami berdua pun membungkukkan badan kepada hadirin sebagai tanda akhir dari tarian kami. Tepuk tangan bergemuruh gegap gempita memenuhi ruang pertemuan berkapasitas seribu kepala itu. Aku turun panggung bersama Koes masih dengan perasaan melayang. Sungguh, aku takut dan merasa begitu berdosa kepada Mas Wiwiet.

Jujur saja, aku tidak menari untuknya seperti yang dibisikkannya tadi, tapi untuk diriku sendiri dan ... untuk Koes. Itu berarti, walau hanya dalam hitungan menit, aku telah berselingkuh darinya, di depan orang banyak dan direkam untuk siaran televisi lagi.
Reuni malam itu memang sukses. Masih ada nilai tambahnya lagi, yakni: dari segi bisnis, panitia diminta oleh perusahaan TV tersebut secara rutin menyelenggarakan “reuni” semacam itu. Karena itu, seusai reuni itu, panitia membentuk yayasan untuk melaksanakannya, karena undang-undang telah mengizinkan yayasan melakukan aktivitas niaga.

Akan tetapi, bagiku,  dan terutama sekali bagi suamiku, reuni itu adalah awal yang lain dalam kehidupan kami. Sungguh, sejak hari pertunjukan itu, meskipun kami masih suami-istri dan tetap tinggal serumah, hubungan kami sudah tidak lagi seperti dulu. Apalagi, Mas Wiwiet sering termangu-mangu setelah memutar ulang CD rekaman acara reuni itu, khususnya fragmen Gatutkaca Gandrung tersebut.

Teluk Angsan Permai, Sabtu 2 Juli 2005.22:00 WIB.

CATATAN KAKI:
[1]       “Dugem” itu singkatan dari “dunia gembira”, clubbing, dansa-dansi di kelab malam dan pulang larut atau dinihari. (St, terserah Anda untuk menambahinya atribut lain: gaul bebas, narkotika, atau tukar kunci kamar hotel.)

[2]       Buku asal India ini entah dikarang oleh siapa. Isinya jurus dan strategi mencapai kepuasan di ranjang.

[3]       Lihat foto dan baca keterangan gambar pada Edi Sedyawati, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, cetakan pertama, 1981, halaman 78.

[4]       Waranggana itu sindhen, penyanyi klasik Jawa.

[5]       “Awas ya, jangan ingkar janji.”

[6]       Tembang rindu ini ditulis oleh pujangga penutup Kraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawarsita. Lihat R.Ng. Ranggawarsita, Tjemporet, diprosakan oleh Imam Soepardi, Penerbit Panjebar Semangat, Surabaya, cetakan pertama, Oktober 1962, halaman 33.

[7]       Rabi = kawin.

Translate

Selamat Datang di Sanggar Jangka Langit

JANGKA LANGIT

Pengikut

Popular post

 
Support : Creating Website | Jangka-Langit | Martin
Copyright © 2013. JANGKA LANGIT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jangka-Langit
Proudly powered by Jangka-Langit