Latest Post
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Ketigabelas).

Written By Madani on Minggu, 14 September 2014 | 15.13

(ketika punya tapi tidak memiliki)


61.

sekali letih
tetap saja letih
jalan pun bertatih
rasa seperti diserpih-serpih

punya tapi tidak punya
memiliki tapi tak lagi menikmati
terlalu banyak taruhannya
hanya untuk sekadar tidak mati

andaikan tak terjebak
dalam sumpah prasetya ksatria
entah apa jadinya
jadi pengkhianat korak?

baik atau tidak baik
pilihan yang bikin mata mendelik
pilihan selalu penuh risiko
dan tidak mungkin membiarkannya blangko.

(beginilah bila sudah jadi orang kalah
hanya bisa menerima dan menyerah!)

*TelukAngsanPermai.03092014.23:19.-


62.

pinggang
oh pinggang
hanya air putih
yang bisa bikin pulih
delapan liter
jadi klenger

dalam hidup ini
selalu ada risiko
tapi jangan yang ini
dapat bikin K.O.
bisa hilang iman
krisis kepercayaan

mestinya semuanya
ada logikanya
selagi muda bertapa
sudah tua menikmatinya
bila terlanjur terbalik
bikin mata "mendelik".

(menyesal juga?
sama sekali tidak!
menerimanya
yang lain... tidak!)

*13092014.10:50.-


63.

ingin aku bertanya
tapi tidak berani
kenapa hidup begini
terasa teraniaya

tambahkan lagi
aku masih sanggup
selama rumpun melati
setiap pagi masih kuncup
aku akan genapkan
hidup yang berantakan
biarkan, biarkan, biarkan
berjalan bukan tanpa perlawanan

bukankah inti hidup
itu gerak
entah itu berderak
entah itu sudah "angslup".

(bila tak ada lagi gerak
nafas akan sesak
manusianya mati
tak lagi terhuni.)

*14092014.01:22.-


64.

tidurlah, tidurlah
biarkan aku berjaga
menghitung jejak tingkah
selama menjadi manusia

kunci rumah saja
perlu diganti
pada waktunya
masa terbiarkan mati

bahkan di dalam diam
ada gerak tanpa batasan
menembus kesangsian
menera yang melempam

mestikah semua dihitung
entah rugi entah untung
lupakan saja semuanya
biarkan hidup ikhlas saja.

*14092014.01:39.-


65.

izini aku istirahat
aku sudah cacat
masih menggeliat
tapi terlalu melarat
bahkan sekadar semangat
aku tak mungkin lagi giat

aku memilih menyerah
aku memilih pasrah
itu karena aku cuma "titah"
dan bukan manusia pongah

bila kamu mau jumawa
silakan saja
inilah aku senyatanya
manusia biasa
yang bisa putus asa
tanpa harapan pula.

(akan tetapi, gerak tetap esensiku
ketika nyawa sampai di leherku
aku akan tetap menggerakkan bola mataku
meskipun itu hanya isyarat saat terakhirku!)

*GriyaCiptadi.14092014.22:57.-


SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Keduabelas).

Written By Madani on Kamis, 04 September 2014 | 03.36

(ketika harus mencoba dan terus mencoba)


56.

jangan takut salah
salah membuat kita belajar
kalau ada yang salah
terus bunuh diri, itu tersasar

mengulang juga tidak salah
mencoba dan terus mencoba
sampai benar-benar bisa
jangan sampai mengalah

mengalah bisa terinjak-injak
kalau maunya begitu
itu tidak salah tentu
kalau aku sih, lebih baik berontak

jangan salah paham
berontak dalam pemikiran
agar tercapai kebeningan
agar diri tidak melempam.

(jatuh dari sepeda
akan membuat mampu
mengendalikannya
begitu juga batinmu!)

*28082014.09:19.-


57.

subuh tadi kecelakaan kecil itu terjadi
harus berbuat apa lagi?
haruskah berhenti?
andai bisa pulang kampung dan bertani

jadi, mau jadi pengecut saja
membuang segala jejak
sudah terlalu letih berusaha
cobaan selalu menyeruak

tidaklah terasa
sebelas tahun menjadi tua
sudah jadi barang tak berguna
tidak mati-mati juga

terserah saja apa katamu
aku benar-benar telah jemu
ini salah, itu salah
capek senantiasa mengalah.

(bila telah lama di jalan berbeda
sebaiknya memang sendiri saja!)

*29082014.06:03.-


58.

aku hanyalah kepedihan
di dalam ceriaku ini
terselip belati
yang bernama kepedihan

kenapa aku seperti ini
berkembang dalam sunyi
tanpa kompromi
dan menjadi tersendiri?

ketika orang berpikir
di dalam air
aku menjadi air
itu gagal, tinggal getir

aku tetap aku
keumuman tak berlaku
perbedaan di dalam diriku
terlalu banyak, tak membeku

berkembang biak
beranak-pinak
menyeruak
hingga aku tak bisa berontak

belenggu itu bernama kecerdasan
yang membuatku tak lagi hewan
lompatanku tak terpahamkan
hasilnya... tetap saja: kepedihan.

*31082014.02:14.-


59.

belum lama tanah itu
aku tinggalkan merantau
aku sudah rindu
saat aku bersujud agar tak kacau

ada tangis dalam hati
telah hilang banyak masa
hanya untuk menduga-duga
yang mestinya tak perlu sekali

mendengarkan baik-baik
tak perlu mengundang resah
tak juga perlu bersusah payah
semua tersedia ketika balik

"sungkem" pada pangkuan Ibu
karena beliau pusat ilmu
banyak yang aku tidak tahu
sangat jelas karena masih dungu.

(tanah itu bernama Padangan
membikin terang pandangan
semudah itu rahasianya
terlalu lama dalam buta.)

*31082014.17:30.-


60.

sinar pagi ini
tak langsung masuk kamarku
aku terpaksa menunggu
dengan sengaja mendebar-debarkan hati

betapa tidak, entah kapan
nyawa tak lagi mengisi badan
tak jua hati bertentram
masih terganggu kelam

ada yang masih menggantung
belum dapat disebut rampung
ada yang masih suwung
belum ada isi hingga menggelembung

ini repotnya tak kenal mati
tidak menyiksa
tapi tak bisa dinikmati
juga tak dapat dianggap biasa saja.

(haruskah beban ini
dibawa sampai mati
adakah bidadari
yang 'kan datang mengunci?)

*TelukAngsanPermai.02092014.08:05.-



SAJAK-SAJAK "ORANG KALAH" (Bagian Kesebelas).

Written By Madani on Kamis, 28 Agustus 2014 | 09.51

(ketika lebih baik melata)


51.

siapa aku
berani mengaku-aku
berdarah biru
di antara guru

lebih baik melata
di antara sang jelata
berbagi duka
mengolah derita

menanam lebah
menuai madu
tidak gegabah
tidak "grusa-grusu"

di ketinggian
cuma ada kengerian
takut kehilangan
takut terbantai pemberontakan.

(bila ada itu darah
biarkan jadi sikap pantang menyerah!)

*15082014.07:54.-


52.

mencari
entah kapan bertemu
tanda-tanda itu
terlalu tersembunyi

apa itu hal mustahil
hanya dalam pikiranku saja
haruskah menuju yang terpencil
baru nanti mencari hubungannya?

itulah memang rahasia alam
yang kian tersembunyi oleh malam
memotong dan memorakporandakan
agar menjadi teka-teki kejutan

karena itu waskitalah
agar tidak menjadi orang kalah.

