Latest Post
Tampilkan postingan dengan label rehal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rehal. Tampilkan semua postingan
08.33
Sedikit mengenai Syaikh Ja’far Al-Barzanji
Written By Unknown on Rabu, 06 November 2013 | 08.33
Sedikit mengenai Syaikh Ja’far Al-Barzanji
YANG PALING POPULER dari beragam buku maulid Baginda Nabi Muhammad shålållåhu ‘alayhi wa al-salam (s.a.w.) di Indonesia ialah Al-Barzanji. Di banyak tempat, kitab maulid yang berjudul asli Al-‘Iqd al-Jawahir (Untaian Permata) ini telah menjadi bagian dari ritual baku tarekat Qådiriyah. Demikian hasil riset sejarahwan asal Belanda Martin van Bruinessen, yang bersumberkan penelitian Guru Besar Near East School of Theosophy di Beirut, Libanon, J. Spencer Trimingham.[1]
Meski menurut Trimingham, maulid tidaklah benar-benar diterima secara universal ke dalam praktik keagamaan populer, Martin van Bruinessen menekankan bahwa Maulid Barzinji sampai sekarang merupakan teks keagamaan tentang perayaan Maulid Nabi s.a.w. yang dikenal secara luas. Di Indonesia, banyak edisi berbeda-beda muncul dari kitab ini. Juga komentar dan terjemahannya, baik dalam bahasa Jåwå maupun Indonesia.[2]
Paling tidak ada enam adaptasi karya ini di Indonesia,yakni
· Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi al-Bantani (Banten), Madarij al-Su’ud Ila Iktisah al-Buruj, berbahasa Arab, berbagai terbitan;
· Abu Ahmad ‘Abd al-Hamid al-Qandali (Kendal), Sabil al-Munji, berbahasa Jåwå, penerbit Menara, Kudus;
· Ahmad Subki Masyhadi (Pekalongan), Nur al-Lail al-Duji wa Miftah Bab al-Yasar, berbahasa Jåwå, penerbit Hasan Al-‘Attas, Pekalongan;
· Asråri Ahmad (Wonosari, Tempuran), Munyah al-Martaji Fi Tarjamah Maulid al-Barzanji, berbahasa Jåwå, penerbit Menara, Kudus;
· Mundzir Nadzir, Al-Qåul al-Munji ‘Ala Ma’ani al-Barzanji, berbahasa Jåwå, penerbit Sa’ad bin Nashir bin Nabhan, Suråbåyå; dan
· M. Mizan Asråri Zain Muhammad (Sidåwayah, Rembang), Badr al-Daji Fi Tarjamah Maulid al-Barzanji, berbahasa Indonesia, Karya Utama, Suråbåyå.
Siapakah orang yang menulis Maulid Barzinji atau Al-‘Iqd al-Jawahir ini? Menurut Dr. Azyumardi Azrå, ia anggota keluarga Barzanji yang terkemuka setelah sufi anti-mahdisme Muhammad Al-Barzanji, yakni Syaikh Ja’far bin Hasan bin ‘Abd al-Karim al-Barzanji (h. 1103--1180 H/1690--1766 M), yang ialah mufti Syafi’iyyah di kota Madinah.[3]Angka tahun wafat sufi kelahiran Kota Nabi yang ditulis Dr. Azrå ini berbeda dari versi Martin van Bruinessen, yakni 1764 M.[4]
Masih sebagai persembahan untuk Nabi s.a.w., Syaikh Ja’farAl-Barzanji juga menulis Qishshåh al-Mi’råj, yang tidak dikenal luas di Indonesia. Karyanya yang lain ialah Manaqib Sayyid al-Syuhada Hamzah, wali zaman pertengahan yang syahid pada tahun 624 H/1225 M. Karya ini hanya dikenal sebagian orang di Nusantara. Yang unik, manaqib ini dijadikan rujukan sebagai sumber otoritatif fatwa ulama tarekat di Jåwå tentang masalah apakah peringatan hari kematian wali merupakan bid’ah atau tidak.[5]
Manaqib Syaikh ‘Abd Al-Qadir
KARYANYA YANG benar-benar populer ialah hagiografi Syaikh ‘Abd al-Qådir, Lujain al-Dani fi Manaqib ‘Abd al-Qådir al-Jilani, kitab yang bahkan mampu menembus berbagai sudut yang paling jauh di Nusantara. Pembacaan manaqib ‘Abd al-Qådir dengan tujuan menolak bala, memohon perlindungan, mengusir setan, atau semata-mata sebagai tindakan pemujaan sudah lama tersebarluas dan menjadi praktik yang umum dilakukan di Indonesia. Peringatan hari kematian sang wali, pada tanggal 11 Råbi’ al-Akhir, telah dan masih diperingati di banyak tempat dengan acara pembacaan manaqibnya. Di tempat tertentu, acara ini bahkan dilakukan pada setiap tanggal 11 pada setiap bulan Qåmariyah.[6]
Ada banyak versi manaqib ini, baik dalam bahasa Aråb, Jåwå, Sunda, maupun Indonesia. Setengahabad lalu, Dr. G.W.J. Drewes dan R.Ng. Poerbåtjaråkå menerbitkan studi perihal manaqib berbahasa Jåwå, yang didasarkan atas karya Yafi’i, Khulashåh al-Mafakhir. Namun, menurut penelitian Martin van Bruinessen, hampir semua manaqib yang dipakai sekarang didasarkan pada Lujain Al-Dani Ja’far al-Barzanji. Manaqib lain yang juga dirujuk, Tafrih al-Khathir, diterjemahkan oleh orang Kurdi, ‘Abd Al-Qådir bin Muhyi al-Din al-Arbili, dari karya asli Muhammad Shådiq al-Qadiri dalam bahasa Persia.[7]
(Gus Moen)
Catatan kaki oleh Gus Moen:
YANG PALING POPULER dari beragam buku maulid Baginda Nabi Muhammad shålållåhu ‘alayhi wa al-salam (s.a.w.) di Indonesia ialah Al-Barzanji. Di banyak tempat, kitab maulid yang berjudul asli Al-‘Iqd al-Jawahir (Untaian Permata) ini telah menjadi bagian dari ritual baku tarekat Qådiriyah. Demikian hasil riset sejarahwan asal Belanda Martin van Bruinessen, yang bersumberkan penelitian Guru Besar Near East School of Theosophy di Beirut, Libanon, J. Spencer Trimingham.[1]
Meski menurut Trimingham, maulid tidaklah benar-benar diterima secara universal ke dalam praktik keagamaan populer, Martin van Bruinessen menekankan bahwa Maulid Barzinji sampai sekarang merupakan teks keagamaan tentang perayaan Maulid Nabi s.a.w. yang dikenal secara luas. Di Indonesia, banyak edisi berbeda-beda muncul dari kitab ini. Juga komentar dan terjemahannya, baik dalam bahasa Jåwå maupun Indonesia.[2]
Paling tidak ada enam adaptasi karya ini di Indonesia,yakni
· Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi al-Bantani (Banten), Madarij al-Su’ud Ila Iktisah al-Buruj, berbahasa Arab, berbagai terbitan;
· Abu Ahmad ‘Abd al-Hamid al-Qandali (Kendal), Sabil al-Munji, berbahasa Jåwå, penerbit Menara, Kudus;
· Ahmad Subki Masyhadi (Pekalongan), Nur al-Lail al-Duji wa Miftah Bab al-Yasar, berbahasa Jåwå, penerbit Hasan Al-‘Attas, Pekalongan;
· Asråri Ahmad (Wonosari, Tempuran), Munyah al-Martaji Fi Tarjamah Maulid al-Barzanji, berbahasa Jåwå, penerbit Menara, Kudus;
· Mundzir Nadzir, Al-Qåul al-Munji ‘Ala Ma’ani al-Barzanji, berbahasa Jåwå, penerbit Sa’ad bin Nashir bin Nabhan, Suråbåyå; dan
· M. Mizan Asråri Zain Muhammad (Sidåwayah, Rembang), Badr al-Daji Fi Tarjamah Maulid al-Barzanji, berbahasa Indonesia, Karya Utama, Suråbåyå.
