Latest Post
Tampilkan postingan dengan label jangka langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jangka langit. Tampilkan semua postingan
07.30
SALAH
SATU PENGGEMAR puisi saya menyatakan keheranannya kepada saya ketika
ia membaca riwayat hidup saya dalam buku teori jurnalistik yang terbit
di Djogdja pada tahun 2006. Ia membacanya "fresh from the oven" Andi Publisher di Jalan Beo 39. Apa yang membuatnya heran?
"Baru kali ini saya membaca orang berani mengaku bahwa pada masa remajanya berjualan koran dari pintu ke pintu, padahal sekarang sudah bisa menerbitkan koran sendiri," katanya sambil mengepulkan asap rokok buatan lokal Jawa Timur.
Untuk membuat koran, saya memang harus mengawali perjuangan dengan menjadi penjaja koran. Apa salahnya? Meski tidak seperti penjual koran di bus di Jakarta atau Surabaya yang harus menghafalkan kepala berita agar korannya dibeli orang, saya sering harus berlari ke rumah pelanggan agar tidak keduluan oleh sesama tukang koran.
Salah satu pelanggan itu, Pak Ali, juga binggung ketika kami bertemu kembali setelah saya 23 tahun merantau di Ibu Kota dan saya katakan bahwa saya redaktur kantor berita nasional. "Bagaimana ceritanya bisa jadi redaktur? Bukankah kamu masih 'nganggur' di Cepu sampai akhir tahun 1980?"
"Tembak langsung, Pak, setelah membaca iklan di koran sore, saya mengetik surat lamaran dan... diterima."
"Surat lamaran diketik?" tanya Pak Ali, heran.
"itulah, Pak, waktu awal uji kejiwaan, saya disuruh menulis surat lamaran dengan tangan oleh salah satu penguji."
"Lantas?"
"Beliau 'dosen' fotografi saya saat Kursus Pendidikan Dasar Jurnalistik di kantor tempat saya bekerja. Yang unik, beliau banyak bertanya mengenai wong Samin, ternyata itu untuk menulis karya ilmiah untuk memeroleh gelar kesarjanaan."
Masih banyak lagi kisah itu. Entah kapan saya sempat mengumpulkannya menjadi otobiografi. Pada ulang tahun ke-60, tanggal 1--2 Mei lalu, saya gagal merampungkannya. Entahlah! Salam. (*MMeSeM/TelukAngsan17052014.01:29).-
DARI TUKANG KORAN MENJADI PEMBUAT KORAN
Written By Madani on Rabu, 18 Juni 2014 | 07.30
SALAH
SATU PENGGEMAR puisi saya menyatakan keheranannya kepada saya ketika
ia membaca riwayat hidup saya dalam buku teori jurnalistik yang terbit
di Djogdja pada tahun 2006. Ia membacanya "fresh from the oven" Andi Publisher di Jalan Beo 39. Apa yang membuatnya heran?"Baru kali ini saya membaca orang berani mengaku bahwa pada masa remajanya berjualan koran dari pintu ke pintu, padahal sekarang sudah bisa menerbitkan koran sendiri," katanya sambil mengepulkan asap rokok buatan lokal Jawa Timur.
Untuk membuat koran, saya memang harus mengawali perjuangan dengan menjadi penjaja koran. Apa salahnya? Meski tidak seperti penjual koran di bus di Jakarta atau Surabaya yang harus menghafalkan kepala berita agar korannya dibeli orang, saya sering harus berlari ke rumah pelanggan agar tidak keduluan oleh sesama tukang koran.
Salah satu pelanggan itu, Pak Ali, juga binggung ketika kami bertemu kembali setelah saya 23 tahun merantau di Ibu Kota dan saya katakan bahwa saya redaktur kantor berita nasional. "Bagaimana ceritanya bisa jadi redaktur? Bukankah kamu masih 'nganggur' di Cepu sampai akhir tahun 1980?"
"Tembak langsung, Pak, setelah membaca iklan di koran sore, saya mengetik surat lamaran dan... diterima."
"Surat lamaran diketik?" tanya Pak Ali, heran.
"itulah, Pak, waktu awal uji kejiwaan, saya disuruh menulis surat lamaran dengan tangan oleh salah satu penguji."
"Lantas?"
"Beliau 'dosen' fotografi saya saat Kursus Pendidikan Dasar Jurnalistik di kantor tempat saya bekerja. Yang unik, beliau banyak bertanya mengenai wong Samin, ternyata itu untuk menulis karya ilmiah untuk memeroleh gelar kesarjanaan."
Masih banyak lagi kisah itu. Entah kapan saya sempat mengumpulkannya menjadi otobiografi. Pada ulang tahun ke-60, tanggal 1--2 Mei lalu, saya gagal merampungkannya. Entahlah! Salam. (*MMeSeM/TelukAngsan17052014.01:29).-
Label:
diri,
jangka langit
19.48

Kami menuju rumah Kartono,S.E., M.M., anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupatèn itu dariFraksi Demokrat, untuk wawancara perihal potensi wilayah tersebut, baik dibidang ekonomi maupun seni tradisi.
Dalam benak kami, sudahterbayang bahwasanya kami akan memeroleh data tangan pertama mengenaiperdagangan gelap kayu jati di sana.Kartono dulu lurah di desa tersebut. Yang menggantikannya istrinya, yang menangdalam pemilihan.
Saat itu saya pemimpinredaksi Koran Mingguan Berita Rakyat, yang berkantor di Jalan Pemuda No.71C, Kota Cepu, merangkap reporter, sedangkan kartunis Pèk Haré bertanggungjawab mengurus perolehan iklan, selain menjadi ilustrator.
Di kota Kecamatan Purwosari, dari jalan besaryang menghubungkan Cepu dan Bojonegoro, kami belok ke kanan. Setelah melompatirel kereta api, semestinya kami mengambil jalan belok ke kiri. Akan tetapi,kami lurus saja, menerabas perkampungan dan persawahan.
Karena merasa terlalu jauhmelambung, di tengah jalan, kami bertanya kepada pelintas jalan yang kami dugapenduduk setempat berapa Kilometer lagi kami akan sampai di Desa Kacangan?
“Bapak lurus saja, sampai dihutan Malingmati, belok kiri, kira-kira 28 Km lagi. Setelah Polsek Ngambon,Bapak akan sampai,” kata orang itu, pengendara motor yang sedang istirahat.Entah menuju ke mana ia.
Kantor Kepolisian Negara R.I.Sektor Ngambon? Itu berarti kami sudah masuk kecamatan lain. Sayaterheran-heran, koq ada desa dinamai Malingmati. Sesampai di sana, sejauh-jauh matasaya memandang, saya hanya mendapati pohon jati tua. Pohonnya tinggi-tinggi,mencakar langit.
Itulah perkenalan saya denganhutan di Malingmati. Karena tidak mengetahui betapa penting rimba tersebut,saya juga tidak menanyakannya kepada sumber berita yang saya temui di rumah Kartonoyang merangkap Kantor Lurah Kacangan.
(0) Hutan Monumen
Selain ditetapkan sebagaihutan monumen, kawasan hutanseluas 99,9 hektare (ha.) di petak 84 C yang di tengahnya berdiri pohon jatiraksasa berdiameter 557 cm ini dikembangkan menjadi usaha wisata ilmiah.