*16082014.02:22.-


53.

ini masih pagi
aku kedinginan
sedang merenungi
arti kemerdekaan

bagaimana mungkin merdeka
begini salah begitu salah
bahkan ketika jelas-jelas pasrah
hidup atau mati itu pilihan juga

tolong biarkan aku
memiliki diriku
mau aku bunuh
itu hakku penuh

percaya saja
kamu belum bisa
bagaimana mungkin
sudah bisa yakin?

(percaya itu mestinya mutlak
lha koq malah seolah-olah tanpa hak!)

*17082014.05:52.-


54.

rombongan anak
pengamen barongan
baru saja pulang
agak bimbang
ini hari kemerdekaan
mereka tetap bergerak

ini tanah kaya
akan minyak
dan kayu jati
terbaik di negeri
tapi kemiskinan meruyak
agak susah berjaya

bagaimana mungkin
tidak begitu halnya
keduanya dikuasai negara
rakyat hanya bisa ingin
tanpa bisa menikmati
apa yang ada di bumi.

(satu-satunya cara
hanya terus berusaha
menciptakan peluang kerja
dari tangan tak tergenggam saja!)

*GriyaCiptadi17082014.17:42.-


55.

ketika berbicara
menimbulkan luka
lebih baik ke hutan
menghayati kesepian

ketika merintis cita-cita
memorakporandakan segala
lebih baik dilepaskan
tetap jadi manusia kebanyakan

padahal, bila harus memilih
antara tapa dan bergaul sesama
tidak akan pernah tersulih
akan tetap berada di antara manusia

hidup baik bersama sebangsa
itu kunci penutup menuju surga
kata Kakek, "manjingå ajur-ajèr"
apa lagi… "gènjèr pathing kelèlèr"!

(pedang itu terhunjam
bergerak memutar kian dalam!}

*TelukAngsanPermai28082014.07:32.-


**aku di Semarang pada satu hari dulu. (Foto: Neny Isharyanti, FBS UKSW)

SAJAK-SAJAK “MENJADI INDONESIA” (Bagian Ketiga)

Written By Madani on Selasa, 26 Agustus 2014 | 00.10

(ketika harus tetap bergerak)


11.

lebih gampang naik
ketimbang turun
jangan mudah panik
tegang dibikin turun

pasang surut hidup
bagaikan bolam
saat waktu tenggelam
akan semakin redup

itu normal saja
dulu saat kerja
naik turun takhta
bisa kapan saja

ketika terusir
tak harus minggir
ciptakan kesempatan
buka jurus kehidupan.

(masalahnya mau atau tidak
jadi, tetaplah bergerak
jangan mati tindak
pikirkan orang banyak!)

*21082014.18:17.-


12.

menatap masa depan
atau
merenungi masa lalu
balau?

tentu tidak
cepat bertindak
bila keadaan memihak
tak tertawa tergelak-gelak

bila kalah
mengaku kalah
bila menang
merenung panjang

ada yang kita tahu
ada yang tersembunyi selalu
ada yang kita salah tebak senantiasa
bagaimana bisa bilang kita telah waskita?

(sebagai titah
kita manusia wantah
jangan sok kuasa
nanti terjungkal belaka.)

*GriyaCiptadi.23082014.03:45.-


13.

mimpi
harus dibangun dari akar
harus ditegakkan dari dasar
tanpa itu... tahi!

masih mending untuk rabuk
atau bikin kayu lapuk
juga bisa buat orang mengamuk
atau bahkan takjub menunduk

tak ada
di alam ini yang diciptakan sia-sia
meski hanya seonggok tahi
meski itu hanya mimpi

entah apa
tanpa impian dunia
mungkin hanya
mengambang udara

tak perlu ledakan besar
untuk maujud
mungkin hanya sekadar
rasa kecut.

*24082014.04:10.-


14.

sirna galih
rawa rontek
belum pulih
masih capek

tantangan mencuat
tenaga menguat
untuk apa?
demi apa?

demi hidup itu sendiri
tak bicara untung-rugi
bekerja tanpa motivasi
kecuali sekadar mengabdi

masih banyak
yang harus diperbuat
agar Indonesia tak kiamat
kenapa harus bertanya hak?

(jalani saja
semoga Indonesia
tetap lestari
menjadi negeri.)

*25082014.15:59.-


15.

apa kamu tahu tentang gunung tinggi
apa kamu tahu mengenai sungai membasahi
apa kamu tahu tentang bintang bercahaya
apa kamu tahu mengenai matahari pada malamnya

semuanya itu ada pada tempatnya
terikat tanpa tali menggantung begitu saja
tentu saja ada ikatan yang tak mudah dipahami
ada aturan agar tak saling menabrak dan serasi

itulah sebabnya manusia dibedakan dari hewan
sama-sama diberi instink, tapi dilengkapi pikiran
pikiran yang berlogika bukan musuh yang harus dibasmi
akal itu alat agar kita mudah mengerti dan tahu terperinci

ayo, berjuang, angkat dan guratkan pena
goyangkan cangkul olah tanah jadi berguna
semua yang ada di dalam alam semesta
disediakan buat kita sebagai modal hidup bersama.

*TelukAngsanPermai.25082014.20:16.-



ch

SAJAK-SAJAK “MENJADI INDONESIA” (Bagian Pertama)

Written By Madani on Senin, 18 Agustus 2014 | 10.29

(ketika jiwa membening)


1.

apa yang dibutuhkan lelaki tua ini
bila tidak bau dupa mewangi
menembusi kabut hati
menghapus resah bersisa sunyi?

dengan kebeningan jiwa
menulis kembali sejarah
yang sudah diubah-ubah
demi mengunggulkan ksatrianya

apa tidak dimengerti
betapa kebohongan
menimbulkan penyakit hati
yang menyulut kemarahan?

betapa nilai bening
dirajut dengan pening
oleh jiwa yang panik
untuk sedikit belajar lebih baik

apa kamu pikir
kebajikan tercipta
secara tiba-tiba
tanpa akal diulir?

ada tahap untuk mengubah diri
dari binatang berjalan tegak belaka
yang saling memangsa semuanya
menjadi manusia bermartabat diri!

*08082014.14:47.-


2.

mencari jejak awal peradaban
mendaki pun aku tekadkan
dari kecil takut ketinggian
mau tak mau harus dilupakan

menuju puncak
meniti gelegak
sering menunduk
agar tidak terantuk

menunduk
itu tawaduk
meneliti
mencari bukti
bahwa kita ini
bangsa bahari
mengerti ilmu bintang
agar bisa malang-melintang.

(itu bukan untuk gagah-gagahan
hanya sekadar menjalani kehidupan
bahwa kita bangsa berperadaban
yang memahami kewaskitaan!)

*15082014.02:38.-


3.

ke sawah
meniti pematang
sekali lengah
bisa-bisa terjengkang

untung, sawahnya kering
takut menginjak tanaman
keringat pemaculnya belum kering
masa tanamannya sudah dirusakkan

ingat masa kecil
ketika belajar menanam
tembakau di ladang gersang
Kakek pun memanggil
membawa bibit yang akan ditanam
harapan panen menghasilkan uang

jalan panjang harus ditempuh
memikul air untuk menyiramnya
mengolah tanah tak boleh mengeluh
betapa pun capai melandanya.