Siapakah orang yang menulis Maulid Barzinji atau Al-‘Iqd al-Jawahir ini? Menurut Dr. Azyumardi Azrå, ia anggota keluarga Barzanji yang terkemuka setelah sufi anti-mahdisme Muhammad Al-Barzanji, yakni Syaikh Ja’far bin Hasan bin ‘Abd al-Karim al-Barzanji (h. 1103--1180 H/1690--1766 M), yang ialah mufti Syafi’iyyah di kota Madinah.[3]Angka tahun wafat sufi kelahiran Kota Nabi yang ditulis Dr. Azrå ini berbeda dari versi Martin van Bruinessen, yakni 1764 M.[4]
Masih sebagai persembahan untuk Nabi s.a.w., Syaikh Ja’farAl-Barzanji juga menulis Qishshåh al-Mi’råj, yang tidak dikenal luas di Indonesia. Karyanya yang lain ialah Manaqib Sayyid al-Syuhada Hamzah, wali zaman pertengahan yang syahid pada tahun 624 H/1225 M. Karya ini hanya dikenal sebagian orang di Nusantara. Yang unik, manaqib ini dijadikan rujukan sebagai sumber otoritatif fatwa ulama tarekat di Jåwå tentang masalah apakah peringatan hari kematian wali merupakan bid’ah atau tidak.[5]
Manaqib Syaikh ‘Abd Al-Qadir
KARYANYA YANG benar-benar populer ialah hagiografi Syaikh ‘Abd al-Qådir, Lujain al-Dani fi Manaqib ‘Abd al-Qådir al-Jilani, kitab yang bahkan mampu menembus berbagai sudut yang paling jauh di Nusantara. Pembacaan manaqib ‘Abd al-Qådir dengan tujuan menolak bala, memohon perlindungan, mengusir setan, atau semata-mata sebagai tindakan pemujaan sudah lama tersebarluas dan menjadi praktik yang umum dilakukan di Indonesia. Peringatan hari kematian sang wali, pada tanggal 11 Råbi’ al-Akhir, telah dan masih diperingati di banyak tempat dengan acara pembacaan manaqibnya. Di tempat tertentu, acara ini bahkan dilakukan pada setiap tanggal 11 pada setiap bulan Qåmariyah.[6]
Ada banyak versi manaqib ini, baik dalam bahasa Aråb, Jåwå, Sunda, maupun Indonesia. Setengahabad lalu, Dr. G.W.J. Drewes dan R.Ng. Poerbåtjaråkå menerbitkan studi perihal manaqib berbahasa Jåwå, yang didasarkan atas karya Yafi’i, Khulashåh al-Mafakhir. Namun, menurut penelitian Martin van Bruinessen, hampir semua manaqib yang dipakai sekarang didasarkan pada Lujain Al-Dani Ja’far al-Barzanji. Manaqib lain yang juga dirujuk, Tafrih al-Khathir, diterjemahkan oleh orang Kurdi, ‘Abd Al-Qådir bin Muhyi al-Din al-Arbili, dari karya asli Muhammad Shådiq al-Qadiri dalam bahasa Persia.[7]
(Gus Moen)
Catatan kaki oleh Gus Moen:
[1] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning,Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Penerbit Mizan,Bandung, cetakan kedua, Mei 1995, halaman 97, dengan mengutip J. SpencerTrimingham, Madzhab Sufi, Oxford University Press, London, 1973, halaman207-208.
[2] Ibid.
[3] Dr. Azyumardi Azra, Jaringan UlamaTimur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-AkarPembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, cetakanpertama, September 1994, halaman 101, dengan mengutip:
· Al-Muradi, Silk Al-Durar, IV, halaman 9.
· Al-Baghdadi, Hadiyyat Al-‘Arifin, I, 255.
· Al-Zarkali, Al-A’lam, II, halaman 117.
· C.J. Edmonds, Kurds, Turks, and Arabs,Oxford University Press, 1957, khususnya halaman 68-79.
· Al-Muradi, Silk Al-Durar, IV, halaman 9.
· Al-Baghdadi, Hadiyyat Al-‘Arifin, I, 255.
· Al-Zarkali, Al-A’lam, II, halaman 117.
· C.J. Edmonds, Kurds, Turks, and Arabs,Oxford University Press, 1957, khususnya halaman 68-79.
[4] Martin van Bruinessen, op.cit., Mei1995, halaman 97.
[5] Martin van Bruinessen, op.cit., Mei1995, halaman 97, dengan mengutip
· GAL, II, halaman 384.
· Jam’iyyah Ahl Al-Thariqah Al-Mu’tabarahAn-Nahdhiyyah, Al-Fuyudhat Al-Rabbani, Jombang, Jawa Timur, 1980,halaman 33.
· GAL, II, halaman 384.
· Jam’iyyah Ahl Al-Thariqah Al-Mu’tabarahAn-Nahdhiyyah, Al-Fuyudhat Al-Rabbani, Jombang, Jawa Timur, 1980,halaman 33.
[6] Martin van Bruinessen, op.cit., Mei1995, halaman 97.
[7] Martin van Bruinessen, op.cit., Mei1995, halaman 97-98, dengan mengutip
· Bruinessen, 1987, halaman 49 catatan kaki.
· Mudarris, 1983, halaman 305-....
· G.W.J. Drewes dan R.Ng. Poerbatjaraka, 1938,halaman 45.
· Bruinessen, 1987, halaman 49 catatan kaki.
· Mudarris, 1983, halaman 305-....
· G.W.J. Drewes dan R.Ng. Poerbatjaraka, 1938,halaman 45.
Label:
rehal
14.51
Dengan sekretaris Winarno, Bc.M., dan Ir. Sunarto S., Tim Penyusun itu diketuai oleh Ir. Supanan, dengan anggota: Ir. Beni Ralahalu, Ir. Mustakim, Dr. Ir. Zuhdan Fathoni, Ir. Sabardi Musliki, Ir. Hazuardi, Praseno, Bc.M., Ir. Warsito, Moch. Suharsono, B.A., Drs. Agus Rawi Siregar, dan Maria Goretti Ruji Astiken. (halaman 168).
Ditulis bahwa “minyak dan gas bumi telah diketahui kehadirannya sekira[1] tahun 331 sebelum Masèhi[2](SM), saat Alexander Agung melihat api abadi yang menyala di permukaan bumi.” (halaman 3).
Akan tetapi, buku yang dicetak dengan kertas kilap ini sama sekali tidak menyinggung legenda mBah Janjang, Pangéran Jati Kusumå bin Jåkå Tingkir (k. 1549--1587[3]), raja Kesultanan Pajang (k. 1549--1618[4]).
Pangéran Jati Kusumå telah menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar obornya. Ini terjadi pada era adiknya lain ibu, Pangéran Benåwå (k. 15..--1588 M) menjadi adipati Jipang. Pangéran Benåwå (k. 1588--1589 M) juga sempat menduduki takhta Pajang.
Sumber lain menyatakan Sultan Pajang baru dapat menguasai Jipang pada tahun 1558 M dan menunjuk Aryå Mataram, adik lain ibu Aryå Penangsang (k. 1521--1549 M), sebagai adipati.
Dengan demikian, angka tahun kematian Aryå Jipang III[5] juga mungkin 1558 M, atau dengan kata lain Aryå Penangsang sempat menjadi “sultan Demak” (k. 1549--1558 M) yang memerintah dari Jipang Panolan.
“Dan karena kesaktiannya pula, akibat kegelapan, Pangéran (Jati Kusumå) menancapkan teken Kiyai Jumpinå ke tanah. Keluarlah dari tanah bekas tusukan tongkat tadi cairan yang dapat menyala untuk penerangan. Cairan itu…lah minyak yang keluar dari bumi, yang terdapat di Magung (Ledok).” Demikian didongengkan orang setempat.[6]
Marilah kita kembali membacabuku 100 Tahun Perminyakan di Cepu.
(1) Cepu (Plunturan = Panolan)?
“Cepu (Plunturan = Panolan) ialah kota kecil di tepi Bengawan Sålå di perbatasan Jåwå Tengah dan JåwåTimur.” (halaman 36).
Bagaimana mungkin tim penyusun buku tersebut bisa menulis seperti itu? Jarak antara Dusun Plunturan, yang menjadi Kampung Semangat di pusat Kota Cepu sekarang, dan Desa Panolan sangat jauh.