“Wisata ilmiah ini… segeraterwujud, sebab di sekitarnya juga terdapat areal pusat kegiatan pembibitanjati plus untuk kebutuhan rehabilitasi hutan Jåwå dan Madurå, sehingga apabiladipadukan(, akan) menjadi objek wisata yang tiada duanya(, khususnya) untukmengetahui kecintaan kita terhadap hutan dan fungsinya,” kata pejabat Hubungan MasyarakatKPH Padangan, Tarso, di kantornya, Rabu 8 Oktober 2008 pagi.
Perhutani Padangan telahmengamankan keberadaan pohon jati raksasa itu, dengan cara menempatkan Polisi HutanTerpadu (Polhuter) selama 24 jam di dua pos pengamanan hutan yang berdekatandengan tempat berdirinya pohon itu.
Menurut Tarso, gagasan untukmembuka usaha wisata ilmiah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karenaprosesnya melalui tahap panjang, di antaranya mulai dari awal: mendapatkanpenetapan kawasan pohon jati raksasa sebagai hutan monumen pada tahun 2005, melaluisurat Kepala DivisiPerhutani bernomor 80/043.3/Can/Dir/2005 tertanggal 15 Maret 2005.
Soal hutan monumen, Tarsomenjelaskan pohon jati raksasa itu telah menjadi fenonema. Lokasi berdirinya berdekatandengan masyarakat desa. Penanamannya dimulai pada zaman pemerintah kolonial HindiaBelanda, tepatnya pada tahun 1857. Hamparan pohon jati raksasa dipagari dengankawat berduri yang kemudian oleh warga desa disebut sebagai hutan kawatberduri.
Selain itu, dari pohon jatiraksasa itu juga didapatkan benih jati pluslima ton dalamsetahun. Untuk satu Kilogramnya saja, dapat diperoleh 1.200 biji jati. Biji unggulanitu kemudian disemaikan dalam areal pembenihan yang berada di sekitar pohon.
Untuk menuju lokasi pohonjati raksasa itu, hawanya sangat sejuk, dengan kondisi jalan yang berkelokdipenuhi berbagai rintangan alam, sekaligus juga dengan pemandangan pepohonanjati yang masih rindang dengan sesekali berlintasan jenis hewan hutan disekitarnya, kata Tarso.
Menurut informasi yangdihimpun dari Rayon I Perum Perhutani Bojonegoro, pohon jati raksasa ituditanam pada tahun 1857, sekaligus merupakan salah satu tinggalan arsitekkehutanan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman W. Daendels.
Ketika itu, H.W. Daendelsmembuat dan membentuk organisasi teritorial kehutanan di Pulau Jåwå. Ia memperlakukankhusus pepohonan jati dengan mengeluarkan Undang-Undang Kehutanan. Tujuannya ialahagar pohon jati ditebang harus sesuai masa umurnya (masa tebang).
Namun, masa reformasi dankrisis moneter melanda Tanah Air. Pelaku illegallogging secara besar besaran memanfaatkan situasi ini untuk merambahkawasan hutan. Akibatnya pohon jati tua pun disikat habis dan hanya disisakansatu pohon.
“Pohon jati sebesar ini hanyaada satu di Tanah Air, ya di sini ini,” kata Tarso selaku mantri di kawasansekitar pohon jati raksasa.[2]
(Martin Moentadhim S.M.)
(Tulisan dalam Pengembang) HUTAN MALINGMATI PETAK TUA 1857
Written By Madani on Sabtu, 03 Mei 2014 | 19.48

TANPA ILMU BUMI sama sekali, pada hari
Senin 28Agustus 2011.07:30, saya hanya bisa duduk manis diboncengkan
oleh Pèk Harédengan sepeda motornya menuju Desa Kacangan, Kecamatan
Tambakrejo, KabupatènBojonegoro, Jåwå Timur.
Kami menuju rumah Kartono,S.E., M.M., anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupatèn itu dariFraksi Demokrat, untuk wawancara perihal potensi wilayah tersebut, baik dibidang ekonomi maupun seni tradisi.
Dalam benak kami, sudahterbayang bahwasanya kami akan memeroleh data tangan pertama mengenaiperdagangan gelap kayu jati di sana.Kartono dulu lurah di desa tersebut. Yang menggantikannya istrinya, yang menangdalam pemilihan.
Saat itu saya pemimpinredaksi Koran Mingguan Berita Rakyat, yang berkantor di Jalan Pemuda No.71C, Kota Cepu, merangkap reporter, sedangkan kartunis Pèk Haré bertanggungjawab mengurus perolehan iklan, selain menjadi ilustrator.
Di kota Kecamatan Purwosari, dari jalan besaryang menghubungkan Cepu dan Bojonegoro, kami belok ke kanan. Setelah melompatirel kereta api, semestinya kami mengambil jalan belok ke kiri. Akan tetapi,kami lurus saja, menerabas perkampungan dan persawahan.
Karena merasa terlalu jauhmelambung, di tengah jalan, kami bertanya kepada pelintas jalan yang kami dugapenduduk setempat berapa Kilometer lagi kami akan sampai di Desa Kacangan?
“Bapak lurus saja, sampai dihutan Malingmati, belok kiri, kira-kira 28 Km lagi. Setelah Polsek Ngambon,Bapak akan sampai,” kata orang itu, pengendara motor yang sedang istirahat.Entah menuju ke mana ia.
Kantor Kepolisian Negara R.I.Sektor Ngambon? Itu berarti kami sudah masuk kecamatan lain. Sayaterheran-heran, koq ada desa dinamai Malingmati. Sesampai di sana, sejauh-jauh matasaya memandang, saya hanya mendapati pohon jati tua. Pohonnya tinggi-tinggi,mencakar langit.
Itulah perkenalan saya denganhutan di Malingmati. Karena tidak mengetahui betapa penting rimba tersebut,saya juga tidak menanyakannya kepada sumber berita yang saya temui di rumah Kartonoyang merangkap Kantor Lurah Kacangan.
(0) Hutan Monumen
MENURUT
ADMINISTRASI kehutanan, rimba di DesaMalingmati itu termasuk dalam
wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kaliaren, BagianKesatuan
Pemangkuan Hutan (BKPH) Kaliaren Barat, Kesatuan PemangkuanHutan (KPH)
Padangan.[1]
Selain ditetapkan sebagaihutan monumen, kawasan hutanseluas 99,9 hektare (ha.) di petak 84 C yang di tengahnya berdiri pohon jatiraksasa berdiameter 557 cm ini dikembangkan menjadi usaha wisata ilmiah.
“Wisata ilmiah ini… segeraterwujud, sebab di sekitarnya juga terdapat areal pusat kegiatan pembibitanjati plus untuk kebutuhan rehabilitasi hutan Jåwå dan Madurå, sehingga apabiladipadukan(, akan) menjadi objek wisata yang tiada duanya(, khususnya) untukmengetahui kecintaan kita terhadap hutan dan fungsinya,” kata pejabat Hubungan MasyarakatKPH Padangan, Tarso, di kantornya, Rabu 8 Oktober 2008 pagi.
Perhutani Padangan telahmengamankan keberadaan pohon jati raksasa itu, dengan cara menempatkan Polisi HutanTerpadu (Polhuter) selama 24 jam di dua pos pengamanan hutan yang berdekatandengan tempat berdirinya pohon itu.