(cucu petani jadi penulis
sama-sama mengabdi takdir tertulis!)

*15082014.23:28.-


4.

meniti alur perjuangan
menyibak keremangan
tidak main serang
tidak main terjang

sabar mengolah kesempatan
tidak terjerumus kesempitan
di mana-mana tetaplah bumi Tuhan
karunia bagi yang mau gerakkan tangan

mengolah tanah sama mulianya
dengan mengguratkan kata
jangan cepat jumawa
seolah-olah paling berjasa

keagungan sekarang ini
berkat banjir keringat dahulu hari
berbilang generasi menegakkan martabat
jangan olehmu sekali gerak jadi melarat.

(masihkah ingat nenek moyangmu orang pelaut
menerjang ombak menempuh badai tanpa takut?)

*15082014.23:47.-


5.

ketika terlentang
ke batas langit memandang
jiwa terikat ke bumi
di dasar sungai menyusuri

mengalir sampai jauh
hingga terpaksa menyusut peluh
mencari yang orang lupakan
akar pembentuk peradaban

betapa dalam sejarah Indonesia
mundur ke masa dulu kala
apakah semua itu bisa
diungkapkan kembali ke yang muda

semua tergantung kemauan
juga kedalaman kecerdasan
perlu bantuan keuangan
untuk memperluas pengamatan.

(bila hanya sekadar suka
entah cuma akan sampai di mana.)

*GriyaCiptadi.16082014.02:35.-


Situs Planggatan
Situs Planggatan

**aku di Situs Planggatan, Dusun Tambak, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah, Kamis 14 Agustus 2014 jelang tengah hari. (Foto: Pank'Gon mBalela)

SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Kesepuluh)

Written By Madani on Rabu, 13 Agustus 2014 | 16.00

46.

"guyon-guyon parikena"
bergurau tapi (bisa juga) serius
itulah cara bertahannya
ketimbang harus cepat "lampus"

orang yang dianggap lemah
bisa juga mendadak bertindak
bila seperti kuda... "nylenthak"
bila sudah begitu, tak mungkin mengalah

aral penghalang... terjang
gunung tinggi... dilompati
bila ada jurang... terbang
bila tak dimengerti... "mbithi"!

itulah jurus trenggiling
meringkuk pura-pura mati
jangan dianggap kelemahan pasti
itu menunggu kesempatan 'tuk "nempiling".

(orang mengalah senyatanya tidaklah kalah
ia tidak pasrah, melainkan menunggu celah!)

*02082014.15:19.-


47.

menciptakan keterasingan
di tengah keramaian
menjadi ajang kreativitas
yang luas tanpa batas
apa pun risikonya
sungguh membuat bahagia

bisa memainkan teka-teki
kebenaran sendiri
tanpa harus peduli
apa yang sepertinya pasti
mengubah segala yang abu-abu
menjadi putih mutlak tentu

antivirus sudah ada
vitamin juga tersedia
apa lagi yang dicari
kecuali...
kebenaran itu sendiri
itulah yang hakiki.

(Semar asli Jawa tetap saja hadir
di tengah tokoh asing yang membanjir!)

*03082014.20:39.-


48.

bila tidak tahu
jangan ikut-ikutan
itu "taklid" buta tentu
cenderung jadi kesalahan

tentu saja tahu
beda dari "sok tau"
masalahnya tentu
ada bahaya karena tahu

kita menjadi berbeda
itu mengundang curiga
kita dianggap tidak umum
segala alasan tak dimaklum

jadi, ingat kata Belanda tak awas
bahwasanya diam itu emas
tapi, mungkinkah kita dapat diam
dan ada ketakadilan tetap bungkam?

(itulah kewajaran hidup ini
"ewuh aya ing pambudi"!)

*04082014.09:06.-


49.

sungguh, duka ini
tak pernah terpahami
apalagi kegagalan ini
tak pernah dimengerti

betapa kita petik bintang
yang tidak mesti cemerlang
ada pengalaman
dari kegagalan

sekarang, pada masa tua
betapa terasa itu berguna
untuk menganalisis
agar hilang segala miris

takdir tak percuma
tak diciptakan sia-sia
itu pelajaran semua
bagi yang masih percaya.

*SJL.09082014.09:36.-


50.

waras atau gila
apa bedanya
bila waktu
mengharuskan begitu

menjadi orang jujur
malah diri hancur
gigit jari
tak kebagian rezeki

mengambang
dalam udara malam
begitu bimbang
sampai serasa demam

berhasil dan kaya
tidak mesti bahagia
dalam hati merasa sepi
akhirnya bunuh diri.

(dunianya sudah tua ini
yang tidak ikut ngedan
tidak kebagian
kata pujangga dahulu hari!)

*Sukoharjo13082014.22:14.-


SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Kedelapan)

Written By Madani on Kamis, 31 Juli 2014 | 15.53

(ketika letih dan perih)


36.

letih
perih
risiko pilihan
harus berteman

ada perbedaan
menjadi gangguan
itu menjadikan rentan
hubungan dan jalinan

bila sudah rusak
tak bisa lagi semerbak
bau busuk menyeruak
rahasia pun terkuak

yang paling menyedihkan
itu tak lain dari ramalan
yang belum menjadi kejadian
tak mungkin dipertanggungjawabkan!

(bagaimana tak naik pitam
yang matang menjadi dendam?
yang bila sudah demikian jadi kesumat
tak mungkin terlupakan sampai kiamat!)

*30072014.20:12.-


37.

mari nikmati
sunyi ini
kamu punya
dunia maya
aku sepenuhnya
sendirian saja

selalu ada
yang dipertaruhkan
agar setia
pada pilihan
itu risikonya
biarkan demikian

dari dulu
senantiasa begitu
bila rugi melulu
berhenti
dari peduli
biarkan mati.

(mari beri arti baru pada menyerah
terus berusaha tentu tapi pasrah!)

*31072014.10:10.-


38.

bekerja
begitu saja
tidak dihargai
tidak peduli

"njajah desa milang kori"
mencari data mencari bukti
"nggladak" puluhan tahun
belum pasti bisa dipumpun

sampai hari ini
masih tanpa taja
masih dibiayai
... sendiri saja

tentu saja ada teman
memberikan dukungan
ikhlas mengopikan
naskah simpanan

saling menerima
saling memberi
segenap hati
mendukungnya.

*31072014.13:09.-


39.

pernah diadili
karena sesuatu
yang belum terjadi
aku marah tentu

dua kali sudah
tak mungkin
menganggap mudah
itu mencegah ingin

ingin bagian dari hak
terlaksana
masih tanda tanya
bagaimana bisa ditindak?

pencegahan?
ya sudah
kita tak usah berkawan
itu lebih mudah.

(belahan jiwa
susah dapatnya!
cinta itu
tak mesti bersatu!)

*31072014.19:29.-


40.

memandang jauh
rasa tersentuh
betapa bahagia
berada di tanahnya

di sini, komplit
minyak dan hutan
yang kaya, yang terjepit
sama-sama bertahan

apa yang dulu tidak
sekarang sudah bisa
bertahan di sini, aku tidak
aku hanya bisa nelangsa

dulu, aku dapat jual kisah
dari perjalanan tanpa lelah
sekarang, hanya mendesah
segalanya sudah berubah.