Untuk memudahkan Anda, saya akan menjadikannya kalimat “Cepu berkembang dari Dusun Plunturan yang terletak di bekas Kadipatèn Jipang Panolan.” Kenapa nama dusunnya Plunturan?
Menurut orang tua-tua setempat, mluntur itulah cara orang mengambil minyak bumi yang merembes ke permukaan tanah berair di sana. Mereka menggunakan gelam (Jåwå: kulit kayu jati) yang dipilin menjadi tali untuk menyerap minyak permukaan tersebut.
Bila Anda paham kata dasar berupa kata kerja yang menjadi nama Desa Panolan, yakni manol, yang bermakna memanggul barang di pusat kegiatan perekonomian seperti pasar atau bandar sungai, Anda pasti akan mendapatkan gambaran yang lebih besar dan gamblang perihal desa tersebut pada masa bahari.
Tentu saja, itu persoalan lain yang terkait dengan apa yang oleh pakar Barat --yang lebih pas disebut Orientalis-- diistilahkan sebagai Ferry Charter. Ini terjadi pada era Imperium Måjåpahit (k. 1293--1478 M[8]).
Padahal, sebenarnya yang dimaksud tidak lain dari Prasasti Canggu atau Trowulan I (1280 Çåkå/7 Juli 1358 M), yang dikeluarkan oleh Dyah Hayam Wuruk gelar Rajåsånagårå (k. 1350--1389 M)[9] mengenai penetapan 44 desa di tepi Bengawan Sålå dan 34 desa di pinggir Kali Brantas sebagai simå (daerah perdikan) naditiråpradéçå (penambangan/penyeberangan.[10]
Marilah kita lanjutkan membaca buku 100 Tahun Perminyakan di Cepu.
(2) Konsesi Panolan
“Salah satu persyaratan kontraknya menyebutkan bahwa DPM harus membayar ganti rugi… f10.000 dan f0.10 untuk setiap peti (37,5 liter) minyak tanah dari hasil pengilangannya.” (halaman 36).
“Kontrak tersebut berlangsung… tiga tahun dan baru sah menjadi milik DPM pada tahun 1899. Dengan demikian, meskipun Surat Keputusan Gubernur Jend(e)ral Nomor 6 tanggal 30 September 1896 sudah ada di tangan DPM, namun secara sah baru dimulai pada tahun 1899.” (halaman 36).
Bagaimana cara pemilik DPM itu sampai ke Cepu? Apa upayanya untuk memahami cara membor minyak bumi?
“Pada tahun 1886, Adrian (M.) Stoop pergi ke Amerika (Serikat = AS) selama satu tahun untuk belajar cara orang… AS membor dan mengelola usaha di bidang perminyakan.” (halaman 39).
“Dalam laporannya yang dipublikasi… Jaarboek voor het Mijnwezen van Nederlandsche Indië tahun 1888, disimpulkan bahwa usaha perminyakan di Indonesia (ber)prospek… cukup baik.” (halaman 39).
“Dengan modal f150.000, ia mendirikan DPM. Peralatan yang diperlukan dipesan dari U.S.A. dan dalam waktu enam bulan sampai di Suråbåyå lewat Amsterdam dan Rotterdam.” (halaman 39).
“Selain di Suråbåyå, Adrian (M.) Stoop juga menemukan minyak di daerah Rembang. Pada bulan Januari 1893, dari Ngawi dengan rakit, (ia) menyusuri Bengawan Sålå menuju Ngareng, Cepu.” (halaman 39).
“Ia menyimpulkan bahwa di Panolan(,) terdapat ladang minyak berkualitas tinggi dalam jumlah besar. Namun daerah itu sudah menjadi konsesi/dikuasai oleh perusahaan lain, dan perusahaan itu belum melakukan kegiatan pemboran, hanya memiliki izin selama enam minggu.” (halaman 39).
“Luas area Konsesi Panolan ialah 11.977 bahu yang meliputi Distrik Panolan sampai dengan perbatasan Konsesi Tinawun. Yang termasuk Lapang Ledok ialah Area Getur dan Nglebur yang produktif sepanjang 2,5 Kilometer dan lebar 1,25 Km.” (halaman 39).
Lantas, apa hasil pemborannya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya kutipkan dulu serba sedikit mengenai Adrian M. Stoop.
(3) Pembor Air Minum
Adrian M. Stoop ”anak kelima dari sebelas bersaudara. Orang tuanya pengusaha… bank kecil di Kota Dordrecht, Holland.” (halaman 36).
Ia menamai perusahaan pemboran minyaknya “Dordtsche Petroleum Maatschappy Bronnen op Java, (yang) kemudian disebut lebih singkat Dordtsche Petroleum Maatschappy (DPM).” (halaman57).
(4) Sumur Pertama di Cepu
“Pada tahun 1893(,) Adrian (M.) Stoop melakukan pemboran pertama, dengan menggunakan Bor Canada Coring. Selama pemboran(, ia) tidak mengalami kesulitan dan dapat mencapai… 4--5 meterper hari.” (halaman 40).
“Kedalaman pertama yang mengeluarkan minyak ialah 94 meter, dengan produksi empat meter kubik per hari.” (halaman 40).
“Minyak mentah yang dihasilkan sebagian diolah di kilang kecil yang dibangun di daerah Ledok….Kilang Ledok inilah kilang pertama dan tertua di wilayah Cepu.” (halaman 61).
“Lokasi sumur Ledok-1 sampai sekarang masih dikeramatkan dan secara berkala setiap tahun pada bulan tertentu dilaksanakan kenduri.” (halaman 37).
“Di lokasi sumur tersebut(, baik) penduduk setempat maupun karyawan/pegawai Lapang… Ledok setiap akan membuka sumur mengadakan selamatan lebih dahulu. (halaman 37).
(Martin Moentadhim S.M.)
Catatan Kaki:
SEJARAH MINYAK CEPU TANPA LEGENDA MBAH JANJANG
Written By Unknown on Minggu, 27 Oktober 2013 | 14.51
BUKU NISBI LANGKA berjudul 100 Tahun Perminyakan di Cepu
sampai ke tangan saya (MMeSeM) Jum’at 25 Oktober 2013 bakda maghrib.
Fisik buku ini sudah dimakan rayap. Jadi, ada bagian yang sudah tak
terbaca. Semoga data yang saya butuhkan masih bisa dipahami.
Pusat
Pengembangan Tenaga Perminyakan dan Gas Bumi (PPT Migas) Cepu
menerbitkannya pada tanggal 8 Juli 1994, kata Kepala PPT Migas saat itu,
Drs. Chaeruddin, yang juga pelindung Tim Penyusun buku tersebut, dalam
“Prakata”-nya.Dengan sekretaris Winarno, Bc.M., dan Ir. Sunarto S., Tim Penyusun itu diketuai oleh Ir. Supanan, dengan anggota: Ir. Beni Ralahalu, Ir. Mustakim, Dr. Ir. Zuhdan Fathoni, Ir. Sabardi Musliki, Ir. Hazuardi, Praseno, Bc.M., Ir. Warsito, Moch. Suharsono, B.A., Drs. Agus Rawi Siregar, dan Maria Goretti Ruji Astiken. (halaman 168).
Ditulis bahwa “minyak dan gas bumi telah diketahui kehadirannya sekira[1] tahun 331 sebelum Masèhi[2](SM), saat Alexander Agung melihat api abadi yang menyala di permukaan bumi.” (halaman 3).
Akan tetapi, buku yang dicetak dengan kertas kilap ini sama sekali tidak menyinggung legenda mBah Janjang, Pangéran Jati Kusumå bin Jåkå Tingkir (k. 1549--1587[3]), raja Kesultanan Pajang (k. 1549--1618[4]).
Pangéran Jati Kusumå telah menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar obornya. Ini terjadi pada era adiknya lain ibu, Pangéran Benåwå (k. 15..--1588 M) menjadi adipati Jipang. Pangéran Benåwå (k. 1588--1589 M) juga sempat menduduki takhta Pajang.
Sumber lain menyatakan Sultan Pajang baru dapat menguasai Jipang pada tahun 1558 M dan menunjuk Aryå Mataram, adik lain ibu Aryå Penangsang (k. 1521--1549 M), sebagai adipati.
