Latest Post
Tampilkan postingan dengan label diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diri. Tampilkan semua postingan

DARI TUKANG KORAN MENJADI PEMBUAT KORAN

Written By Madani on Rabu, 18 Juni 2014 | 07.30


Foto: "DARI TUKANG KORAN MENJADI PEMBUAT KORAN"

SALAH SATU PENGGEMAR puisi saya  menyatakan keheranannya kepada saya ketika ia membaca riwayat hidup saya dalam buku teori jurnalistik yang terbit di Djogdja pada tahun 2006. Ia membacanya "fresh from the oven" Andi Publisher di Jalan Beo 39. Apa yang membuatnya heran?

"Baru kali ini saya membaca orang berani mengaku bahwa pada masa remajanya berjualan koran dari pintu ke pintu, padahal sekarang sudah bisa menerbitkan koran sendiri," katanya sambil mengepulkan asap rokok buatan lokal Jawa Timur.

Untuk membuat koran, saya memang harus mengawali perjuangan dengan menjadi penjaja koran. Apa salahnya? Meski tidak seperti penjual koran di bus di Jakarta atau Surabaya yang harus menghafalkan kepala berita agar korannya dibeli orang, saya sering harus berlari ke rumah pelanggan agar tidak keduluan oleh sesama tukang koran.

Salah satu pelanggan itu, Pak Ali, juga binggung ketika kami bertemu kembali setelah saya 23 tahun merantau di Ibu Kota dan saya katakan bahwa saya redaktur kantor berita nasional. "Bagaimana ceritanya bisa jadi redaktur? Bukankah kamu masih 'nganggur' di Cepu sampai akhir tahun 1980?"

"Tembak langsung, Pak, setelah membaca iklan di koran sore, saya mengetik surat lamaran dan... diterima."

"Surat lamaran diketik?" tanya Pak Ali, heran.

"itulah, Pak, waktu awal uji kejiwaan, saya disuruh menulis surat lamaran dengan tangan oleh salah satu penguji."

"Lantas?"

"Beliau 'dosen' fotografi saya saat Kursus Pendidikan Dasar Jurnalistik di kantor tempat saya bekerja. Yang unik, beliau banyak bertanya mengenai wong Samin, ternyata itu untuk menulis karya ilmiah untuk memeroleh gelar kesarjanaan."

Masih banyak lagi kisah itu. Entah kapan saya sempat mengumpulkannya menjadi otobiografi. Pada ulang tahun ke-60, tanggal 1--2 Mei lalu, saya gagal merampungkannya. Entahlah! Salam. (*MMeSeM/TelukAngsan17052014.01:29).-

**Ini satu-satunya resensi buku itu:SALAH SATU PENGGEMAR puisi saya menyatakan keheranannya kepada saya ketika ia membaca riwayat hidup saya dalam buku teori jurnalistik yang terbit di Djogdja pada tahun 2006. Ia membacanya "fresh from the oven" Andi Publisher di Jalan Beo 39. Apa yang membuatnya heran?

"Baru kali ini saya membaca orang berani mengaku bahwa pada masa remajanya berjualan koran dari pintu ke pintu, padahal sekarang sudah bisa menerbitkan koran sendiri," katanya sambil mengepulkan asap rokok buatan lokal Jawa Timur.

Untuk membuat koran, saya memang harus mengawali perjuangan dengan menjadi penjaja koran. Apa salahnya? Meski tidak seperti penjual koran di bus di Jakarta atau Surabaya yang harus menghafalkan kepala berita agar korannya dibeli orang, saya sering harus berlari ke rumah pelanggan agar tidak keduluan oleh sesama tukang koran.

Salah satu pelanggan itu, Pak Ali, juga binggung ketika kami bertemu kembali setelah saya 23 tahun merantau di Ibu Kota dan saya katakan bahwa saya redaktur kantor berita nasional. "Bagaimana ceritanya bisa jadi redaktur? Bukankah kamu masih 'nganggur' di Cepu sampai akhir tahun 1980?"