(aku sudah menjadi orang kalah
bila ada keajaiban nanti, entahlah!)

*SJL.31072014.20:22.-



**getir

SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Keenam)

(ketika sudah tak tertolong)


25.

tanpamu
duniaku
tak berbunyi
hanya sunyi

sepi itu
bukan tanpa makna
aku bisa membuat apa saja
untuk mengisinya tentu

sepi
sunyi
apapun namanya
tetap saja karunia

tentu saja ada caranya
menerima musibah
sebagai berkah
pertama itu sikap "nrima".

(selanjutnya?
sabar ya!)

*SSOrangKalah25/SJL.25072014.22:51.-


26.

jejak mulai terhapus
sekarang siapa aku
tidak lagi ada yang tahu
tak apa, aku bikin tulus

hidup itu berbuat
berbuat tak semata bekerja
bekerja ikhlas itu nikmat
tak peduli orang tak menghargainya

mungkin hanya aku
mengolah pesimisme
menjadi sesuatu
juga negativisme

itu sungguh karunia
gelap tak lagi gulita
gelap juga cahaya
asal bisa mengatasinya!

*SSOrangKalah26/SJL.26072014.13:34.-


27.

ada yang sudah mati
tak mungkin tumbuh kembali
tak mau terjebak lagi
dalam lingkaran setan "wingi"

kemarin sudah berlalu
hanya meninggalkan pilu
juga segepok rasa malu
karena telah berbuat tolol tentu

sekarang, lurus ke depan
membangun sendiri kerajaan
agar tidak selalu dimanfaatkan
terutama oleh yang mengaku teman

sejarah hanyalah luka
di mana pun negara
oleh warga siapa saja
tapi, 'tuk mawas diri, dia berguna.

*SSOrangKalah27/SJL.27072014.10:24.-


28.

ketika aku percaya
aku terluka
naskah pencarian di tengah rinai
pun terbengkalai

orang lain begitu mudah
aku harus bersusah-payah
aku hanya bercerita
untuk mendalami perkara

dua-tiga kali terjadi
betapa dalam suka hati
di bumi, terpantek harum bunga
masih bi bumi, ada yang lahir dari noda

pada akhirnya
mau tak mau jadi satria pinandhita
agar tidak menjadi raja buta
yang terlalu sok bijaksana.

(belajar dari yang asli, itu berguna
belajar dari "tunggak semi", tetap berguna
bahkan dengan tahi, tanaman tumbuh subur
keangkuhan dan sok suci, pasti akan hancur!)

*SSOrangKalah28/SJL.27072014.20:03.-


29.

haruskah kaki terluka
diamputasi supaya sembuh?
tampaknya suatu ketika
dijalani saja dengan patuh

benang yang ruwet
tak perlu diurai kembali
sudah demikian bulet
lebih gampang dipotongi

bukan soal kejam
atau sampai hati
begitulah kelam
harus diobori.

(itulah lumrah kehidupan
bukanlah suatu kebengisan
bila sudah begitu kepepet
ya harus nyrempet-nyrempet!)

*SSOrangKalah29/SJL.29072014.00:17.-


30.

akhirnya sampai juga
buat apa "ngaya"
siapa yang untung
siapa yang buntung

mentalitas tetap
tak bisa disulap
menggoreng dalam gelap
tetap saja "nggedandap"

hidup jadikan laborat
diri terbiarkan melarat
saat bersusah hati
berjalan juga sendiri

pasang-surut di tangan
tak bisa diserahkan
bisa sudah salah jalan
berputarnya tak "keruan".

(bila sudah begitu
lidah pun kelu
semua susah derita
tanggung sendiri saja!)

*SSOrangKalah30/SJL.29072014.00:32.-


**supermoon

SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Ketujuh)

(ketika harus menahan air mata)


31.

konsentrasi penuh
tak boleh mengeluh
jatuh rugi
ya dilakoni

betapa asyik
mencari "sisik melik"
agar pandangan tak picik
supaya air mata tak menitik

jauh di dalam rimbun hutan
tersimpan banyak catatan
harus diolah agar terpahamkan
tak tenggelam dalam kebisuan

betapa kelok sungai berbicara
air terjun sembunyi di dalamnya
itulah inti kekuatan pertahanannya
yang tak tertembus oleh musuhnya.

(tentu saja ada masalahnya
terpancing keluar begitu saja
tidak bisa menahan amarahnya
musuh begitu "culika"-nya!)

*29072014.07:37.-


32.

semua tindakan
terikat "empan"
dan "papan"
tak bisa "sembarangan"

setiap hari
punya esensi
jangan "digebyah uyah"
nanti ajarannya "bubrah"

apalagi, yang tak mengerti
mengikuti tanpa memahami
itu lebih buta pasti
itulah bila tercampur tradisi

tak apa aku hilang teman
ketika mencoba mengingatkan
hal itu menyedihkan
bila "kepepet" saja dilakukan.

*29072014.11:22.-


33.

kehadiran tak lagi penting
pergaulan tak lagi genting
terpusat pada warisan
apa akan terkesan

prinsip itu utama
pendirian itu berikutnya
tak boleh mengikut arus
itu yang bikin diri tak aus

lestari dalam keutuhan
sikap tanpa perubahan
dari dulu hingga sekarang
tidak akan pernah bimbang

berbeda itu seharusnya
begitu memang takdirnya
walaupun tak terpahami
juga takkan dimengerti.

(tak penting itu pengakuan
hanya membuat dada terkembangkan
bila sudah begitu itu
bahaya lain akan mengancam tentu!)

*29072014.18:23.-


34.

tua bukan penghalang
untuk tetap kreatif
entah positif entah negatif
karya tetap terbilang

dalam gelap
tetap ada derap
jangan heran
banyak yang demikian

Jakarta sudah kota 24 jam
dan tetap bak ibu tiri kejam
banyak tahun aku tugas malam
hari-hari yang justru tidak kelam

dinihari tidur di jalan
di atas melajunya kendaraan
pagi hari masih bisa berkegiatan
bahkan juga melakukan kerja sambilan.

(itulah saat hidup lebih sejahtera
sempat belajar sambil bekerja
juga mengajar pada bidangnya
yang bukanlah keahlian kuli tinta!)

*30072014.00:28.-


35.

cucu datang
hati senang
tapi, letih nungging
kebanyakan cuci piring

tidak ada yang gratis
paling tidak barter-lah
tak perlu lagi "miris"
letakkan cemas, pasrah

ada yang harus diniati
belajar menjadi "kaffah"
membuang "salah kaptah"
meski ada yang sakit hati

entah ke dalam
entah ke luar
tidak mudah paham
susah pakai nalar.

(soalnya ada aturan
tak boleh dipermainkan!)

*SJL.30072014.19:04.-



**perdu ini "wangon", bahan sayur pecel kesayanganku (Foto: Jyoti Nurcahyo)

SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Kedua)

Written By Madani on Selasa, 15 Juli 2014 | 08.27

(ketika tak juga dimengerti)


6.

yang banyak mengerti
disalahpahami
dianggap tidak peka
dinilai memihak sana

siapa yang mengajar fanatik?
apa tak paham kotor politik?
jangan bawa-bawa agama
kata Tuhan, agama itu karunia

tak hanya bagi manusia
melainkan rahmat untuk jagat raya
jangan salah menggunakan ayat
sebelum memahami ilmu alat

ada hukum di atas hukum
ada cahaya di atas cahaya
jangan jadi orang membabibuta
lebih baik mari tersenyum.