Dengan demikian, angka tahun kematian Aryå Jipang III[5] juga mungkin 1558 M, atau dengan kata lain Aryå Penangsang sempat menjadi “sultan Demak” (k. 1549--1558 M) yang memerintah dari Jipang Panolan.
“Dan karena kesaktiannya pula, akibat kegelapan, Pangéran (Jati Kusumå) menancapkan teken Kiyai Jumpinå ke tanah. Keluarlah dari tanah bekas tusukan tongkat tadi cairan yang dapat menyala untuk penerangan. Cairan itu…lah minyak yang keluar dari bumi, yang terdapat di Magung (Ledok).” Demikian didongengkan orang setempat.[6]
Marilah kita kembali membacabuku 100 Tahun Perminyakan di Cepu.
(1) Cepu (Plunturan = Panolan)?
ADRIAN M.[7]
STOOP-lah satu-satunya orang yang paling layak dikaitkan dengan
penemuan minyak di wilayah yang secara luas kini disebut Blok Cepu ini.
Perihal sejarah blok ini insya-Ållåh nanti saya akan tulis tersendiri.
Apa yang ditulis dalam buku itu mengenai Cepu? Berikut ini saya kutipkan apa adanya:“Cepu (Plunturan = Panolan) ialah kota kecil di tepi Bengawan Sålå di perbatasan Jåwå Tengah dan JåwåTimur.” (halaman 36).
Bagaimana mungkin tim penyusun buku tersebut bisa menulis seperti itu? Jarak antara Dusun Plunturan, yang menjadi Kampung Semangat di pusat Kota Cepu sekarang, dan Desa Panolan sangat jauh.
Untuk memudahkan Anda, saya akan menjadikannya kalimat “Cepu berkembang dari Dusun Plunturan yang terletak di bekas Kadipatèn Jipang Panolan.” Kenapa nama dusunnya Plunturan?
Menurut orang tua-tua setempat, mluntur itulah cara orang mengambil minyak bumi yang merembes ke permukaan tanah berair di sana. Mereka menggunakan gelam (Jåwå: kulit kayu jati) yang dipilin menjadi tali untuk menyerap minyak permukaan tersebut.
Bila Anda paham kata dasar berupa kata kerja yang menjadi nama Desa Panolan, yakni manol, yang bermakna memanggul barang di pusat kegiatan perekonomian seperti pasar atau bandar sungai, Anda pasti akan mendapatkan gambaran yang lebih besar dan gamblang perihal desa tersebut pada masa bahari.
Tentu saja, itu persoalan lain yang terkait dengan apa yang oleh pakar Barat --yang lebih pas disebut Orientalis-- diistilahkan sebagai Ferry Charter. Ini terjadi pada era Imperium Måjåpahit (k. 1293--1478 M[8]).
Padahal, sebenarnya yang dimaksud tidak lain dari Prasasti Canggu atau Trowulan I (1280 Çåkå/7 Juli 1358 M), yang dikeluarkan oleh Dyah Hayam Wuruk gelar Rajåsånagårå (k. 1350--1389 M)[9] mengenai penetapan 44 desa di tepi Bengawan Sålå dan 34 desa di pinggir Kali Brantas sebagai simå (daerah perdikan) naditiråpradéçå (penambangan/penyeberangan.[10]
Marilah kita lanjutkan membaca buku 100 Tahun Perminyakan di Cepu.
(2) Konsesi Panolan
KARENA ITULAH, pemberian hak pencarian minyak bumi tersebut disebut Konsesi Panolan.
“Konsesi
minyak di daerah ini bernama Panolan. Peresmiannya pada tanggal 28 Mei
1893 atas nama A.B. Versteegh(. Namun,) A.B. Versteegh tidak
mengusahakan sendiri sumber minyak tersebut, tetapi mengontrakkan(nya)
kepada perusahaan yang sudah kuat pada masa itu, yaitu perusahaan
Dordtsche Petroleum Maatschappy (DPM) di Suråbåyå.” (halaman 36).“Salah satu persyaratan kontraknya menyebutkan bahwa DPM harus membayar ganti rugi… f10.000 dan f0.10 untuk setiap peti (37,5 liter) minyak tanah dari hasil pengilangannya.” (halaman 36).
“Kontrak tersebut berlangsung… tiga tahun dan baru sah menjadi milik DPM pada tahun 1899. Dengan demikian, meskipun Surat Keputusan Gubernur Jend(e)ral Nomor 6 tanggal 30 September 1896 sudah ada di tangan DPM, namun secara sah baru dimulai pada tahun 1899.” (halaman 36).
Bagaimana cara pemilik DPM itu sampai ke Cepu? Apa upayanya untuk memahami cara membor minyak bumi?
“Pada tahun 1886, Adrian (M.) Stoop pergi ke Amerika (Serikat = AS) selama satu tahun untuk belajar cara orang… AS membor dan mengelola usaha di bidang perminyakan.” (halaman 39).
“Dalam laporannya yang dipublikasi… Jaarboek voor het Mijnwezen van Nederlandsche Indië tahun 1888, disimpulkan bahwa usaha perminyakan di Indonesia (ber)prospek… cukup baik.” (halaman 39).
“Dengan modal f150.000, ia mendirikan DPM. Peralatan yang diperlukan dipesan dari U.S.A. dan dalam waktu enam bulan sampai di Suråbåyå lewat Amsterdam dan Rotterdam.” (halaman 39).
“Selain di Suråbåyå, Adrian (M.) Stoop juga menemukan minyak di daerah Rembang. Pada bulan Januari 1893, dari Ngawi dengan rakit, (ia) menyusuri Bengawan Sålå menuju Ngareng, Cepu.” (halaman 39).
“Ia menyimpulkan bahwa di Panolan(,) terdapat ladang minyak berkualitas tinggi dalam jumlah besar. Namun daerah itu sudah menjadi konsesi/dikuasai oleh perusahaan lain, dan perusahaan itu belum melakukan kegiatan pemboran, hanya memiliki izin selama enam minggu.” (halaman 39).
“Luas area Konsesi Panolan ialah 11.977 bahu yang meliputi Distrik Panolan sampai dengan perbatasan Konsesi Tinawun. Yang termasuk Lapang Ledok ialah Area Getur dan Nglebur yang produktif sepanjang 2,5 Kilometer dan lebar 1,25 Km.” (halaman 39).
Lantas, apa hasil pemborannya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya kutipkan dulu serba sedikit mengenai Adrian M. Stoop.
(3) Pembor Air Minum
SIAPA
SEBENARNYA Adrian M. Stoop? “Selesai pendidikan HBS (SLTA) tahun 1873,
(ia) melanjutkan pendidikan di bidang teknik geologi pada Fakultas
Teknik Universitas Delft, dan berhasil menjadi sarjana pertambangan.”
(halaman 37).
“Pada tahun
1879, ia diangkat sebagai teknisi muda pada Grondpeilwezen di Jåwå
dengan tugas membor air minum. Selama bertugas inilah(,) ia menemukan
minyak dalam jumlah yang relatif sedikit.” (halaman 37).Adrian M. Stoop ”anak kelima dari sebelas bersaudara. Orang tuanya pengusaha… bank kecil di Kota Dordrecht, Holland.” (halaman 36).
Ia menamai perusahaan pemboran minyaknya “Dordtsche Petroleum Maatschappy Bronnen op Java, (yang) kemudian disebut lebih singkat Dordtsche Petroleum Maatschappy (DPM).” (halaman57).
(4) Sumur Pertama di Cepu
“PENEMUAN
SUMUR minyak bumi”… (di wilayah yang sekarang disebut Blok Cepu)
“bermula di Desa Ledok, kira-kira sepuluh Kilometer dari Cepu oleh
Adrian (M.) Stoop….” (halaman 36).
“Sumur Ledok-1 (yang) dibor pada bulan Juli 1893 merupakan sumur pertama di daerah Cepu.” (halaman 37).“Pada tahun 1893(,) Adrian (M.) Stoop melakukan pemboran pertama, dengan menggunakan Bor Canada Coring. Selama pemboran(, ia) tidak mengalami kesulitan dan dapat mencapai… 4--5 meterper hari.” (halaman 40).
“Kedalaman pertama yang mengeluarkan minyak ialah 94 meter, dengan produksi empat meter kubik per hari.” (halaman 40).