Menurut Tarso, gagasan untukmembuka usaha wisata ilmiah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karenaprosesnya melalui tahap panjang, di antaranya mulai dari awal: mendapatkanpenetapan kawasan pohon jati raksasa sebagai hutan monumen pada tahun 2005, melaluisurat Kepala DivisiPerhutani bernomor 80/043.3/Can/Dir/2005 tertanggal 15 Maret 2005.
Soal hutan monumen, Tarsomenjelaskan pohon jati raksasa itu telah menjadi fenonema. Lokasi berdirinya berdekatandengan masyarakat desa. Penanamannya dimulai pada zaman pemerintah kolonial HindiaBelanda, tepatnya pada tahun 1857. Hamparan pohon jati raksasa dipagari dengankawat berduri yang kemudian oleh warga desa disebut sebagai hutan kawatberduri.
Selain itu, dari pohon jatiraksasa itu juga didapatkan benih jati pluslima ton dalamsetahun. Untuk satu Kilogramnya saja, dapat diperoleh 1.200 biji jati. Biji unggulanitu kemudian disemaikan dalam areal pembenihan yang berada di sekitar pohon.
Untuk menuju lokasi pohonjati raksasa itu, hawanya sangat sejuk, dengan kondisi jalan yang berkelokdipenuhi berbagai rintangan alam, sekaligus juga dengan pemandangan pepohonanjati yang masih rindang dengan sesekali berlintasan jenis hewan hutan disekitarnya, kata Tarso.
Menurut informasi yangdihimpun dari Rayon I Perum Perhutani Bojonegoro, pohon jati raksasa ituditanam pada tahun 1857, sekaligus merupakan salah satu tinggalan arsitekkehutanan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman W. Daendels.
Ketika itu, H.W. Daendelsmembuat dan membentuk organisasi teritorial kehutanan di Pulau Jåwå. Ia memperlakukankhusus pepohonan jati dengan mengeluarkan Undang-Undang Kehutanan. Tujuannya ialahagar pohon jati ditebang harus sesuai masa umurnya (masa tebang).
Namun, masa reformasi dankrisis moneter melanda Tanah Air. Pelaku illegallogging secara besar besaran memanfaatkan situasi ini untuk merambahkawasan hutan. Akibatnya pohon jati tua pun disikat habis dan hanya disisakansatu pohon.
“Pohon jati sebesar ini hanyaada satu di Tanah Air, ya di sini ini,” kata Tarso selaku mantri di kawasansekitar pohon jati raksasa.[2]
(Martin Moentadhim S.M.)
[1] Ren, “Amankan Jati Raksasa, Usaha WisataIlmiah,” dalam Surabaya Post,sebagaimana dikutip dalam http://publik.bumn.go.id/perhutani/, 9 Oktober 2008.
[2] Ibid.
Label:
jangka langit,
lingkungan
20.20

DAPATKAH ANDA JUJUR menjawab pertanyaan berikut: apa yang Anda rasakan ketika perayaan nasional Hari Kartini pada setiap tanggal 21 April diisi dengan tradisi berpakaian nasional kebaya, lomba masak, dan peragaan busana?
Ini kisah dari daerah yang sangat patriotik, Seroja, Bekasi Utara, Kota Bekasi, kompleks pejuang pembebasan Timor Timur. Seorang pemuda berdarah Kebumen anak turun salah satu patriot tersebut berani jujur, bahkan marah-marah. Stt, ia biasa turun ke jalan, menjadi demonstran atau pengunjuk rasa.
“Apa sih jasa Kartini? Pejuang emansipasi wanita? Dia kan hanya menulis surat? Dia kan tetap menjalani kawin paksa,” katanya penuh emosi, pada suatu ketika selepas siaran radio bersama penulis.
Kepadanya pun penulis jelaskan apa yang diperbuat oleh Raden Ajeng (R.A.) Kartini secara nyata. Misalnya mengajar anak-anak di sekitarnya membaca dan menulis. Dia juga menggali kembali ketrampilan mengukir kayu dan mengajarkannya kepada para pemuda.
Anak Seroja yang patriotik itu tetap saja tidak mau mengerti. Kartini memang berjuang di alam pemikiran, mendobrak cara bernalar kuna, orang Jawa khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya ketika itu. Dia mengangkat pena, bukan senjata seperti ayah pemuda demonstran itu.
Perjuangannya memang abstrak. Dalam surat-surat itu, Kartini menulis impian akan bayangan masa depan yang diangan-angankannya. Adakah keberhasilan di dunia ini yang tidak didahului dengan impian, angan-angan, yang bahasa canggihnya visi?
Agaknya anak muda sekarang perlu diajar kembali cara menghargai perjuangan batin. Penekanan bahwa kemerdekaan Indonesia dicapai melalui revolusi atau angkat senjata, walau alatnya kebanyakan bambu runcing, telah memberikan kesan yang keliru. Mereka harus diberi tahu bahwa perjuangan di alam pemikiran sama pentingnya dengan angkat senjata.
Antara Ingin Berontak dan Cinta Bapak
Kartini ingin memberontak, tapi dia masih menenggang perasaan orang tuanya. Ini tecermin dalam suratnya kepada Nona Stella Zoohandelaar. Berikut ini petikannya.
“Manakan aku akan menang, bila tiada aku berjuang? Manakan aku akan mendapat, bila tiada aku cari? Tiada berjuang, tiada menang! Aku akan berjuang, Stella! Aku tiada gentar karena keberatan dan kesukaran, rasaku cukup kuatnya aku akan mengalahkan sekaliannya itu. Tetapi, ada yang sungguh aku segani, Stella, aku sayang akan Bapak dengan segenap sukmaku. Belum tentu hatiku, entah akan beranikah aku meneruskan kehendakku, bila akan melukai hatinya, hatinya yang kasih sayang kepada kami itu!”
Dalam prakata buku kumpulan suratnya, "Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang), Direktur Departemen Pengajaran Agama dan Kerajinan saat itu, Mr. J.H. Abendanon, menyatakan ia memahami jiwa Kartini. “Saya terutama tertarik akan surat-surat Kartini yang mengandung pemikiran dan rasa hati yang sangat luhur. Tekadnya untuk mengusahakan kebahagiaan serta kemakmuran rakyat, terutama kaumnya, sangat kuat sekali.”
Demikian pula salah satu sahabat penanya, Nyonya Ovink Soor. Dia ini menulis pada harian "De Hollandsche Lelie" terbitan 30 November 1904. “Yang dapat kusaksikan tak lain ialah kemuliaan hatinya. Selamanya beliau ikhlas mengorbankan diri dan mencintai pengorbanan. Yang diutamakan oleh beliau hanya kebahagiaan serta kemakmuran bagi orang lain, bukan bagi dirinya sendiri. Anda akan tetap kukenang selama hayatku.”
Lebih dari itu, pandangan Kartini tentang agama mengundang kekaguman Ibu Negara Amerika Serikat ketika itu, Eleanor Roosevelt. “Saya senang sekali memperoleh pandangan tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam salah satu surat itu menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: ‘Kami merasa bahwa inti dari semua agama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia?’ Daripada mempersatuan kita, agama sering sekali memaksa kita berpisah dan bahkan gadis yang muda ini menyadarinya bahwa dia harus menjadi kekuatan pemersatu.”
Apa arti semua komentar dan cuplikan tulisan Kartini ini? Bangsa lain begitu menghargai Kartini, marilah kita menghargainya juga dengan cara mencoba mewujudkan cita-citanya: kemakmuran bagi kita semua. Dan juga menggunakan agama sebagai kekuatan pemersatu.