*14072014.19:55.-


7.

belahan lahan saja
menampakkan ilmu
jangan bicara
hanya ilmu batu

jangan-jangan kepalamu
memang sekeras batu
tapa tak hanya mengasah hati
bandel juga akan teremas lagi

ketika nafas bergerak ke dada
ada rasa hangat melanda
betapa banyak cara
Tuhan mengajar manusia

cara Tuhan tecermin
dalam asma-Nya
tak usah bertanya
asma' al-husna. amin.

(ayat Tuhan tak hanya tertulis
juga terbentang dan tidak "kalis"
semuanya jelas, "kasat mata"
apakah masih mau diam saja?)

*15072014.07:09.-


8.

tengah hari
mandi
suntikkan semangat
agar tetap giat

meski sudah uzur
tak biarkan diri menganggur
tetap bertekun
menenggak segala racun

agar mampu menjaga
supaya pena tak berkarat
seraya membersihkan jelaga
juga mencuci getir karena melarat

tidak juga hibur diri
dengan penyataan kosong
mesti kaki terluka jutaan duri
tetap memiliki selaksa daya dorong.

(turun ke jurang naik ke gunung
mencari riang dalam termenung!)

*15072014.12:33.-


9.

apa lagi yang harus digelisahkan
sebentar lagi mati dan dikuburkan
hanya ingin membuat sekadar warisan
agar cucu-cicit tak mengulang kesalahan

salah itu sakit
keliru itu pahit
dihujat itu "nylekit"
ayo, lekas dicukit

padahal, salah itu beralasan
keliru itu proses
siapa yang mau dengar alasan
siapa yang mau mengakui ekses

diajar harus begini
dididik wajib begitu
akhirnya tak berani
menjelajah waktu.

(aku ada, jadi aku berontak
bila tiada, aku tergeletak!
berjuang saja, sampai mati
mengasah jiwa, memperkukuh nurani!)

*15072014.15:34.-


10.

tak bisa hanya menunggu
gerakkan tangan, meramu
mungkin hanya mangga
dicampur cincau dan santan biasa

itu akan menjadi istimewa
bila memasaknya dengan cinta
tajam pisau menghilangkan galau
tak lagi menggigau, apalagi pikiran kacau

lada memang pedas
melatih lidah jadi tangkas
santan lembut gurih
melambangkan welas asih

tapi, sungguh, tak terbiasa
bicara yang baik-baik saja
berjuang itu penuh kerikil
pastilah "keri nang sikil".

(harus tangkas melawan gelap
agar hidup tak tergagap-gagap!)

*SJL.15072014.15:58.-



**Gunung Batur

SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Pertama)

Written By Madani on Minggu, 13 Juli 2014 | 21.26

(Ketika tak dianggap)


1.

khusyuk malam
di bawah pohon mempelam
kejatuhan sebiji
pusing sekali

hidup bukan kebetulan
ada yang menulis lakonnya
tak mungkin hanya kepasrahan
kita harus memperjuangkannya

aku masih seperti dulu
seperti loyo, jelek, dan bau
meski rambut belum botak
tetap hidup karena berontak

rambutku telah memutih
tidaklah seperti hatiku
curiga masih memalu-malu
sampai dendamku pulih.

*13072014.01:05.-


2.

berada di sini lain
betapa terasingkan
di tengah ketakberdayaan
bertahan, apakah mungkin?

betapa pun lemah
tangan harus "krembyah"
katanya manusia dicoba
sesuai dengan mampunya

di situlah, letak sabar
jadi, bertahan, jangan bubar
di situ juga, letak tabah
meski dianggap sampah

apakah zaman telah berubah?
apakah aturan telah "bubrah"?
apakah tak mungkin "hijrah"?
agar semuanya menjadi berkah?

("anjrah" itu semerbak meliputi
tidak sekadar menyurut-pasangkan hati!)

*13072014.11:26.-


3.

di sisi itu
tak hanya sunyi
juga ada derap
penuh gegap
tak ada yang peduli
tak perlu mengasihani diri

berjuang saja
bergerak saja
jangan mengemis
jangan menepis
terima saja
apa adanya

sehat sakit suka duka
hanya variasi hidup belaka!

(harga dirimu
terletak pada ikhtiarmu
mempertahankan itu
kadang tak menyumbat laparmu!)

*14072014.01:17.-


4.

kapan selesai?
selalu ramai!
tidak penting
bergunjing

ada ancaman
di balik penasaran
lebih baik berbuat
tanpa mengikat

langit terban
bumi retak
cangkul diayunkan
biji diserak

jelas berguna
bagi manusia
bagi fauna
bagi flora.

(tak apa tanah sejengkal
mengguncang pikir
mengundang akal
yang penting tak kuatir!)

*14072014.01:47.-


5.

sepatu baru
jins baru
kurang pas ya?
gunting saja!

menutup sepi
menggantung sunyi
menyulut api
mempertahankan diri

tak peduli apa kata orang
yang penting diri tetap girang
terlalu banyak tekanan
dihadapi, tak dilupakan

ketika gawang menganga
langsung pelintirkan bola
tidak perlu tenggang rasa
kesempatan tak ada dua.

*SJL.14072014.02:12.-




SAJAK-SAJAK “PENGKHIANAT” (Bagian Kesepuluh)

Written By Madani on Kamis, 10 Juli 2014 | 12.29

(ketika letih sekali)


51.

letih sekali
ada beban
dalam hati
kelewatan

kaum buas
sudah bebas
tunawisma
harus berjaya

betapa penting
rasa curiga
untuk menggunting
segala "rubeda"

"Tuan Hijau"
tebaskan pedang
tanpa rasa bimbang
orang lain kacau.

(apa mudah
memahami pengecualian
apa tidak malah
tercekam kegilaan!)

*07072014.21:47.-


52.

internet tak cepat
batin pun melarat
pikiran tak cemerlang
nurani lantas bimbang

ada yang berubah
dari sekadar pasrah
timbullah gairah
asal masih lumrah

itu hukum dunia modern
yang tak kenal "pileren"
semua tersemangati
sebelum tersedak, dan... mati!

aku "wong jaman wingi"
tak termakan teknologi
memang memakai
tapi pasti tak terpakai.

*08072014.02:47.-


53.

ada teka-teki
saat ngantuk
ada api abadi
tanpa bentuk
bila tak terkuasai
akan mengamuk

tersembunyi
dalam diri
tenggelam
melempam
dalam patuh
berontak saat tersentuh

ada bagian peka
sangat perasa
bebas bahkan terbuka
justru bagian berbahaya
seakan api siap menyala
di bawah gunung bak Rahwana.

(tetap saja tak terkendali
betapa pun sadar diri!)

*08072014.18:17.-


54.

ketika tak berdaya
tak mungkin meminta
terlalu banyak sudah
lebih baik pasrah

tak mungkin kesulitan
diubah jadi kebahagiaan
diterima saja apa adanya
itulah sebenar-benar karunia

ada yang lebih mampu
ada yang lebih sabar
kepada yakin bertumpu
apa yang dilakoni sudah benar

biarkan anjing menggonggong
kafilah akan tetap berlalu
tiada maksud untuk bersombong
sesungguhnya hanya malu.