“Minyak mentah yang dihasilkan sebagian diolah di kilang kecil yang dibangun di daerah Ledok….Kilang Ledok inilah kilang pertama dan tertua di wilayah Cepu.” (halaman 61).
“Lokasi sumur Ledok-1 sampai sekarang masih dikeramatkan dan secara berkala setiap tahun pada bulan tertentu dilaksanakan kenduri.” (halaman 37).
“Di lokasi sumur tersebut(, baik) penduduk setempat maupun karyawan/pegawai Lapang… Ledok setiap akan membuka sumur mengadakan selamatan lebih dahulu. (halaman 37).
(Martin Moentadhim S.M.)
Catatan Kaki:
[1] Saya ganti dari aslinya: “sekitar”, karenabagi saya, kata ini lebih cocok untuk lingkungan, bukan angka tahun --MMeSeM.
[2] Kepanjangan ini saya tambahkan --MMeSeM.
[3]
Angka kematian Jåkå Tingkir sebagaimanayang diyakini oleh
Hermanus Johannes (H.J.) de Graaf dan Theodoor GautierThomas (Th.G.Th.)
Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan SejarahPolitik Abad XV dan XVI,
PT Pustaka Utama Grafiti dan KITLV, Jakarta,cetakan keempat, edisi
revisi, 2001, halaman 244. Buku ini terjemahan darijudul asli De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java, Studiën Over deStaatkundige Geschiedenis van de 15 de en 16 de Eeuw, VKI, 69, 1974.VKI
ialah Verhandelingen van het KITLV, sedangkan KITLV ialah
KoninklijkInstituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Lembaga Budaya,
Bahasa, danSejarah).
[4]
Angka tahun ini, saat pasukan Matarammembumihangus istana Pajang
karena bupatinya memberontak, saya ambil dari H.J.de Graaf dan Th.G.Th.
Pigeaud, op.cit., 2001, halaman 233.
[5] Aryå Jipang I ialah mertua Radèn Patah (k.1473--1518 M), pendiri Kesultanan Demak (k.1473--1549 M), dan kakek Radèn Kikinalias Pangéran Suryå gelar Aryå Jipang II (k. …--1521 M), ayah AryåJipang III (k. 1521--1549 M), yang juga disebut Aryå Penangsang --MMeSeM.
[6] Anonim, Hilangnya Pusaka Pajang,
naskahketik, tanpa titi mangsa, halaman 4. Saya sudah tahu akan adanya
naskah inisetamat Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Blora pada tahun
1972 danmengejarnya sampai ke Kecamatan Jiken pada tahun 1974, tetapi
saya baru dapatmemperolehnya pada tahun 2004, ketika guru Sekolah
Menengah Pertama Negeri (SMPN)1 Sambong, Luhur Susilo, yang asal Desa
Kentong, Cepu, memfotokopinya dibilangan Taman Sewu Lampu, Kota Cepu,
[7]
M. ini saya dapat dalam wawancara denganHaji Muharno, satu dari
sangat sedikit orang setempat yang menjadi mahasiswaAkademi Minyak dan
Gas Bumi (Akamigas, kini: Sekolah Tinggi Energi Minyak =STEM) --MMeSeM.
[8]
Angka tahun saya ambil dari Nia KurniaSholihat (K.Sh.) Irfan,
“Pararaton Revisited: Tafsir Baru Atas Sejarah KeluargaMajapahit,” dalam
http://maulanusantara.wordpress.com/,29 Agustus 2008. Tulisan ini tampaknya semula dimuat dalam Harian Umum SinarHarapan edisi 13 Februari 1985 dan dikutip dalam http://irfananshory.blogspot.com/.
[9] Nama lengkap dan angka tahun saya ambildari Nia K.Sh. Irfan, op.cit., dalam http://maulanusantara.wordpress.com/,29 Agustus 2008.
[10] Anonim, “Bengawan Solo Bawa Rejeki danBencana,” dalam http://sosialnews.com/, 15 Februari 2012.
Label:
rehal
08.30
(Potret Budaya dan Perspektifnya bagi Pemuda)[1]
Oleh M. Moentadhim S.M.[2]
APA ITU BUDAYA? Secara etimologis, kata “budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta… buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia,” demikian ditulis dalam laman kamus Wikipedia.[3]
“Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin: colere, yaitu mengolah atau mengerjakan; Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang(-kadang) diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.”[4]
Sekarang, saya ingin kukuhkan pendapat di atas dengan apa yang ditulis orang dalam Dictionary of Cultural Literacy. “Kebudayaan merupakan ‘jumlah’ dari seluruh sikap, adat(-)istiadat, dan kepercayaan yang membedakan sekelompok orang dari[5] kelompok lain; Kebudayaan ditransmisi… melalui bahasa, objek material, ritual, institusi (misalnya sekolah), dan kesenian, dari s.atu generasi kepada generasi berikutnya.”[6]
Jadi, budaya itu mencakup segala kegiatan manusia. Entah kenapa setelah Kongres Kebudayaan memerikannya demikian, hingga sekarang, orang masih juga memaknai budaya dalam arti sempit sebagai kesenian dan tradisi serta adat-istiadat. Salah kaprah memang susah diluruskan, apa boleh buat.
(1) Ngloram-Jipang
CEPU SARANG naga? Yang saya maksud naga ialah Cah (dari bocah, Jåwå: “nak” dari “anak”) Cepu yang berprestasi, sehingga dapat dijadikan suri teladan. Terlalu banyak Cah Cepu berprestasi luar biasa pada bidangnya masing-masing. Berikut ini saya contohkkan lima naga saja.
Naga pertama tidak begitu dikenal orang. Namanya entah siapa. Gelarnya Haji[7] Wurawari (w. 1032 M). Jabatannya pemimpin Kerajaan Lwaram (kini: Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupatèn Blora, Jåwå Tengah).
Prestasinya: menghancurkan istana Wwatan (kini: entah desa apa di Kecamatan Maospati, Kabupatèn Madiun, Jåwå Timur), tempat kedudukan Prabhu Dharmåwångså Teguh (k. 991[8]–1006 M), saat pesta perkawinan Herlånggå[9] (Bedahulu, Bali, h. 990–1049 M, Belahan, Pasuruan, k. 1009–1042 M)[10] dengan Dèwi Laksmi, yang Haji Wurawari juga mencintainya.
Dengan kata lain, Cah Ngloram inilah yang mengakibatkan Kerajaan Medang Mataram (k. 732–1006 M) måhåpralåyå (kiamat).
Naga kedua tak pelak lagi ialah Adipati Aryå Penangsang (k. 1521–1549 M), yang sejak masih bocah sudah berkuasa, diembani oleh Patih Aryå Matahun. Namanya mungkin Ibråhim[11]. Kadipatèn Jipang Panolan merupakan daerah andalan Kesultanan Demak (k. 1475–1549 M). Wilayahnya luas, termasuk Blora dan Pati.
Pada masa ayahnya, Radèn Kikin gelar anumerta Pangéran Sekar Sédå ing Lèpèn (w. 1521 M), di Jipang Panolan, tinggal Sunan Ngudung,[12] yang nama kecilnya Malik al-Fajri atau Radèn Mukti. Inilah ayah guru Aryå Penangsang, Pengulu Råhmatullåh[13] gelar Sunan Kudus II, yang boleh jadi lahir semasa ayahnya tinggal di Bhumi Jipang.[14] Konon, pensyiar Islam inilah yang menciptakan wayang golèk purwå atau wayang krucil atau wayang klithik.[15]
(2) Merah-Cepu
KITA MELOMPAT ke era pemerintah kolonial Hindia Belanda. Keluarga besar Kelurahan Cepu menetaskan dua naga yang lain. Lurah Cepu yang saya maksud itu Kartådikråmå, ayah Mas Marco Kartodikromo, wartawan yang dibuang ke Digul oleh penjajah.
“(Pada)… zaman penjajahan, (buku) wartawan yang hidup pada kurun waktu 1890–1935 (M) itu… banyak dibredel (oleh) pemerintah kolonial Belanda. Tak cukup dibredel, pria kelahiran Cepu… ini sempat mengalami hidup di pembuangan.” Bukunya yang dilarang itu antara lain: Student Hidjo, yang ditulis pada tahun 1919 dan Rasa Merdeka, karya tahun 1924.[16]
Lurah Kartådikråmå itu juga bapak Kartåsuwiryå, ayah dari Sekarmadji Maridjan (S.M.) Kartosoewirjo, pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Kakek buyut Sekarmadji Maridjan ialah Rånådikråmå, lurah Mèrah[17], kini Mulyorejo, Kecamatan Cepu.