Sanggar Jangka Langit, Friday, April 11, 2008.11:24:45.
[Buka Jendela] KARTINI: AGAMA KEKUATAN PEMERSATU
Written By Madani on Minggu, 20 April 2014 | 20.20

DAPATKAH ANDA JUJUR menjawab pertanyaan berikut: apa yang Anda rasakan ketika perayaan nasional Hari Kartini pada setiap tanggal 21 April diisi dengan tradisi berpakaian nasional kebaya, lomba masak, dan peragaan busana?
Ini kisah dari daerah yang sangat patriotik, Seroja, Bekasi Utara, Kota Bekasi, kompleks pejuang pembebasan Timor Timur. Seorang pemuda berdarah Kebumen anak turun salah satu patriot tersebut berani jujur, bahkan marah-marah. Stt, ia biasa turun ke jalan, menjadi demonstran atau pengunjuk rasa.
“Apa sih jasa Kartini? Pejuang emansipasi wanita? Dia kan hanya menulis surat? Dia kan tetap menjalani kawin paksa,” katanya penuh emosi, pada suatu ketika selepas siaran radio bersama penulis.
Kepadanya pun penulis jelaskan apa yang diperbuat oleh Raden Ajeng (R.A.) Kartini secara nyata. Misalnya mengajar anak-anak di sekitarnya membaca dan menulis. Dia juga menggali kembali ketrampilan mengukir kayu dan mengajarkannya kepada para pemuda.
Anak Seroja yang patriotik itu tetap saja tidak mau mengerti. Kartini memang berjuang di alam pemikiran, mendobrak cara bernalar kuna, orang Jawa khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya ketika itu. Dia mengangkat pena, bukan senjata seperti ayah pemuda demonstran itu.
Perjuangannya memang abstrak. Dalam surat-surat itu, Kartini menulis impian akan bayangan masa depan yang diangan-angankannya. Adakah keberhasilan di dunia ini yang tidak didahului dengan impian, angan-angan, yang bahasa canggihnya visi?
Agaknya anak muda sekarang perlu diajar kembali cara menghargai perjuangan batin. Penekanan bahwa kemerdekaan Indonesia dicapai melalui revolusi atau angkat senjata, walau alatnya kebanyakan bambu runcing, telah memberikan kesan yang keliru. Mereka harus diberi tahu bahwa perjuangan di alam pemikiran sama pentingnya dengan angkat senjata.
Antara Ingin Berontak dan Cinta Bapak
Kartini ingin memberontak, tapi dia masih menenggang perasaan orang tuanya. Ini tecermin dalam suratnya kepada Nona Stella Zoohandelaar. Berikut ini petikannya.
“Manakan aku akan menang, bila tiada aku berjuang? Manakan aku akan mendapat, bila tiada aku cari? Tiada berjuang, tiada menang! Aku akan berjuang, Stella! Aku tiada gentar karena keberatan dan kesukaran, rasaku cukup kuatnya aku akan mengalahkan sekaliannya itu. Tetapi, ada yang sungguh aku segani, Stella, aku sayang akan Bapak dengan segenap sukmaku. Belum tentu hatiku, entah akan beranikah aku meneruskan kehendakku, bila akan melukai hatinya, hatinya yang kasih sayang kepada kami itu!”
Dalam prakata buku kumpulan suratnya, "Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang), Direktur Departemen Pengajaran Agama dan Kerajinan saat itu, Mr. J.H. Abendanon, menyatakan ia memahami jiwa Kartini. “Saya terutama tertarik akan surat-surat Kartini yang mengandung pemikiran dan rasa hati yang sangat luhur. Tekadnya untuk mengusahakan kebahagiaan serta kemakmuran rakyat, terutama kaumnya, sangat kuat sekali.”
Demikian pula salah satu sahabat penanya, Nyonya Ovink Soor. Dia ini menulis pada harian "De Hollandsche Lelie" terbitan 30 November 1904. “Yang dapat kusaksikan tak lain ialah kemuliaan hatinya. Selamanya beliau ikhlas mengorbankan diri dan mencintai pengorbanan. Yang diutamakan oleh beliau hanya kebahagiaan serta kemakmuran bagi orang lain, bukan bagi dirinya sendiri. Anda akan tetap kukenang selama hayatku.”
Lebih dari itu, pandangan Kartini tentang agama mengundang kekaguman Ibu Negara Amerika Serikat ketika itu, Eleanor Roosevelt. “Saya senang sekali memperoleh pandangan tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam salah satu surat itu menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: ‘Kami merasa bahwa inti dari semua agama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia?’ Daripada mempersatuan kita, agama sering sekali memaksa kita berpisah dan bahkan gadis yang muda ini menyadarinya bahwa dia harus menjadi kekuatan pemersatu.”
Apa arti semua komentar dan cuplikan tulisan Kartini ini? Bangsa lain begitu menghargai Kartini, marilah kita menghargainya juga dengan cara mencoba mewujudkan cita-citanya: kemakmuran bagi kita semua. Dan juga menggunakan agama sebagai kekuatan pemersatu.
Sanggar Jangka Langit, Friday, April 11, 2008.11:24:45.
Label:
jangka langit,
jurnal jipang
07.50

[Sejarah Kampung Lahirku] PANGÉRAN JÅYÅDIPÅ MBABAD ALAS MBANGUN MBLORÅ
KONSEP MBABAD ALAS (membuka hutan) untukmembangun permukiman yang kemudian berkembang dari desa menjadi kota ternyataterjadi juga pada Blora, yang kini kota kabupatèn di wilayah Provinsi JåwåTengah. Saya bahkan yakin hal ini berlangsung beberapa kali, mengingat Bloraitu kota yang sangat tua, cukup sering berganti nama, dan mengalami bumihangus, baik oleh alam maupun akibat perang.
Salah satu tokoh yang mbabadalas untuk membangun kota Blora ialah Gusti Kanjeng Jåyådipå, putraPangéran Suråbahu yang secara anumerta oleh masyarakat Blora digelari Sunan Pojok,yang makamnya kini terletak di pojok barat daya Alun-alun Kota Saté, berada diantara kompleks pertokoan dan kantor. Bagaimana kisah mbabad alas ini?
“Seminggu sesudah PangéranSuråbahu (‘Abd al-Råhim[1]) meninggal, keluargaserta… prajurit pengikutnya kembali ke Mataram(. Tetapi,)… putra PangéranSuråbahu, Jåyådipå, tidak mau pulang dan… menunggui makam ayahnya.” Demikianditulis dalam laporan hasil survei Jurusan Sejarah, Fakultas KeguruanIlmu-Sosial (FKIS), Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP, kini UniversitasNegeri) Semarang, pada tahun 1971.[2]
“Dengan diikuti oleh…pengikutnya, yaitu orang… dari Tuban, Lasem, Rembang, Pati, (dan) Kudus, lalu(Jåyådipå) mbabad alas (membuka hutan) di tempat yang sekarang menjadikota Blora. Berita tentang adanya perkampungan baru itu makin tersiar luas,sehingga banyak orang yang datang di situ dan menetap. Atas inisiatif Jåyådipå,…dibentuklah… pemerintahan dan didirikan lumbung bahan makanan di… bukit kecil.”[3]
“Sesudah staf pemerintahansempurna, mirip staf pemerintahan… (ka)bupati(an) dan penduduknya makin banyak,lalu (Jåyådipå) melaporkan(nya) ke Mataram…. Sunan Amangkurat II… merestuiberdirinya kabupatèn[4] baru itu dan mengangkatJåyådipå sebagai bupatinya. (Dengan) demikian(,…) berdirilah Kabupatèn Bloradengan bupati pertama Jåyådipå, yang terkenal dengan gelar Gusti KanjengJåyådipå.”[5]
Ketika menulis sampai disini, pertanyaan pun muncul di benak saya:
1. Siapakah Pangéran Suråbahu? Kapan tokoh inimeninggal? Apakah turunannya masih ada sampai sekarang?
2. Kota Blora sebenarnya berdiri pada era KesultananMataram (k. 1575--1677 M) atau pada masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat II(k. 1680--1702 M)?