(ada juga takut pamer
juga keteguhan melumer!)

*08072014.20:13.-


55.

sejarah belum selesai ditulis
masih banyak yang "kalis"
apakah akan dibiarkan
perampok pegang kekuasaan?

alasannya perdagangan bebas
tujuan sebenarnya merampas
bantuan militer ditukar emas
semakin lama kian "gragas"

cucu kita dapat apa?
bekas lubang tambang menganga?
cicit kita hanya bisa merana
kebanjiran dan penyakitan semata

cobalah berpikir kembali
harimau meninggalkan belang
masa manusia meninggalkan utang
cobalah bertanya lagi ke dalam nurani.

*TelukAngsan08072014.20:13.-


**hanging on

SAJAK-SAJAK “MENUJU TENTRAM” (Bagian Keempat)

Written By Madani on Rabu, 09 Juli 2014 | 07.50

(ketika harus menerima apa adanya)


16.

siapa diriku
sudah tak lagi penting
yang penting
dinihari tak membeku

ada rentak
pada gerak
hati sunyi
teberkahi

apa pun alasannya
kian bisa menerima
rugi tak apa-apa
miskin sudah biasa

hati yang luas
hati yang bebas
tanpa isi
pun abadi.

(apa yang dibawa
ketika mati?
bahkan tak peduli
apakah amal ada!)

*02062014.03:19.-


17.

aku pasti tidak
mengikuti arah angin
di dunia kehendak
aku menciptakan angin

segala yang datang
harus ikut "bilang"
ini "tanah biang"
harus buka belang

ada aturan baku
yang selalu "digugu"
di Tanah Jawi
semua harus "ngugemi"

kecuali satu
yang tetap satu
agama Adam
yang hidup tentram.

(membajak sawah
"kanggo sak gotrah"
mengikuti isi hati
tak akan pernah iri.)

*04062014.08:18.-


18.

akhirnya
aku jatuh
bersimpuh
tanpa daya

sudah terlambat
untuk bersemangat
sedikit saja nekat
syarat sudah tersumbat

duarrrrrr
terkapar
melawan letih
jalan tertatih

minum air hangat
agar tak kiamat
tetap tak pulih
tetap tak tersulih

sudah waktunya
diterima saja
menyerah
kepada takdir Allah.

*04062014.18:15.-


19.

di puncak, dingin
di dada, hangat
betapa pun ingin
dikekang erat-erat

ada yang menempelak
jadi, aku berubah telak
tapi, merasa kalah
benar-benar kalah

mencari lagi
tak lagi isi
hanya sekadar obat luka
dari biasa mengumbar curiga

aku ini entah apa
hanya mantan manusia
jadi anak hidup susah
jadi ayah lebih susah.

(bagai laut dalam
tak ada yang paham
bak jarum dalam jerami
tak akan pernah dimengerti.)

*07062014.00:52.-


20.

apa pun karunia
sedikit atau banyak
diterima saja
tanpa protes, apalagi teriak

sudah pasti ada
mau apa lagi
tokh mengalirnya
boleh dikata tanpa henti

bila cuma sedikit
masa memang sulit
tak sampai lidah tergigit
meski masih terasa pahit

selalu ada keseimbangan
antara menggigil kedinginan
dan merasakan kehangatan
kenapa harus tak berkenan.

(diterima saja
dengan lapang dada
legawa saja
dengan ketulusan jiwa.)

*TelukAngsan09072014.17:19.-




SAJAK-SAJAK “PENGKHIANAT” (Bagian Kesepuluh)

Written By Madani on Selasa, 08 Juli 2014 | 08.04

(ketika rasa mengosong)


46.

melihat
tapi tak terpikat
merenung
tapi tak tercenung

sunyata
kosong tapi nyata
melumer
tapi tidak pamer

berhenti
tapi wanti-wanti
mengawas
penuh rasa mawas

berpikir
dalam energi mengalir
bekerja
tanpa perlu jeda.

(puji Tuhan
yang selalu memanjakan
usaha membukakan
yang senantiasa dirahasiakan.)

*05072014.22:20.-


47.

tak ada lagi
tempat sembunyi
semuanya terbuka
harus ke mana?

sembunyi hakiki
ada dalam nurani
yang begitu pasrah
tanpa bisa digoyah

tenang dalam ramai
tenang dalam damai
di atas arus sungai
bahkan hujan rinai

lupakan perang
lupakan garang
tanpa teriak
tetap berontak.

*06072014.01:06.-


48.

tahu diri
itu tepatnya
tak mampu lagi
itu alasannya

siapa bisa
terima apa adanya
bocah renta
bau tanah pula

semuanya
serba rahmat
dipikirnya
serba cermat

tapi, siapa tahu
apa yang kanterjadi
semuanya teka-teki
sebelum berlalu.

*06072014.13:56.-


49.

tak berdaya
kecuali nelangsa
tanpa persiapan
hanya perasaan

masih "wong ndesa"
tapi hidup di kota
ingin jujur menulis
tapi dianggap pengemis

terpaksa belajar diam
kebebasan pun terbungkam
apa ukurannya
apa batasannya

perbedaan itu biasa
masalahnya hanya pentas
pasti meninggalkan bekas
kebebasan pun terpaksa sirna.

*06072014.15:58.-


50.

gerimis
menepis
tangis
habis

menderas
melibas
aku tertebas
impas

terkapar
tanpa alas
terkelupas
bubar.

(tak ada pesta
yang tak berakhir
ikhlaskan saja
biar tak kuatir!)

*TelukAngsan06072014.17:17.-

SAJAK-SAJAK “PENGKHIANAT” (Bagian Kedelapan)

Written By Madani on Jumat, 27 Juni 2014 | 18.09

(saat jatuh terduduk dengan keras)


36.

ketika jatuh
kita telanjang
hanya peluh
tanpa bayang

jadi, aku hentikan
semua ikatan
bila aku bertahan
itu karena kemauan

aku sekarang tentu
bukan aku yang dulu
masa lalu itu suram
hanya bayang seram

betapa aku dulu  bodoh
tidak tahu nilai ekonomi
sekarang, aku tak bodoh
jangan peras aku lagi.

*25062014.15:36.-


37.

hujan senja
menentramkan
bau tanah
terasa mewah
menggetarkan
orang renta

masih adakah
penggandeng tangan
tersenyum manis
bergincu merah
penuh keikhlasan
menyeka tangis?

aku ada
aku berontak
berganti nada
tak lagi beriak
pohon hilang daun
membuat tertegun.

(ini dadaku
mana dadamu
kita pancarkan kasih
yang welas asih.)

*25062014.17:18.-


38.

malam
mencekam
mimpi buruk
nasib buruk

bisa apa
dapat apa
selain terima
pasrah saja

sudah letih
berkubang sedih
tanpa harap
dalam senyap

setitik nyala
dalam jumawa
alah bisa
karena biasa.

*26062014.01:44.-


39.

pagi
redup
melati
menguncup

wangi
membaur
pilihan ini
jadi ngawur

tetapi
itulah hak
menggenapi
kebebasan pihak

mau apa lagi
itu demokrasi
ada batas tepi
bebas yang terkunci.