Mas Marco dan Sekarmadji Maridjan ialah dua dari tiga “Tri Abangan dari Hutan Jati”. Siapa yang satu lagi? Tokoh ini tak lain dari “guru agama-spiritual” Sekarmadji Maridjan, Notodihardjo, pemuka Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di Kawedanan Padangan, Kabupatèn Bojonegoro.
“Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir pada tanggal 7 Januari 1907 di Cepu, kota dengan romansa Bengawan Sålå dan belukar hutan jati. Sang Ayah, Kartosoewirjo, mantri candu pemerintah Belanda, memberinya nama Sekarmadji Maridjan. Kelak nama ayahnya disematkan di belakang nama Sang Bayi. Kakek Si Orok ialah Kartodikromo, lurah Cepu. Rumah Sang Kakek, tempat Sekarmadji lahir, di belakang pasar lama, kini telah musnah.”[18]
“Yang tersisa ialah rumah di Jalan Raya Cepu 15, milik Kartodimedjo, paman Sekarmadji, yang sempat menjadi pamong pråjå pemerintah Belanda. Rumah kayu jati berkapur putih yang dibangun pada tahun 1890 itulah tempat berkumpul keluarga besar Kartodikromo. ‘Ini rumah induk, tempat jujugan keluarga besar kami,’ kata Nuk Mudarti, 75 tahun, keponakan Sekarmadji.”[19]
Deretan panjang nama Cah Cepu dapat saya sebutkan. Saya hanya memilih lima naga saja. Koq mayoritas tokoh yang saya pilih ini rada-rada terkesan pemberontak? Pertanyaan berikutnya ialah mereka memberontak terhadap siapa? Apa pula kepentingannya?
Saya menyatakan bahwa ini hanya masalah sudut pandang. Setiap sikap itu, pinjam istilah Jåwå, ånå empan lan papané. Segala sesuatu tergantung konteksnya. Tetapi, adagium Jåwå yang sekarang lebih pantas dipegang sesuai dengan konteks zamannya ialah jer basuki måwå béyå, yang konyolnya sering membuat orang biyayakän.
(3) Langkah Nyata
ANDA PASTI masih ingat bunyi Soempah Pemoeda yang dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang: Jakarta) pada tanggal 27–28 Oktober 1928.
1. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia,
2. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia,
3. Kami poetra dan poetri Indonesia mengdjoengdjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Djakarta, 28 Oktober 1928.[20]
Apa konteks Soempah Pemoeda ini dengan sejarah kunå dan modern yang saya ceritakan pada bab satu dan dua? Haji Wurawari berpihak pada Kemaharajaan ŚriWijåyå dan memusuhi Imperium Medang Mataram. Sekarang, keduanya sudah menyatu dalam pangkuan bumi pertiwi Indonesia Raya.
Aryå Penangsang sebagai ahli waris sah takhta Kesultanan Demak harus rela sabar lan narimå menunggu kesabarannya habis, baru membumihangus Kota Demak. Ia masih menjalani tugas ksatrianya sebagai sénåpati ketika raja yang mengambil takhtanya, Sultan Trenggånå (k. 1521–1546 M), menyerang Panarukan. Ia masih dapat juga membiarkan Sunan Prawåtå (k. 1546–1549 M) berkuasa. Ini berarti ia masih dapat mengamalkan adagium sakdumuk bathuk saknyari bumi pada konteksnya.
Kedua naga ini menjadi pejabat pemerintah. Sekarmadji Maridjan Kartåsuwiryå pada dasarnya juga ingin menjadi penguasa. Tetapi, Pengulu Råhmatullåh gelar Sunan Kudus II menciptakan salah satu jenis wayang, sementara Mas Marco Kartodikromo menjadi wartawan yang tulisannya tajam, dengan memanfaatkan keahliannya ber-jarwå dhosok.
Dengan kata lain, pemuda haruslah menjadi, dadi uwong. Pilihan profesi sangat terbuka, terserah mau memilih jadi apa saja. Sebelum menjadi, pemuda haruslah nJåwå (mengerti). Apa yang harus dimengerti? Yang harus dipahami ini mau tak mau (sine qua non) ialah potensi, baik yang ada dalam diri maupun bumi pertiwinya.
Saya tak akan lagi bicara soal potensi minyak bumi dan hutan jati yang sudah dihaki oleh pemerintah pusat. Anda –pemuda– juga sudah tahu bagaimana mengambil peran dalam pemanfaatan kedua sumber daya alam ini. Marilah kita gali potensi lain yang boleh dibilang masih perawan atau belum terlalu terjamah di Bhumi Penangsang.
Apakah Anda tahu di aliran Bengawan Sålå dekat Ngloram, misalnya, ada pemandangan indah yang orang kunå menyebutnya bregåjå? Tidak inginkah Anda situs Nglinggå Kerajaan Lwaram dan situs Kadipatèn Jipang tetap bisa dinikmati anak cucu kita? Inilah potensi wisata yang Anda dapat garap dalam konteksnya yang sangat luas. Lihatlah bagan berikut ini.[21]
Griyå Ciptadi, mBalun mBulakan, Cepu, Selasa 23 Oktober 2012.
[1] Makalah Diskusi Publik Refleksi Sumpah Pemuda di Pendapa Sasana Widya Praja, Kecamatan Cepu, Jalan Ronggolawe No. 44, Kota Cepu 58312, pada hari Kamis 25 Oktober 2012.08:00-selesai.
[2] MMeSeM itu penasihat Paguyuban Malem Jemuah Pahing (PMJP), badan penyelenggara Pasar Seni Cepu (PSC), yang ketika dimulai pada hari Sabtu 24 Maret 2012 bernama Pasar Seni Tukbuntung (Sarnitung). PSC diadakan di sisi selatan Simpang Tujuh Jalan Ronggolawe. MMeSeM lahir di Desa Jetis, Kota Blora, pada hari Minggu Legi 2 Mei 1954. Pada tahun 1969, saat kelas 3 SMP Negeri Cepu, MMeSeM mendirikan Sanggar Jångkå Langit di Jalan Arya Jipang No. 22 (kini: 41), Balun. MMeSeM pensiunan penanggung jawab Penerbit Antara Pustaka Utama (PAU), unit usaha strategis (UUS) Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, tempat ia bekerja pada tahun 1981 hingga tahun 2003.
[3] Anonim, “Budaya,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 10 Oktober 2012.18.10.
[4] Ibid.
[5] Saya ubah dari aslinya: dengan –MMeSeM.
[6] Yudhi M., “Pengertian Kebudayaan,” dalam http://yudhim.blogspot.com/, 24 Januari 2008, dengan mengutip Dictionary of Cultural Literacy.
[7] Haji itu raja vassal, raja bawahan –MMeSeM.
[8] Angka tahun mulai bertakhta Darmåwångså Teguh ini saya ambil dari Anonim, “Dharmawangsa Teguh,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 7 Desember 2009.07:54.
[9] Saya ganti dari aslinya: Airlånggå, karena “air” dalam bahasa Jåwå Kunå ialah her –MMeSeM.
[10] Angka tahun lahir Herlånggå saya ambil dari Anonim, “Airlangga,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 29 November 2010.05:46. Ia menikah pada usia 16 tahun, saat istana di Wwatan ibu kota Medang Mataram, kerajaan mertuanya, Darmåwångså Teguh, diserbu, hingga Sang Raja gugur. Tiga tahun kemudian rakyat mendaulat Herlånggå agar mendirikan kembali kerajaan.
[11] Hal ini dikatakan oleh Nassirun Purwokartun, pengarang tetralogi Arya Penangsang, dalam chattingFacebook dengan MMeSeM belum lama ini.
[12] Solichin Salam, Sekitar Wali Sanga, Penerbit Menara Kudus, cetakan kedua, 1963, halaman 51. Lihat juga H. Sayid Husein al-Murtadho, Keteladanan dan Perjuangan Wali Songo dalam Menyiarkan Agama Islam di Tanah Jawa, Penerbit Pustaka Setia, Bandung, cetakan pertama, Mei 1999, halaman 131, dengan mengutip Mohammad Zaini A.A., Kisah Wali Sanga, Bintang Terang 99, Surabaya, tanpa tahun, halaman 146.