Mari kita kaji pelan-pelandengan seksama, sesuai dengan data yang saya bisa peroleh. Dari mana kita harusmulai? Kita bahas angka tahun kematiannya dulu.

Tradisi haulan di Makam SunanPojok. (Foto: Diparda Blora)
(1) Benarkah Meninggal pada era Mataram?
Penulisan angka tahun dengandua angka terakhir mengapit garis miring ini menunjukkan bahwa data aslinyamenggunakan tahun Çåkå/Jåwå. Tetapi, sayang, hasil penelitian itu tidak menuliskansecara rinci, baik angka tahun Çåkå/Jåwå itu maupun sumber datanya.
Namun, bila angka tahun itubenar, Pangéran Suråbahu memang meninggal pada masa kekuasaan pusat masihberada di tangan raja Kesultanan Mataram (k. 1575--1677 M) yang berkedudukan diPlèrèd. Tetapi, angka tahun 1673/4 M itu pasti bukanlah pada era SusuhunanAmangkurat II (k. 1680--1702 M), melainkan ayahnya, Radèn Mas (R.M.) Sayidin.
Berikut ini senarai rajaMataram, dimulai dari pendirinya:
1. R. Danang Sutåwijåyå gelar Panembahan Sénåpati(k. 1575[7]--1601 M),
2. R.M. Jolang gelar Panembahan Hanyåkråwati (k.1601--1613 M),
3. R.M. Wuryah gelar Pangéran Adipati Martåpurå (h.1605--1688 M), yang hanya berkuasa satu hari pada tahun 1613 M,
4. R.M. Rangsang gelar Sultan Agung (k. 1613--1645M), dan
5. R.M. Sayidin gelar Çri Susuhunan Amangkurat Agungatau Amangkurat I (k. 1645--1677 M).[8]
Dan, ketika pada hari Ahad 1Juli 2012, melalui pesan singkat (SMS), saya tanyakan kepada sahabat saya,Soelistijono Rst. gelar Ki Panji Konang, yang saya akrab memanggilnya KungLies, beliau menyatakan bahwa pada tahun 1673/4 M, hari Jum’at Pon jatuh padatanggal:
1. 17 Maret 1673 M, yang bertepatan dengan 20Dulkaidah 1083 Hijriyah atau 20 Selå 1595 Jåwå,
2. 2 Maret 1674 M, 24 Dulkaidah 1084 H, 24 Selå1596 J.
Dengan demikian, bisakahditarik simpulan bahwa Kota Blora mulai dibangun oleh Gusti Kanjeng Jåyådipåpada tanggal 24 Maret 1673 M atau 9 Maret 1674 M? Bagaimana pula kalau itu hariJum’at Pon yang lain? Dengan kata lain, kita masih punya pekerjaan rumahmenetapkan salah satu tanggal di antaranya.
Sekarang, kita bahas dulu siapasebenarnya Pangéran Suråbahu….

Gapura Makam Sunan Pojok. (Foto: Erlisy)
(2) Lurah Prajurit Mataram?
“(Orang) Tuban ternyataberdiri (tegak) di belakang (benteng) untuk mempertahankan haknya. Pertempuranterjadi selama 18 hari dan akhirnya Tuban menderita kekalahan. PangéranSuråbahu kemudian (mengangkat diri) menjadi bupati militer di Tuban.”
“Setelah Tuban aman kembali,Pangéran Suråbahu (bermaksud) kembali ke Mataram untuk melapor…, dengandiiringi oleh separo… pasukannya. Perjalanan itu melewati: Jatirogo, Jepon,Ngrapèng, Jurang Jero, Karangkono, dan Teleng.”
“Setiba… di Teleng, PangéranSuråbahu beserta pengawalnya beristirahat dan mendirikan kemah. Karena lelah…,Pangéran Suråbahu jatuh sakit dan makin lama makin keras….”
“(Ketika) merasa… sakitnyatidak akan sembuh kembali,… Pangéran Suråbahu memberi(kan) amanat: ‘menåwåaku dipund(h)ut Pangéran ånå ing kéné,… aku disarèkaké ånå sangisoré olèhkusaré iki, terus diked(h)uk waé’ (bila aku meninggal di sini,… kubur aku dibawah tempat aku tidur ini, langsung digali saja).”
“Sebelum Pangéran Suråbahumeninggal,… dikirim utusan untuk memberitahukan tentang sakit… PangéranSuråbahu kepada keluarganya di Mataram. Setelah keluarganya dari Mataramdatang,… Pangéran Suråbahu meninggal, tepat pada hari Jum’at Pon tahun 1673/4 (M).”[10]
Sayang, hasil survei initidak menyebutkan siapa sumber kisah ini. Oh ya, bagi saya, pernyataan enamparagraf ini aneh, terutama yang pertama. Kenapa kecemasan terhadap kemungkinanTuban akan memberontak dikait-kaitkan dengan pemberontakan Kadipatèn Pajangterhadap Kesultanan Mataram?
(Survei dan penulisan ini belum selesai. Penulis sakit dan kehabisan biaya, terpaksa cari makan dulu di perantauan. Fotonya juga tidak terpunggah. Salam.)
Catatan kaki:
[Sejarah Kampung Lahirku] PANGÉRAN JÅYÅDIPÅ MBABAD ALAS MBANGUN MBLORÅ
Written By Redaksi on Rabu, 29 Januari 2014 | 07.50

[Sejarah Kampung Lahirku] PANGÉRAN JÅYÅDIPÅ MBABAD ALAS MBANGUN MBLORÅ
KONSEP MBABAD ALAS (membuka hutan) untukmembangun permukiman yang kemudian berkembang dari desa menjadi kota ternyataterjadi juga pada Blora, yang kini kota kabupatèn di wilayah Provinsi JåwåTengah. Saya bahkan yakin hal ini berlangsung beberapa kali, mengingat Bloraitu kota yang sangat tua, cukup sering berganti nama, dan mengalami bumihangus, baik oleh alam maupun akibat perang.
Salah satu tokoh yang mbabadalas untuk membangun kota Blora ialah Gusti Kanjeng Jåyådipå, putraPangéran Suråbahu yang secara anumerta oleh masyarakat Blora digelari Sunan Pojok,yang makamnya kini terletak di pojok barat daya Alun-alun Kota Saté, berada diantara kompleks pertokoan dan kantor. Bagaimana kisah mbabad alas ini?