*26062014.07:07.-


40.

pernah punya
tetap tidak memiliki
bayangannya saja
tak terinjak kaki

belajar masak
tak perlu teriak
menyulam kutang
tertawa riang

hati pedih
biar di balik tirai
di dalam seringai
ada kedalaman kasih

masih bertanya-tanya
betapa luas takdir-Nya
tak hanya dipisahkan jauh
tapi juga hati tak tersentuh.

(di dalam busur waktu
ada pendalaman
pada tiang batu
ada ketenggelaman.)

*TelukAngsan26062014.08:41.-



**suguhan Trump

SAJAK-SAJAK “MAWAS DIRI” (Bagian Ketujuh)

Written By Madani on Rabu, 25 Juni 2014 | 06.53

(ketika terjebak rasa bimbang)


31.

kembali ke kandang
setelah riset lintas bidang
harus segera menulis
ingatan sudah mulai kalis

ada pola ada aturan
ada rencana ada pegangan
jangan menuntut seperti sekolah
ini tak selalu menurut teori ilmiah

ada yang tak tertembus
oleh aturan yang serba baku
ada pula yang tertambus
hukum yang sepertinya baku

apa tahu apa itu "mulur mungkret"
apa pula itu "manjir ajur ajer"
menjadikan lancar semua yang "seret"
menjadikan pekat semua yang "encer".

*29052014.11:55.-


32.

melanjutkan perjalanan
menikmati pemandangan
menyulam keakraban
melupakan kenangan

naik ke gunung
turun dari bukit
mengobati linglung
menyempurnakan sakit

ada yang tak bisa dibeli
ada yang tak bisa dijual
selama masih bisa komunikasi
tidak akan pernah menjadi soal

masih mempraktikkan
terbuka tapi tak terbaca
sebenarnya tak ada yang tertutup
selama Sang Hyang Bagaskara belum "angslup".

*29052014.12:50.-


33.

aku hanya orang lewat
yang bertindakpencatat
bukan tugasku berilmiah-ilmiah
serta menerapkan kebiasaan sekolah

kukumpulkan catatan
dari ribuan perjalanan
sebagai pelajaran
bagi yang membutuhkan

ada dalil pokok yang kupatuhi
itu logika hati nurani
tempat benar terepresentasi
apa masih tak mau mengerti?

kamu pikir cuma
kamu yang bisa
tugasku memilah
agar tak salah.

(kamu pikir cuma kamu yang sekolah?
tak terbayangkan olehmu katak lompat
yang menggunakan deret ukur pesat
cobalah hormati orang yang merendah!)

*29052014.22:10.-


34.

seperti biasa
duniaku kosong
hanya ada nelangsa
yang menjadi: nong

apakah akan merebak
menjadi ning
tidak berani menebak
semuanya masih jauh dari bening

entah apa hakikat tulang
entah apa pula hakiki sendi
tulang memerlukan otot yang meregang
sendi membutuhkan daging membalut rapi

kita tidak bisa menyisihkan satu unsur
lalu seenaknya saja bicara ngawur
betapa Tuhan telah mengajarkan
manusia itu harmoni semua bahan.

(entah jadi apa makrifat tanpa syariat
masih mending 'kali syariat tanpa makrifat!)

*30052014.07:33.-


35.

kulawan arus
agar jiwa tak hangus
kuatur dengus
agar tak cepat mampus

aku tak temaha usia
secukupnya saja
cukup menghaluskan kening
agar netra sukma membening

bisa melihat lebih awas
memanfaatkan segala desah nafas
agar masih bisa memawas
mampu diri yang terbatas

belum lagi ada jarak
pemahaman memihak
dari yang sok tahu
padahal...belum tentu.

*TelukAngsan25062014.11:22.-


SAJAK-SAJAK “PENGKHIANAT” (Bagian Ketujuh)

Written By Madani on Jumat, 20 Juni 2014 | 21.00

(ketika kian linglung oleh kemiskinan)


31.

entah akan jadi apa
ini bumi manusia
ada yang pandai bicara
ada yang pintar bekerja

aku sih cuma ingin masak
bila gosong tertawa terbahak
jika roda tank bergerak
siapa yang tak cepat bergerak?

menyelamatkan diri
tak peduli dengan lari
entah ke mana harga diri
terpelintir menjadi duri?

aku hanya ingin mengolah sawah
menunggu pesta panen meriah
ada yang tersimpan sudah bungah
entah bila padi melimpah ruah.

(euforia itu telah membenamkanku
dalam hiruk-pikuk luka masa lalu
aku masih saja merasa ngeri
kebanyakan tak tahu apa yang terjadi.)

*15062014.22:27.-


32.

kenapa tawa itu
menghunjam telingaku
apa karena masa lalu
saat kugadaikan diriku?

jangan sudah berubah
orang mudah marah
bicara seperti muntah
"badhege ora kaprah"!

ghibah?
entahlah!
"nanggapi wegah"
biarkan sajalah

menyelamatkan diri
sendiri-sendiri
dari bunuh diri
tertusuk... nyeri!

*17062014.17:41.-


33.

keletihan
menghentikan
membungkam
melempam

kuncinya?
istirahat
bukan semangat
susah memahaminya?

usia mengubah semua
umur membuat hancur
jadi, harus bijaksana
ketika sudah uzur.

(segala sesuatu
ada dalam kerangka waktu
selain ada lingkungan
yang lebih jadi pembatasan!)

*19062014.21:41.-


34.

apa pun caraku
dianggap salah
hidup tetap berlalu
kenapa gundah?

menapak sendiri
menginjak duri
meski nyeri
buat apa peduli?

hidup tak hanya dilakoni
tetapi juga dipahami
disusun menjadi ilmu
agar tak jadikan jemu

itu namanya berguna
menjadi ras manusia
hidup tak sekadar
melainkan bernalar.

*21062014.01:48.-


35.

ingin cepat
malah melambat
kacau balau
terpukau

tak belajar tak sakau
dari burung bangau
pura-pura mati benar
agar perut tak lapar

selalu ada cara
untuk bertahan
dalam kehidupan
yang membara

bermain api letup
bermain air basah
menyiram agar menguncup
tidak menegakkan benang basah.

*TelukAngsan21062014.02:01.-

SAJAK-SAJAK “PENGKHIANAT” (Bagian Kelima)

Written By Madani on Jumat, 13 Juni 2014 | 15.11

(ketika terkenang masa lalu jauh)



21.

makin tua
kian bertanya
siapa diri ini
apa betul mumpuni?

hanya jejak
tanpa nilai nyata
sendirian saja
tanpa para pihak

apakah layak
menjadi tempat
membaca isyarat
benar terletak?

sendiri
itu nyeri
bersama
tapi tidak bersama.

(tinggal tangis
tanpa tangkis
sesekali berbangkis
sebelum meringis.}

*11062014.14:27.-


22.

dalam lingkaran
apalagi bundaran
selalu ada yang kosong
apa akan dibiarkan melompong?

sebagai manusia
kita harus mengisinya
agar bukan tidak seimbang
dan membuat... orangnya jalang

entahlah bila berkhianat
bahkan ingin jadi laknat
melesat sendiri
apa tidak rugi?

di dalam sendiri
ada sunyi
juga duri
yang menusuk-nusuk diri.