"Tembak langsung, Pak, setelah membaca iklan di koran sore, saya mengetik surat lamaran dan... diterima."

"Surat lamaran diketik?" tanya Pak Ali, heran.

"itulah, Pak, waktu awal uji kejiwaan, saya disuruh menulis surat lamaran dengan tangan oleh salah satu penguji."

"Lantas?"

"Beliau 'dosen' fotografi saya saat Kursus Pendidikan Dasar Jurnalistik di kantor tempat saya bekerja. Yang unik, beliau banyak bertanya mengenai wong Samin, ternyata itu untuk menulis karya ilmiah untuk memeroleh gelar kesarjanaan."

Masih banyak lagi kisah itu. Entah kapan saya sempat mengumpulkannya menjadi otobiografi. Pada ulang tahun ke-60, tanggal 1--2 Mei lalu, saya gagal merampungkannya. Entahlah! Salam. (*MMeSeM/TelukAngsan17052014.01:29).-

NEGASI JUGA JALAN KREATIF

Written By Madani on Minggu, 15 Juni 2014 | 07.57


Foto: "NEGASI JUGA JALAN KREATIF"

MUNGKIN SUSAH MENERIMANYA. Ini catatan pengalaman seumur hidup orang yang senantiasa ditolak. Orang ini tak punya pilihan. Seakan-akan buih, ia hanya bisa mengikuti aliran takdir. Buih? Ya, buih, betapa tak berdayanya ia.

"Bacalah!" Itu perintah Tuhan. Tetapi, ketika ia mengumpulkan buku sebagai bahan bacaan, ia seakan-akan dikutuk seisi kampung, terutama keluarga-besarnya. Untuk seusianya, dari SD hingga SMP, komik dan novel dikumpulkannya. Saat SMA, ia mulai membaca... buku filsafat, baik dari Timur maupun Barat.

Semangat filsafat ialah mencurigai segala otoritas. Demikian dikatakan oleh Dr. Sir Muhammad Iqbal dalam buku kumpulan ceramahnya. Buku ini dibacanya ketika salah satu kakak misannya "numpang" di rumah orang tuanya.

Kali ini yang terjadi lebih parah lagi. "NgGege mangsa," kata kebanyakan orang. Anak lulusan SMA membaca buku filsafat... masih salah juga.

Untung, ia lahir di Blora, kabupaten tempat Saminisme "berkembang diam-diam di bawah tekanan". Jadi, ia pun tak peduli, meski terasa pedih di hati. Tepatnya, ia pun "nggendheng" (harfiah: menggila). Itulah, yang pasti, ketika senantiasa tertolak, ia tetap menyintas ("to survive" in English), bertahan hidup.

Caranya yang khas itu dapat disebut "short-cut", tetapi dalam bahasa Jawa, dia diistilahkan "mrojol di akerep" (tetap keluar dalam tapis ketat). Dengan kata lain, negasi juga jalan kreatif. Masih banyak penjelasan dalam khazanah kultur Jawa, misalnya "sastra pinedhati", "ngelmu kuwalik". Salam.

(DePe.TelukAngsan.14062014.21:39).-

**Mouni RoyMUNGKIN SUSAH MENERIMANYA. Ini catatan pengalaman seumur hidup orang yang senantiasa ditolak. Orang ini tak punya pilihan. Seakan-akan buih, ia hanya bisa mengikuti aliran takdir. Buih? Ya, buih, betapa tak berdayanya ia.

"Bacalah!" Itu perintah Tuhan. Tetapi, ketika ia mengumpulkan buku sebagai bahan bacaan, ia seakan-akan dikutuk seisi kampung, terutama keluarga-besarnya. Untuk seusianya, dari SD hingga SMP, komik dan novel dikumpulkannya. Saat SMA, ia mulai membaca... buku filsafat, baik dari Timur maupun Barat.