“Seminggu sesudah PangéranSuråbahu (‘Abd al-Råhim[1]) meninggal, keluargaserta… prajurit pengikutnya kembali ke Mataram(. Tetapi,)… putra PangéranSuråbahu, Jåyådipå, tidak mau pulang dan… menunggui makam ayahnya.” Demikianditulis dalam laporan hasil survei Jurusan Sejarah, Fakultas KeguruanIlmu-Sosial (FKIS), Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP, kini UniversitasNegeri) Semarang, pada tahun 1971.[2]
“Dengan diikuti oleh…pengikutnya, yaitu orang… dari Tuban, Lasem, Rembang, Pati, (dan) Kudus, lalu(Jåyådipå) mbabad alas (membuka hutan) di tempat yang sekarang menjadikota Blora. Berita tentang adanya perkampungan baru itu makin tersiar luas,sehingga banyak orang yang datang di situ dan menetap. Atas inisiatif Jåyådipå,…dibentuklah… pemerintahan dan didirikan lumbung bahan makanan di… bukit kecil.”[3]
“Sesudah staf pemerintahansempurna, mirip staf pemerintahan… (ka)bupati(an) dan penduduknya makin banyak,lalu (Jåyådipå) melaporkan(nya) ke Mataram…. Sunan Amangkurat II… merestuiberdirinya kabupatèn[4] baru itu dan mengangkatJåyådipå sebagai bupatinya. (Dengan) demikian(,…) berdirilah Kabupatèn Bloradengan bupati pertama Jåyådipå, yang terkenal dengan gelar Gusti KanjengJåyådipå.”[5]
Ketika menulis sampai disini, pertanyaan pun muncul di benak saya:
1. Siapakah Pangéran Suråbahu? Kapan tokoh inimeninggal? Apakah turunannya masih ada sampai sekarang?
2. Kota Blora sebenarnya berdiri pada era KesultananMataram (k. 1575--1677 M) atau pada masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat II(k. 1680--1702 M)?
Mari kita kaji pelan-pelandengan seksama, sesuai dengan data yang saya bisa peroleh. Dari mana kita harusmulai? Kita bahas angka tahun kematiannya dulu.
Tradisi haulan di Makam SunanPojok. (Foto: Diparda Blora)
(1) Benarkah Meninggal pada era Mataram?
MENURUT
HASIL survei IKIP Semarang yangdilaksanakan pada tahun 1971 itu,
“Pangéran Suråbahu meninggal… pada hari Jum’atPon tahun 1673/4 (M).”[6]
Penulisan angka tahun dengandua angka terakhir mengapit garis miring ini menunjukkan bahwa data aslinyamenggunakan tahun Çåkå/Jåwå. Tetapi, sayang, hasil penelitian itu tidak menuliskansecara rinci, baik angka tahun Çåkå/Jåwå itu maupun sumber datanya.
Namun, bila angka tahun itubenar, Pangéran Suråbahu memang meninggal pada masa kekuasaan pusat masihberada di tangan raja Kesultanan Mataram (k. 1575--1677 M) yang berkedudukan diPlèrèd. Tetapi, angka tahun 1673/4 M itu pasti bukanlah pada era SusuhunanAmangkurat II (k. 1680--1702 M), melainkan ayahnya, Radèn Mas (R.M.) Sayidin.
Berikut ini senarai rajaMataram, dimulai dari pendirinya:
1. R. Danang Sutåwijåyå gelar Panembahan Sénåpati(k. 1575[7]--1601 M),
2. R.M. Jolang gelar Panembahan Hanyåkråwati (k.1601--1613 M),
3. R.M. Wuryah gelar Pangéran Adipati Martåpurå (h.1605--1688 M), yang hanya berkuasa satu hari pada tahun 1613 M,
4. R.M. Rangsang gelar Sultan Agung (k. 1613--1645M), dan
5. R.M. Sayidin gelar Çri Susuhunan Amangkurat Agungatau Amangkurat I (k. 1645--1677 M).[8]
Dan, ketika pada hari Ahad 1Juli 2012, melalui pesan singkat (SMS), saya tanyakan kepada sahabat saya,Soelistijono Rst. gelar Ki Panji Konang, yang saya akrab memanggilnya KungLies, beliau menyatakan bahwa pada tahun 1673/4 M, hari Jum’at Pon jatuh padatanggal:
1. 17 Maret 1673 M, yang bertepatan dengan 20Dulkaidah 1083 Hijriyah atau 20 Selå 1595 Jåwå,
2. 2 Maret 1674 M, 24 Dulkaidah 1084 H, 24 Selå1596 J.
Dengan demikian, bisakahditarik simpulan bahwa Kota Blora mulai dibangun oleh Gusti Kanjeng Jåyådipåpada tanggal 24 Maret 1673 M atau 9 Maret 1674 M? Bagaimana pula kalau itu hariJum’at Pon yang lain? Dengan kata lain, kita masih punya pekerjaan rumahmenetapkan salah satu tanggal di antaranya.
Sekarang, kita bahas dulu siapasebenarnya Pangéran Suråbahu….
Gapura Makam Sunan Pojok. (Foto: Erlisy)
(2) Lurah Prajurit Mataram?
AKAN HALNYA Pangéran Suråbahu, laporan hasilsurvei itu menyatakan, “Sunan Pojok atau Pangéran Suråbahu ialah lurahprajurit
(komandan pasukan) ekspedisi Mataram yang dikirim ke Tuban,
untukmemengaruhi Tuban supaya tidak mengikuti jejak Pajang memberontak
terhadapMataram sesudah (Sultan Pajang) Hadiwijåyå meninggal.”[9]
“(Orang) Tuban ternyataberdiri (tegak) di belakang (benteng) untuk mempertahankan haknya. Pertempuranterjadi selama 18 hari dan akhirnya Tuban menderita kekalahan. PangéranSuråbahu kemudian (mengangkat diri) menjadi bupati militer di Tuban.”
“Setelah Tuban aman kembali,Pangéran Suråbahu (bermaksud) kembali ke Mataram untuk melapor…, dengandiiringi oleh separo… pasukannya. Perjalanan itu melewati: Jatirogo, Jepon,Ngrapèng, Jurang Jero, Karangkono, dan Teleng.”
“Setiba… di Teleng, PangéranSuråbahu beserta pengawalnya beristirahat dan mendirikan kemah. Karena lelah…,Pangéran Suråbahu jatuh sakit dan makin lama makin keras….”
“(Ketika) merasa… sakitnyatidak akan sembuh kembali,… Pangéran Suråbahu memberi(kan) amanat: ‘menåwåaku dipund(h)ut Pangéran ånå ing kéné,… aku disarèkaké ånå sangisoré olèhkusaré iki, terus diked(h)uk waé’ (bila aku meninggal di sini,… kubur aku dibawah tempat aku tidur ini, langsung digali saja).”
“Sebelum Pangéran Suråbahumeninggal,… dikirim utusan untuk memberitahukan tentang sakit… PangéranSuråbahu kepada keluarganya di Mataram. Setelah keluarganya dari Mataramdatang,… Pangéran Suråbahu meninggal, tepat pada hari Jum’at Pon tahun 1673/4 (M).”[10]
Sayang, hasil survei initidak menyebutkan siapa sumber kisah ini. Oh ya, bagi saya, pernyataan enamparagraf ini aneh, terutama yang pertama. Kenapa kecemasan terhadap kemungkinanTuban akan memberontak dikait-kaitkan dengan pemberontakan Kadipatèn Pajangterhadap Kesultanan Mataram?
(Survei dan penulisan ini belum selesai. Penulis sakit dan kehabisan biaya, terpaksa cari makan dulu di perantauan. Fotonya juga tidak terpunggah. Salam.)