*11062014.16:38.-


23.

sampai lupa
ini hari apa
sudah kepala enam
mataharinya sudah tenggelam

apa masih berguna
entahlah juga
beda kepentingan
beda landasan

bergerak bebas
kendali lepas
tak lagi dibatasi
sekadar makan apalagi

tubuh terlatih
melawan sedih
menerima pedih
jalan pun tertatih.

(apa aku
masih layak bagimu?)

*13062014.10:52.-


24.

aku hanya ingin menepi
berhangatkan sepi
sudah habis aku punya ambisi
termakan orang yang tak mau berbagi

ambillah dunia itu
semaumu
akan aku
bikin dunia baru

aku masih punya lain bakat
meski kini aku sudah tak sehat
hidup memang tirakat
sebagai bekal menuju akhirat

mungkin jalanku beda
harus mengolah sejuta
derita, sakit, dan nestapa
mungkin di situ, aku punya surga.

(di tanah meriah perlawanan
aku menunggu pengampunan
mencari jalanku sendiri
mencari jejak rusa kesturi!)

*13062014.15:43.-


25.

hanya darah
yang mengalir
di tubuh ini
juga mudah marah
gampang getir
merajai

itulah sisa
perlawanan lama
dari kedalaman jiwa
yang terluka
oleh tamak kuasa
jadi binatang melata

kami merambat
menekan hasrat
seolah-olah khianat
terhadap nikmat
karunia rahmat
kaum malaikat.

(dalam "sesinglon"
tak lagi "guyon"
terpaksa "mbunglon"
menghindari "takon"
jauh di dalam... "ciblon"
kesturi minyak telon.)

*TelukAngsan13062014.18:49.-


**"Makam Santri Sanga?
Suka

SAJAK-SAJAK “PENGKHIANAT” (Bagian Keempat)

Written By Madani on Kamis, 12 Juni 2014 | 09.53

(ketika sakit menimpa)


16.

hanya "kemresek" pendingin
jari tangan tanpa aksara
kian terlibat sunyata
pikiran hilang ingin

benar-benar kosong
apa akan menjadi gosong?

apa mau dikata
diri telah lelah
tak bisa lagi memakna
hanya tambah gelisah

inikah tanda
kemampuan terbatas
biarkan saja
tokh mata kian awas

ada yang mendapat
ada yang didapat
tanpa harus mencari
siapa yang memberi.

*08062014.01:59-02:28.-


17.

sekali nonpartisan
tetap nonpartisan
itulah sikapnya
itulah takdirnya

dari dulu
waktu bayi di Blora
selalu begitu
jelas tertera

pilihan selalu ada
itu rahasia
melihat yang berlaga
saling mencela

apakah itu dewasa
mau dibawa ke mana
ini negara dan bangsa
menuju porak poranda?

(harapannya
cepat lepas landas
ekonomi tetap di jalannya
meski politik memanas!)

*08062014.07:05.-


18.

kenangan
terbangkitkan
sang nelayan
dalam kegelisahan

mencari kerang
tak lagi laku
jadi gamang
bertopang dagu

apa harus selalu
menangkap bandeng
jadi "wong gendheng"?
tidaklah begitu

seharusnya seimbang
antara gelap dan terang
betapa indah melihat kakekku
tersenyum cerah mengisap cerutu.

(meski hanya nelayan
hidup berkecukupan!
selama berbahagia di tempatmu
lupakan saja perjuangan berat cucumu!)

*i08062014.07:18.-


19.

pikiran kacau
untung, mulut tidak meracau
diterima saja?
karena memang sudah renta?

mungkin terlalu letih
mungkin karena hati pedih
ada yang gagal diperjuangkan
ada yang hanya bisa diangan-angankan

berusaha tetap bahagia
tetapi itu hanya pura-pura
tak pernah sekata seia
terlalu banyak mengalah jua

ada beban
yang tak tertahankan
tak bisa dilupakan
karena neraka diancamkan.

(haruskah berpaling
agar diri jadi puing
atau bunuh diri saja
mengakhiri semuanya?)

*Margatani09062014.11:35.-


20.

malam ini
aku mencapai
cahaya biru
apakah ini
cermin capai
tak peduli tentu

bagi orang renta
hidup ikhlas saja
bila ikatan
sudah menjadi beban
sebaiknya bebaskan diri
mencari jalan sendiri

aturan dibuat
untuk bikin tentram
bukan untuk mencengkeram
itu pikiran sehat
entah bila sudah gila
dan mabuk taat belaka.

*TelukAngsan10062014.23:29.-

SAJAK-SAJAK “PENGKHIANAT” (Bagian Ketiga)

Written By Madani on Jumat, 06 Juni 2014 | 11.01

(ketika kian letih)


11.

letih
terpanggang matahari
pedih perih
kaki meniti hari

andaikan kamu ada
sekadar membaca tanda
dua kosong dua tiga
akankah terlewati sempurna?

kita tak tahu
bagaimana masa depan berlalu
kita hanya menebak-nebak
sebelum terkena kanker otak

masalah saja dijual
apa lagi diri... diobral
semua sudah di luar nalar
apakah masih akan terkejar?

*04062014.13:43.-


12.

masih letih
tapi terbangun
masih sedih
tapi ingin ada yang di..."sun"

apa tua renta
masih layak
punya cinta?
mari terbahak

apa orang miskin
masih layak dibatin?
mampu apa ia?
bisa apa ia?

apa bisa
hidup tanpa boga?
apa bisa
hidup hanya dengan cinta?

(apa cintamu
sedalam itu
rela kelaparan
tanpa asupan?)

*05062014.00:09.-


13.

siapa aku
siapa kamu
takdirku
nasibmu

memaksa kita
menaklukkan duka

tentang aku
hanyalah kutu
terselip di antara buku
menimbang-nimbang mutu

memaksa aku
menjadi hantu

aku mengada
tidak perlu ada
dalam persembunyian
memperhalus pemahaman

tersedak sunyata
terhindar dari buta!

*05062014.08:19.-


14.

malam beriak
ada rasa muak
bicara memang enak
menjalaninya "mberantak"

ayo, jenguk diri
mawas diri
bersendiri
apa terasa tertusuk duri?

kita ini apa?
apa masih manusia?
sebenarnya kritis itu
beda dari ceriwis tentu

terlalu curiga
rasa tak terjaga
harus tahu kapan
juga... "empan".

("kabèh samubarangé
ånå empan lan papané".)

*06062014.02:23.-


15.

aku manusia biasa
yang pernah jatuh bahkan
tapi bangun lagi, menatap ke depan
agar tak hidup nelangsa

aku diajari bertapa
bukan untuk melihat masa depan
agar selalu menunduk, tak jumawa
bagiku, padi itu sumber kehidupan

aku diajari curiga
hanya untuk belajar dengan ketat
apa itu makna hakikat
bukan untuk bergagah-gagah belaka

manusia dikhasi pikirannya
bila tak berpikir, ia tak ada
rasa hanyalah penjaga keseimbangan
pikiran untuk melahirkan terobosan!

(bila tak sampai, tak usah mengerti
bikin ramai, lebih baik berdiam diri!)

*TelukAngsan06062014.17:19.-



Translate

Selamat Datang di Sanggar Jangka Langit

JANGKA LANGIT

Pengikut

Popular post

 
Support : Creating Website | Jangka-Langit | Martin
Copyright © 2013. JANGKA LANGIT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jangka-Langit
Proudly powered by Jangka-Langit