Semangat filsafat ialah mencurigai segala otoritas. Demikian dikatakan oleh Dr. Sir Muhammad Iqbal dalam buku kumpulan ceramahnya. Buku ini dibacanya ketika salah satu kakak misannya "numpang" di rumah orang tuanya.

Kali ini yang terjadi lebih parah lagi. "NgGege mangsa," kata kebanyakan orang. Anak lulusan SMA membaca buku filsafat... masih salah juga.

Untung, ia lahir di Blora, kabupaten tempat Saminisme "berkembang diam-diam di bawah tekanan". Jadi, ia pun tak peduli, meski terasa pedih di hati. Tepatnya, ia pun "nggendheng" (harfiah: menggila). Itulah, yang pasti, ketika senantiasa tertolak, ia tetap menyintas ("to survive" in English), bertahan hidup.

Caranya yang khas itu dapat disebut "short-cut", tetapi dalam bahasa Jawa, dia diistilahkan "mrojol di akerep" (tetap keluar dalam tapis ketat). Dengan kata lain, negasi juga jalan kreatif. Masih banyak penjelasan dalam khazanah kultur Jawa, misalnya "sastra pinedhati", "ngelmu kuwalik". Salam.

(DePe.TelukAngsan.14062014.21:39).-

INGATAN AKAN MASA AWAL MENULIS

Written By Madani on Selasa, 15 April 2014 | 05.52

TERLALU BANYAK HAL yang terhapus akibat tuduhan bahwa aku melakukan plagiat. Seolah-olah duniaku runtuh. Aku pun menjadi ingin menghapus masa laluku, menguburnya dalam-dalam.

Hingga pada suatu hari di Cepu, Rama Jfx Hoeri bertandang ke rumah tinggalan almarhum Ayah di Dusun Bulakan, tepatnya di belakang Stasiun Cepu, yang diresmikan penggunaannya pada tahun 1902, ingatan itu pun samar-samar kembali.

"Mas Martin banyak mengirimkan karya. Sayang, banjir memusnahkan semuanya," kata beliau, yang pada dasawarsa 1970-an menjadi penyiar di radio milik Perhutani di Desa Dengok, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro.

Hari ini aku membongkar sisa arsip masa itu, ketika aku masih menggunakan nama pena M. Dhim. Sri Marthawienata. Oleh arsip itu, aku teringatkan bahwa aku dulu mulai berkarya dalam dua bahasa: Indonesia dan Jawa.

Aku juga teringatkan bahwa aku dulu menulis drama radio dan novela mini, tepatnya novela alit. Yang ini kebanyakan dimuat di Majalah "Sahabat Pena" yang diterbitkan oleh PN Pos dan Giro di Bandung.

Yang membaca karyaku di majalah bulanan surat-menyurat ini termasuk Darminto M. Soedarmo, yang lebih dikenal sebagai tokoh Lembaga Humor Indonesia (LHI). Terima kasih, Dar.

Inilah salah satu puisi berbahasa Jawa yang aku tulis pada masa itu:

M. Dhim. Sri Marthawienata:

WENGI SÅYÅ NGLANGUT

lemes pepes
ngrumangsani apes
lan nisthå
ugå doså
Gusti...
(ing batin wis thukul tobaté)
nanging,
byar! sènter cumlorot mblerengäké netrå
sinambung tumibané sétan klithik
njur kari gumeriting galar ing ambèn séwan
lan wengi såyå atis
såyå nglangut.

mBlorå, 23 Maret 1974.
kagem kembang kang lelånå ing wengi:
sugeng dalu, mBakyu!

*MMeSeM/SanggarJangkaLangit.15042014.11:11.-

Translate

Selamat Datang di Sanggar Jangka Langit

JANGKA LANGIT

Pengikut

Popular post

 
Support : Creating Website | Jangka-Langit | Martin
Copyright © 2013. JANGKA LANGIT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jangka-Langit
Proudly powered by Jangka-Langit