[13] Nama saya ambil dari H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, PT Pustaka Utama Grafiti dan Perwakilan KITLV, Jakarta, cetakan keempat, 2001, halaman 56, dengan mengutip Jan Edel, Hikayat Hasanuddin, Meppel, 1938. Buku Graaf-Pigeaud ini terjemahan dari De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java: Studien Over de Staatkundige Geschiedenis van de 15 de en 16 de Eeuw, seri VKI No. 69. VKI itu Verhandelingen van het (rangkaian terbitan) KITLV, sedangkan KITLV ialah Koninlijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde.
[14] Mohammad Guntur Shah dan Martin Moentadhim S.M. (editor), Sit-Lam: Sejarah Cina-Islam di Indonesia, manuskrip, Sanggar Jangka Langit, Bekasi, 2003, halaman 122.
[15] S. Haryanto, Pratiwimbå Adhiluhung: Sejarah dan Perkembangan Wayang, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1988, halaman 33, dengan mengutip Serat Centhini.
[16] WaroengBhatiek, “Buku-buku yang sempat dilarang,” dalam http://waroengbhatik.file.wordpress.com, 14 Oktober 2010.
[17] Saya ganti dari aslinya: Merak, Panolan –MMeSeM.
[18] Anonim1, “Tri Abangan dari Hutan Jati,” dalam…
[19] Ibid.
[20] Teks ini saya dari http://www.sumpahpemuda.org/.
[21] MMeSeM, “Tanpa Pantai Blora Tak Punya Wisata Tirta? No Way!”, dalam Tapak Jentera, lembar khas ekowisata Koran Mingguan Cahya, Cepu, Edisi No. 1/Th. I, 29 April 2005, halaman 21.
Cepu Sarang Naga
Written By Unknown on Kamis, 03 Oktober 2013 | 08.30
Oleh M. Moentadhim S.M.[2]
APA ITU BUDAYA? Secara etimologis, kata “budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta… buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia,” demikian ditulis dalam laman kamus Wikipedia.[3]
“Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin: colere, yaitu mengolah atau mengerjakan; Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang(-kadang) diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.”[4]
Sekarang, saya ingin kukuhkan pendapat di atas dengan apa yang ditulis orang dalam Dictionary of Cultural Literacy. “Kebudayaan merupakan ‘jumlah’ dari seluruh sikap, adat(-)istiadat, dan kepercayaan yang membedakan sekelompok orang dari[5] kelompok lain; Kebudayaan ditransmisi… melalui bahasa, objek material, ritual, institusi (misalnya sekolah), dan kesenian, dari s.atu generasi kepada generasi berikutnya.”[6]
Jadi, budaya itu mencakup segala kegiatan manusia. Entah kenapa setelah Kongres Kebudayaan memerikannya demikian, hingga sekarang, orang masih juga memaknai budaya dalam arti sempit sebagai kesenian dan tradisi serta adat-istiadat. Salah kaprah memang susah diluruskan, apa boleh buat.
(1) Ngloram-Jipang
CEPU SARANG naga? Yang saya maksud naga ialah Cah (dari bocah, Jåwå: “nak” dari “anak”) Cepu yang berprestasi, sehingga dapat dijadikan suri teladan. Terlalu banyak Cah Cepu berprestasi luar biasa pada bidangnya masing-masing. Berikut ini saya contohkkan lima naga saja.
Naga pertama tidak begitu dikenal orang. Namanya entah siapa. Gelarnya Haji[7] Wurawari (w. 1032 M). Jabatannya pemimpin Kerajaan Lwaram (kini: Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupatèn Blora, Jåwå Tengah).
Prestasinya: menghancurkan istana Wwatan (kini: entah desa apa di Kecamatan Maospati, Kabupatèn Madiun, Jåwå Timur), tempat kedudukan Prabhu Dharmåwångså Teguh (k. 991[8]–1006 M), saat pesta perkawinan Herlånggå[9] (Bedahulu, Bali, h. 990–1049 M, Belahan, Pasuruan, k. 1009–1042 M)[10] dengan Dèwi Laksmi, yang Haji Wurawari juga mencintainya.
Dengan kata lain, Cah Ngloram inilah yang mengakibatkan Kerajaan Medang Mataram (k. 732–1006 M) måhåpralåyå (kiamat).
Naga kedua tak pelak lagi ialah Adipati Aryå Penangsang (k. 1521–1549 M), yang sejak masih bocah sudah berkuasa, diembani oleh Patih Aryå Matahun. Namanya mungkin Ibråhim[11]. Kadipatèn Jipang Panolan merupakan daerah andalan Kesultanan Demak (k. 1475–1549 M). Wilayahnya luas, termasuk Blora dan Pati.
Pada masa ayahnya, Radèn Kikin gelar anumerta Pangéran Sekar Sédå ing Lèpèn (w. 1521 M), di Jipang Panolan, tinggal Sunan Ngudung,[12] yang nama kecilnya Malik al-Fajri atau Radèn Mukti. Inilah ayah guru Aryå Penangsang, Pengulu Råhmatullåh[13] gelar Sunan Kudus II, yang boleh jadi lahir semasa ayahnya tinggal di Bhumi Jipang.[14] Konon, pensyiar Islam inilah yang menciptakan wayang golèk purwå atau wayang krucil atau wayang klithik.[15]
(2) Merah-Cepu
KITA MELOMPAT ke era pemerintah kolonial Hindia Belanda. Keluarga besar Kelurahan Cepu menetaskan dua naga yang lain. Lurah Cepu yang saya maksud itu Kartådikråmå, ayah Mas Marco Kartodikromo, wartawan yang dibuang ke Digul oleh penjajah.
“(Pada)… zaman penjajahan, (buku) wartawan yang hidup pada kurun waktu 1890–1935 (M) itu… banyak dibredel (oleh) pemerintah kolonial Belanda. Tak cukup dibredel, pria kelahiran Cepu… ini sempat mengalami hidup di pembuangan.” Bukunya yang dilarang itu antara lain: Student Hidjo, yang ditulis pada tahun 1919 dan Rasa Merdeka, karya tahun 1924.[16]
Lurah Kartådikråmå itu juga bapak Kartåsuwiryå, ayah dari Sekarmadji Maridjan (S.M.) Kartosoewirjo, pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Kakek buyut Sekarmadji Maridjan ialah Rånådikråmå, lurah Mèrah[17], kini Mulyorejo, Kecamatan Cepu.
Mas Marco dan Sekarmadji Maridjan ialah dua dari tiga “Tri Abangan dari Hutan Jati”. Siapa yang satu lagi? Tokoh ini tak lain dari “guru agama-spiritual” Sekarmadji Maridjan, Notodihardjo, pemuka Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di Kawedanan Padangan, Kabupatèn Bojonegoro.
“Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir pada tanggal 7 Januari 1907 di Cepu, kota dengan romansa Bengawan Sålå dan belukar hutan jati. Sang Ayah, Kartosoewirjo, mantri candu pemerintah Belanda, memberinya nama Sekarmadji Maridjan. Kelak nama ayahnya disematkan di belakang nama Sang Bayi. Kakek Si Orok ialah Kartodikromo, lurah Cepu. Rumah Sang Kakek, tempat Sekarmadji lahir, di belakang pasar lama, kini telah musnah.”[18]
“Yang tersisa ialah rumah di Jalan Raya Cepu 15, milik Kartodimedjo, paman Sekarmadji, yang sempat menjadi pamong pråjå pemerintah Belanda. Rumah kayu jati berkapur putih yang dibangun pada tahun 1890 itulah tempat berkumpul keluarga besar Kartodikromo. ‘Ini rumah induk, tempat jujugan keluarga besar kami,’ kata Nuk Mudarti, 75 tahun, keponakan Sekarmadji.”[19]
Deretan panjang nama Cah Cepu dapat saya sebutkan. Saya hanya memilih lima naga saja. Koq mayoritas tokoh yang saya pilih ini rada-rada terkesan pemberontak? Pertanyaan berikutnya ialah mereka memberontak terhadap siapa? Apa pula kepentingannya?
