Home » , » SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Keduabelas).

SAJAK-SAJAK “ORANG KALAH” (Bagian Keduabelas).

Written By Madani on Kamis, 04 September 2014 | 03.36

(ketika harus mencoba dan terus mencoba)


56.

jangan takut salah
salah membuat kita belajar
kalau ada yang salah
terus bunuh diri, itu tersasar

mengulang juga tidak salah
mencoba dan terus mencoba
sampai benar-benar bisa
jangan sampai mengalah

mengalah bisa terinjak-injak
kalau maunya begitu
itu tidak salah tentu
kalau aku sih, lebih baik berontak

jangan salah paham
berontak dalam pemikiran
agar tercapai kebeningan
agar diri tidak melempam.

(jatuh dari sepeda
akan membuat mampu
mengendalikannya
begitu juga batinmu!)

*28082014.09:19.-


57.

subuh tadi kecelakaan kecil itu terjadi
harus berbuat apa lagi?
haruskah berhenti?
andai bisa pulang kampung dan bertani

jadi, mau jadi pengecut saja
membuang segala jejak
sudah terlalu letih berusaha
cobaan selalu menyeruak

tidaklah terasa
sebelas tahun menjadi tua
sudah jadi barang tak berguna
tidak mati-mati juga

terserah saja apa katamu
aku benar-benar telah jemu
ini salah, itu salah
capek senantiasa mengalah.

(bila telah lama di jalan berbeda
sebaiknya memang sendiri saja!)

*29082014.06:03.-


58.

aku hanyalah kepedihan
di dalam ceriaku ini
terselip belati
yang bernama kepedihan

kenapa aku seperti ini
berkembang dalam sunyi
tanpa kompromi
dan menjadi tersendiri?

ketika orang berpikir
di dalam air
aku menjadi air
itu gagal, tinggal getir

aku tetap aku
keumuman tak berlaku
perbedaan di dalam diriku
terlalu banyak, tak membeku

berkembang biak
beranak-pinak
menyeruak
hingga aku tak bisa berontak

belenggu itu bernama kecerdasan
yang membuatku tak lagi hewan
lompatanku tak terpahamkan
hasilnya... tetap saja: kepedihan.

*31082014.02:14.-


59.

belum lama tanah itu
aku tinggalkan merantau
aku sudah rindu
saat aku bersujud agar tak kacau

ada tangis dalam hati
telah hilang banyak masa
hanya untuk menduga-duga
yang mestinya tak perlu sekali

mendengarkan baik-baik
tak perlu mengundang resah
tak juga perlu bersusah payah
semua tersedia ketika balik

"sungkem" pada pangkuan Ibu
karena beliau pusat ilmu
banyak yang aku tidak tahu
sangat jelas karena masih dungu.

(tanah itu bernama Padangan
membikin terang pandangan
semudah itu rahasianya
terlalu lama dalam buta.)

*31082014.17:30.-


60.

sinar pagi ini
tak langsung masuk kamarku
aku terpaksa menunggu
dengan sengaja mendebar-debarkan hati

betapa tidak, entah kapan
nyawa tak lagi mengisi badan
tak jua hati bertentram
masih terganggu kelam

ada yang masih menggantung
belum dapat disebut rampung
ada yang masih suwung
belum ada isi hingga menggelembung

ini repotnya tak kenal mati
tidak menyiksa
tapi tak bisa dinikmati
juga tak dapat dianggap biasa saja.

(haruskah beban ini
dibawa sampai mati
adakah bidadari
yang 'kan datang mengunci?)

*TelukAngsanPermai.02092014.08:05.-



Share this article :

Posting Komentar

Translate

Selamat Datang di Sanggar Jangka Langit

JANGKA LANGIT

Pengikut

Popular post

 
Support : Creating Website | Jangka-Langit | Martin
Copyright © 2013. JANGKA LANGIT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jangka-Langit
Proudly powered by Jangka-Langit