Home » , » SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Ketigabelas).

SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Ketigabelas).

Written By Madani on Minggu, 14 September 2014 | 15.13

(ketika punya tapi tidak memiliki)


61.

sekali letih
tetap saja letih
jalan pun bertatih
rasa seperti diserpih-serpih

punya tapi tidak punya
memiliki tapi tak lagi menikmati
terlalu banyak taruhannya
hanya untuk sekadar tidak mati

andaikan tak terjebak
dalam sumpah prasetya ksatria
entah apa jadinya
jadi pengkhianat korak?

baik atau tidak baik
pilihan yang bikin mata mendelik
pilihan selalu penuh risiko
dan tidak mungkin membiarkannya blangko.

(beginilah bila sudah jadi orang kalah
hanya bisa menerima dan menyerah!)

*TelukAngsanPermai.03092014.23:19.-


62.

pinggang
oh pinggang
hanya air putih
yang bisa bikin pulih
delapan liter
jadi klenger

dalam hidup ini
selalu ada risiko
tapi jangan yang ini
dapat bikin K.O.
bisa hilang iman
krisis kepercayaan

mestinya semuanya
ada logikanya
selagi muda bertapa
sudah tua menikmatinya
bila terlanjur terbalik
bikin mata "mendelik".

(menyesal juga?
sama sekali tidak!
menerimanya
yang lain... tidak!)

*13092014.10:50.-


63.

ingin aku bertanya
tapi tidak berani
kenapa hidup begini
terasa teraniaya

tambahkan lagi
aku masih sanggup
selama rumpun melati
setiap pagi masih kuncup
aku akan genapkan
hidup yang berantakan
biarkan, biarkan, biarkan
berjalan bukan tanpa perlawanan

bukankah inti hidup
itu gerak
entah itu berderak
entah itu sudah "angslup".

(bila tak ada lagi gerak
nafas akan sesak
manusianya mati
tak lagi terhuni.)

*14092014.01:22.-


64.

tidurlah, tidurlah
biarkan aku berjaga
menghitung jejak tingkah
selama menjadi manusia

kunci rumah saja
perlu diganti
pada waktunya
masa terbiarkan mati

bahkan di dalam diam
ada gerak tanpa batasan
menembus kesangsian
menera yang melempam

mestikah semua dihitung
entah rugi entah untung
lupakan saja semuanya
biarkan hidup ikhlas saja.

*14092014.01:39.-


65.

izini aku istirahat
aku sudah cacat
masih menggeliat
tapi terlalu melarat
bahkan sekadar semangat
aku tak mungkin lagi giat

aku memilih menyerah
aku memilih pasrah
itu karena aku cuma "titah"
dan bukan manusia pongah

bila kamu mau jumawa
silakan saja
inilah aku senyatanya
manusia biasa
yang bisa putus asa
tanpa harapan pula.

(akan tetapi, gerak tetap esensiku
ketika nyawa sampai di leherku
aku akan tetap menggerakkan bola mataku
meskipun itu hanya isyarat saat terakhirku!)

*GriyaCiptadi.14092014.22:57.-


Share this article :

Posting Komentar

Translate

Selamat Datang di Sanggar Jangka Langit

JANGKA LANGIT

Pengikut

Popular post

 
Support : Creating Website | Jangka-Langit | Martin
Copyright © 2013. JANGKA LANGIT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jangka-Langit
Proudly powered by Jangka-Langit