Saya menyatakan bahwa ini hanya masalah sudut pandang. Setiap sikap itu, pinjam istilah Jåwå, ånå empan lan papané. Segala sesuatu tergantung konteksnya. Tetapi, adagium Jåwå yang sekarang lebih pantas dipegang sesuai dengan konteks zamannya ialah jer basuki måwå béyå, yang konyolnya sering membuat orang biyayakän.
(3) Langkah Nyata
ANDA PASTI masih ingat bunyi Soempah Pemoeda yang dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang: Jakarta) pada tanggal 27–28 Oktober 1928.
1. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia,
2. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia,
3. Kami poetra dan poetri Indonesia mengdjoengdjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Djakarta, 28 Oktober 1928.[20]
Apa konteks Soempah Pemoeda ini dengan sejarah kunå dan modern yang saya ceritakan pada bab satu dan dua? Haji Wurawari berpihak pada Kemaharajaan ŚriWijåyå dan memusuhi Imperium Medang Mataram. Sekarang, keduanya sudah menyatu dalam pangkuan bumi pertiwi Indonesia Raya.
Aryå Penangsang sebagai ahli waris sah takhta Kesultanan Demak harus rela sabar lan narimå menunggu kesabarannya habis, baru membumihangus Kota Demak. Ia masih menjalani tugas ksatrianya sebagai sénåpati ketika raja yang mengambil takhtanya, Sultan Trenggånå (k. 1521–1546 M), menyerang Panarukan. Ia masih dapat juga membiarkan Sunan Prawåtå (k. 1546–1549 M) berkuasa. Ini berarti ia masih dapat mengamalkan adagium sakdumuk bathuk saknyari bumi pada konteksnya.
Kedua naga ini menjadi pejabat pemerintah. Sekarmadji Maridjan Kartåsuwiryå pada dasarnya juga ingin menjadi penguasa. Tetapi, Pengulu Råhmatullåh gelar Sunan Kudus II menciptakan salah satu jenis wayang, sementara Mas Marco Kartodikromo menjadi wartawan yang tulisannya tajam, dengan memanfaatkan keahliannya ber-jarwå dhosok.
Dengan kata lain, pemuda haruslah menjadi, dadi uwong. Pilihan profesi sangat terbuka, terserah mau memilih jadi apa saja. Sebelum menjadi, pemuda haruslah nJåwå (mengerti). Apa yang harus dimengerti? Yang harus dipahami ini mau tak mau (sine qua non) ialah potensi, baik yang ada dalam diri maupun bumi pertiwinya.
Saya tak akan lagi bicara soal potensi minyak bumi dan hutan jati yang sudah dihaki oleh pemerintah pusat. Anda –pemuda– juga sudah tahu bagaimana mengambil peran dalam pemanfaatan kedua sumber daya alam ini. Marilah kita gali potensi lain yang boleh dibilang masih perawan atau belum terlalu terjamah di Bhumi Penangsang.
Apakah Anda tahu di aliran Bengawan Sålå dekat Ngloram, misalnya, ada pemandangan indah yang orang kunå menyebutnya bregåjå? Tidak inginkah Anda situs Nglinggå Kerajaan Lwaram dan situs Kadipatèn Jipang tetap bisa dinikmati anak cucu kita? Inilah potensi wisata yang Anda dapat garap dalam konteksnya yang sangat luas. Lihatlah bagan berikut ini.[21]
Griyå Ciptadi, mBalun mBulakan, Cepu, Selasa 23 Oktober 2012.
[1] Makalah Diskusi Publik Refleksi Sumpah Pemuda di Pendapa Sasana Widya Praja, Kecamatan Cepu, Jalan Ronggolawe No. 44, Kota Cepu 58312, pada hari Kamis 25 Oktober 2012.08:00-selesai.
[2] MMeSeM itu penasihat Paguyuban Malem Jemuah Pahing (PMJP), badan penyelenggara Pasar Seni Cepu (PSC), yang ketika dimulai pada hari Sabtu 24 Maret 2012 bernama Pasar Seni Tukbuntung (Sarnitung). PSC diadakan di sisi selatan Simpang Tujuh Jalan Ronggolawe. MMeSeM lahir di Desa Jetis, Kota Blora, pada hari Minggu Legi 2 Mei 1954. Pada tahun 1969, saat kelas 3 SMP Negeri Cepu, MMeSeM mendirikan Sanggar Jångkå Langit di Jalan Arya Jipang No. 22 (kini: 41), Balun. MMeSeM pensiunan penanggung jawab Penerbit Antara Pustaka Utama (PAU), unit usaha strategis (UUS) Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, tempat ia bekerja pada tahun 1981 hingga tahun 2003.
[3] Anonim, “Budaya,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 10 Oktober 2012.18.10.
[4] Ibid.
[5] Saya ubah dari aslinya: dengan –MMeSeM.
[6] Yudhi M., “Pengertian Kebudayaan,” dalam http://yudhim.blogspot.com/, 24 Januari 2008, dengan mengutip Dictionary of Cultural Literacy.
[7] Haji itu raja vassal, raja bawahan –MMeSeM.
[8] Angka tahun mulai bertakhta Darmåwångså Teguh ini saya ambil dari Anonim, “Dharmawangsa Teguh,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 7 Desember 2009.07:54.
[9] Saya ganti dari aslinya: Airlånggå, karena “air” dalam bahasa Jåwå Kunå ialah her –MMeSeM.
[10] Angka tahun lahir Herlånggå saya ambil dari Anonim, “Airlangga,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 29 November 2010.05:46. Ia menikah pada usia 16 tahun, saat istana di Wwatan ibu kota Medang Mataram, kerajaan mertuanya, Darmåwångså Teguh, diserbu, hingga Sang Raja gugur. Tiga tahun kemudian rakyat mendaulat Herlånggå agar mendirikan kembali kerajaan.
[11] Hal ini dikatakan oleh Nassirun Purwokartun, pengarang tetralogi Arya Penangsang, dalam chattingFacebook dengan MMeSeM belum lama ini.
[12] Solichin Salam, Sekitar Wali Sanga, Penerbit Menara Kudus, cetakan kedua, 1963, halaman 51. Lihat juga H. Sayid Husein al-Murtadho, Keteladanan dan Perjuangan Wali Songo dalam Menyiarkan Agama Islam di Tanah Jawa, Penerbit Pustaka Setia, Bandung, cetakan pertama, Mei 1999, halaman 131, dengan mengutip Mohammad Zaini A.A., Kisah Wali Sanga, Bintang Terang 99, Surabaya, tanpa tahun, halaman 146.
[13] Nama saya ambil dari H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, PT Pustaka Utama Grafiti dan Perwakilan KITLV, Jakarta, cetakan keempat, 2001, halaman 56, dengan mengutip Jan Edel, Hikayat Hasanuddin, Meppel, 1938. Buku Graaf-Pigeaud ini terjemahan dari De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java: Studien Over de Staatkundige Geschiedenis van de 15 de en 16 de Eeuw, seri VKI No. 69. VKI itu Verhandelingen van het (rangkaian terbitan) KITLV, sedangkan KITLV ialah Koninlijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde.
[14] Mohammad Guntur Shah dan Martin Moentadhim S.M. (editor), Sit-Lam: Sejarah Cina-Islam di Indonesia, manuskrip, Sanggar Jangka Langit, Bekasi, 2003, halaman 122.
[15] S. Haryanto, Pratiwimbå Adhiluhung: Sejarah dan Perkembangan Wayang, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1988, halaman 33, dengan mengutip Serat Centhini.
[16] WaroengBhatiek, “Buku-buku yang sempat dilarang,” dalam http://waroengbhatik.file.wordpress.com, 14 Oktober 2010.
[17] Saya ganti dari aslinya: Merak, Panolan –MMeSeM.
[18] Anonim1, “Tri Abangan dari Hutan Jati,” dalam…
[19] Ibid.
[20] Teks ini saya dari http://www.sumpahpemuda.org/.
[21] MMeSeM, “Tanpa Pantai Blora Tak Punya Wisata Tirta? No Way!”, dalam Tapak Jentera, lembar khas ekowisata Koran Mingguan Cahya, Cepu, Edisi No. 1/Th. I, 29 April 2005, halaman 21.