Catatan kaki:
[1] Nama Arabnya ini, saya ambil dari Anonim, “Wisata Ziarah: MakamSunan Pojok,” dalam http://www.blorakab.go.id/,tanpa tanggal.
[2] Anonim1, Laporan Hasil Survey Penggalian Sejarah danKebudayaan dalam rangka Pengembangan Kepariwisataan Propinsi Jawa Tengah,Jurusan Sejarah, Fakultas Keguruan Ilmu-Sosial, Institut Keguruan IlmuPendidikan (IKIP) Semarang, Semarang, 1971, halaman 45.
[3] Ibid.
[4] Saya ganti dari aslinya: kadipatèn, untuk menjagakesinambungan pengertian --Ki SNO.
[5] Anonim1, op.cit., Semarang, 1971, halaman 45.
[6] Anonim1, op.cit., Semarang, 1971, halaman 45.
[7] Saya lebih suka menghitung masa berkuasa Panembahan Sénåpatisejak
kematian Ki Pemanahan sebagai kepala perdikan Mentaok pada tahun
1575,karena sejak awal Danang Sutåwijåyå sudah berkehendak mendirikan
kerajaanberdaulat --Ki SNO.
[8] Krisna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad (editor), EnsiklopediRaja-Raja Jawa: Dari Kalingga hingga Kasultanan Yogyakarta, Araska,Yogyakarta, cetakan pertama, Mei 2011, halaman 100, 105. ISBN:978-601-9072-48-8.
[9] Anonim1, op.cit., Semarang, 1971, halaman 45.
[10] Anonim1, op.cit., Semarang, 1971, halaman 45.
Label:
jangka langit,
SuaraRajekwesi
02.21
Profil Sanggar Jangka Langit
Written By Unknown on Rabu, 30 Oktober 2013 | 02.21
SANGGAR JANGKA LANGIT
JANGKALANGIT.COM dikelola oleh Sanggar Jangka Langit. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) nirlaba (nonprofit) ini didirikan sebagai kelompok belajar Jangka Langit Study Club (JLC) oleh Martin Moentadhim S.M. pada tahun 1969 di Cepu, Jawa Tengah, dengan motto Knowledge is Power.
Setelah pendirinya bekerja sebagai wartawan di Jakarta pada tahun 1981, JLC dikelola dari Bekasi, Jawa Barat, masih sebagai kelompok belajar sepanjang hayat (longlife education), dengan anggota yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Bandung, Denpasar, dan Gorontalo.
Pada tahun 1987, dengan berganti nama menjadi Sanggar Jangka Langit (SJL), pengelolaan sehari-hari SJL diserahkan kepada Indah Mardiyani A.R. Soenoko, yang pernah belajar di Bengkel Muda Surabaya (BMS), dan kemudian Elies Soenokoputri agar SJL dapat mengkhususkan diri pada pembinaan dan pengembangan bakat seni lukis, terutama pada anak dan remaja usia tiga hingga 17 tahun.
Dalam perjalanannya, terutama sebagai bukti tanggung jawab sosial berada di tengah masyarakat, Sanggar Jangka Langit juga ikut membina anak yang memiliki keterbatasan mental (mentally retarded) seperti penderita autisme, agar tidak hanya terbina daya cipta atau kreativitasnya, melainkan juga tumbuh rasa percaya dirinya. Beberapa di antara mereka pernah berhasil menjuarai lomba lukis, dengan demikian orang tua mereka menjadi lebih bangga dan lebih yakin akan masa depan anak mereka.
Siswa binaan Sanggar Jangka Langit kini mencapai lebih dari 500 orang, tidak hanya berdomisili di wilayah Bekasi, tetapi juga di Jakarta, Bogor, bahkan Karawang. SJL juga ikut membina murid di sejumlah TK, SD, dan SLB yang bekerja sama dengan SJL dalam hal pengembangan bakat seni lukis.
Sebagian cukup besar anak binaan Sanggar Jangka Langit telah menunjukkan prestasi yang membanggakan, mulai dari tingkat nasional sampai tingkat dunia, seperti mendapatkan gold, silver, danbronze medal dalam International Children Art Festival pada tahun 1998,1999, dan 2000.
Beberapa tahun terakhir ini, Sanggar Jangka Langit telah mengadakan berbagai event lomba, di antaranya:
* pada tanggal 6 Juli 1999, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SLTP, yang bertempat di Toko Gunung Agung, Bekasi, yang mendapatkan dukungan dari:
1. Lions Club sebagai sponsor utama,
2. PT Sinar Sosro,
3. PT AIMI (Indomilk),
4. PT Mony Saga Prima,
5. Radio Gaya FM,
6. Toko Gunung Agung,
7. Bank Bukopin,
8. Sophie Martin, dan
9. Penerbit Antara Pustaka Utama (APU),
* pada tanggal 29 Agustus 1999, Lomba Lukis dan Busana untuk anak TK-SLTP, dalam rangka peringatan HUT RI, bertempat di Toko Gunung Agung, Kwitang, Jakarta Pusat, yang didukung oleh:
1. Ully Sigar Rusady,
2. PT Sinar Sosro,
3. PT AIMI (Indomilk),
4. PT Mony Saga Prima, dan
5. Toko Gunung Agung,
* pada tanggal 6 Mei 2001, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Silang Monas, Jakarta Pusat, didukung oleh:
1. PT Mony Saga Prima,
2. PT Indomobil,
3. Majalah Sehat,
4. Yayasan De Mono,
5. Creative Design,
6. PT Segoro Fajar Satryo, serta
7. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Halim Perdanakusumah,
* pada tanggal 7 Mei 2001, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Toko Gunung Agung, Bekasi, didukung oleh:
1. Toko Gunung Agung,
2. PT Sinar Sosro,
3. PT Mony Saga Prima,
4. Game Center EMI,
5. Restoran A&W,
6. Majalah Sehat,
7. Creative Design,
8. PT Segoro Fajar Satryo, serta
9. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Halim Perdanakusumah,
* pada tanggal 15 Oktober 2001, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, serta Pameran Lukisan, bertempat di Gedung Pertemuan Wisma Seroja, Bekasi, didukung oleh:
1. Radio Swara Nenggala,
2. PT Nippon Indosari Corp. (Sari Roti),
3. PT Mony Saga Prima,
4. Elex Media Komputindo, dan
5. Medifarma,
* pada tanggal 12 Mei 2002, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, serta Pameran Lukisan, bertempat di Plaza Hero Bekasi, didukung oleh:
1. RAPI Lokal 1 Wilayah 11 Bekasi,
2. Hero Supermarket,
3. PT Pharos (Igastrum Plus),
4. PT Nestle Indonesia,
5. PT AIMI (Indomilk),
6. PT Indofood Sukser Makmur,
7. MacDonald, dan
8. Yayasan Pendidikan GPL.
* pada tanggal 30 Juni 2002, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Arena Payung Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII, didukung oleh:
1. Museum Purna Bhakti Pertiwi,
2. PT Abbot Indonesia (Pediasure),
3. PT Indofood Sukser Makmur. dan
4. PT Pharos (Igastrum Plus).
* pada tanggal 12 Oktober 2003, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Ramayana Plaza Jl. A Yani, Bekasi, didukung oleh:
1. Ramayana Department Store,
2. PT Indofood Sukses Makmur,
3. Toko Prapatan,
4. Studio GNG,
5. Studio Lima,
6. PT Nippon Indosari Corp. (Sari Roti),
7. PT Niramas Utama (Inaco),
* pada tanggal 17 April 2005, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Hero Supermarket Jl K.H. Noer Ali, Bekasi, didukung oleh:
1. Hero Supermarket,
2. PT Abbot Indonesia (Gain Plus),
3. Toko Prapatan,
4. PT Arnott’s Indonesia
5. PT Ultra Prima Abadi,
6. PT Nirmala Lestari,
7. Yoko Bento, dan
8. MacDonald.
* pada tanggal 7 Mei 2006, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, serta Pameran Lukisan, bertempat di Plaza Hero Bekasi, didukung oleh:
1. Hero Supermarket,
2. Toko Prapatan,
3. PT Nippon Indosari Corp. (Sari Roti),
4. PT Mony Saga Prima,
5. City Club,
6. Sanggar Saraswati, Bogor,
7. PT Harpers (Sugus), dan
8. Yoko Bento.
Sebagai lembaga pembinaan daya cipta anak yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat, Sanggar Jangka Langit sudah merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri. Melalui berbagai event yang diadakan, Sanggar Jangka Langit selalu berusaha mewujudkan kepedulian sosial, dengan menyisihkan sedikit pendapatan dari event itu untuk disumbangkan kepada masyarakat yang kurang mampu dan anak jalanan.
Berangkat dari keprihatinan terhadap kenakalan remaja serta banyaknya anak yang putus sekolah dan terpaksa bekerja di jalanan, Sanggar Jangka Langit juga senantiasa berusaha ikut membina dan menyalurkan bakat anak agar tidak terjerumus ke jalan yang kurang baik.
Setelah pendirinya diberhentikan dari bidang kewartawanan pada tanggal 16 Januari 1999 dan diserahi tugas merintis Penerbit Antara Pustaka Utama (APU), Sanggar Jangka Langit berusaha menerbitkan buku sendiri dengan panji JLC Prod. Inc.
Langkah ini diawali dengan penerbitan buku Kebatinan Islam: Pengantar Menuju Pemahaman Mistik Islam karya Dr.(H.C.) Hasjim Darif Mirajim pada bulan Desember 2000 dan Enam Langkah Menggambar Mudah: (1) Dengan Pertolongan Abjad A-M, (2) Dengan Pertolongan Abjad N-Z, dan (3) Bermain Angka karya Indah A.R. Martin. Ketiga jilid buku yang akan dilengkapi dengan jilid berikutnya ini merupakan buku panduan cara menggambar yang gampang melalui berbagai langkah yang mudah diikuti oleh anak.
Demikian sekilas profil Sanggar Jangka Langit yang berusaha senantiasa memegang teguh misi pembinaan dan pengembangan sesuai dengan motto Knowledge is Power, bahwa pengetahuan itu kekuatan sejati, karena hanya lewat penguasaan pengetahuanlah kita semua dapat maju, dan masa yang paling baik untuk memperoleh pengetahuan ialah masa kanak-kanak. (*)
JANGKALANGIT.COM dikelola oleh Sanggar Jangka Langit. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) nirlaba (nonprofit) ini didirikan sebagai kelompok belajar Jangka Langit Study Club (JLC) oleh Martin Moentadhim S.M. pada tahun 1969 di Cepu, Jawa Tengah, dengan motto Knowledge is Power.
Setelah pendirinya bekerja sebagai wartawan di Jakarta pada tahun 1981, JLC dikelola dari Bekasi, Jawa Barat, masih sebagai kelompok belajar sepanjang hayat (longlife education), dengan anggota yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Bandung, Denpasar, dan Gorontalo.
Pada tahun 1987, dengan berganti nama menjadi Sanggar Jangka Langit (SJL), pengelolaan sehari-hari SJL diserahkan kepada Indah Mardiyani A.R. Soenoko, yang pernah belajar di Bengkel Muda Surabaya (BMS), dan kemudian Elies Soenokoputri agar SJL dapat mengkhususkan diri pada pembinaan dan pengembangan bakat seni lukis, terutama pada anak dan remaja usia tiga hingga 17 tahun.
Dalam perjalanannya, terutama sebagai bukti tanggung jawab sosial berada di tengah masyarakat, Sanggar Jangka Langit juga ikut membina anak yang memiliki keterbatasan mental (mentally retarded) seperti penderita autisme, agar tidak hanya terbina daya cipta atau kreativitasnya, melainkan juga tumbuh rasa percaya dirinya. Beberapa di antara mereka pernah berhasil menjuarai lomba lukis, dengan demikian orang tua mereka menjadi lebih bangga dan lebih yakin akan masa depan anak mereka.
Siswa binaan Sanggar Jangka Langit kini mencapai lebih dari 500 orang, tidak hanya berdomisili di wilayah Bekasi, tetapi juga di Jakarta, Bogor, bahkan Karawang. SJL juga ikut membina murid di sejumlah TK, SD, dan SLB yang bekerja sama dengan SJL dalam hal pengembangan bakat seni lukis.
Sebagian cukup besar anak binaan Sanggar Jangka Langit telah menunjukkan prestasi yang membanggakan, mulai dari tingkat nasional sampai tingkat dunia, seperti mendapatkan gold, silver, danbronze medal dalam International Children Art Festival pada tahun 1998,1999, dan 2000.
Beberapa tahun terakhir ini, Sanggar Jangka Langit telah mengadakan berbagai event lomba, di antaranya:
* pada tanggal 6 Juli 1999, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SLTP, yang bertempat di Toko Gunung Agung, Bekasi, yang mendapatkan dukungan dari:
1. Lions Club sebagai sponsor utama,
2. PT Sinar Sosro,
3. PT AIMI (Indomilk),
4. PT Mony Saga Prima,
5. Radio Gaya FM,
6. Toko Gunung Agung,
7. Bank Bukopin,
8. Sophie Martin, dan
9. Penerbit Antara Pustaka Utama (APU),
* pada tanggal 29 Agustus 1999, Lomba Lukis dan Busana untuk anak TK-SLTP, dalam rangka peringatan HUT RI, bertempat di Toko Gunung Agung, Kwitang, Jakarta Pusat, yang didukung oleh:
1. Ully Sigar Rusady,
2. PT Sinar Sosro,
3. PT AIMI (Indomilk),
4. PT Mony Saga Prima, dan
5. Toko Gunung Agung,
* pada tanggal 6 Mei 2001, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Silang Monas, Jakarta Pusat, didukung oleh:
1. PT Mony Saga Prima,
2. PT Indomobil,
3. Majalah Sehat,
4. Yayasan De Mono,
5. Creative Design,
6. PT Segoro Fajar Satryo, serta
7. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Halim Perdanakusumah,
* pada tanggal 7 Mei 2001, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Toko Gunung Agung, Bekasi, didukung oleh:
1. Toko Gunung Agung,
2. PT Sinar Sosro,
3. PT Mony Saga Prima,
4. Game Center EMI,
5. Restoran A&W,
6. Majalah Sehat,
7. Creative Design,
8. PT Segoro Fajar Satryo, serta
9. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Halim Perdanakusumah,
* pada tanggal 15 Oktober 2001, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, serta Pameran Lukisan, bertempat di Gedung Pertemuan Wisma Seroja, Bekasi, didukung oleh:
1. Radio Swara Nenggala,
2. PT Nippon Indosari Corp. (Sari Roti),
3. PT Mony Saga Prima,
4. Elex Media Komputindo, dan
5. Medifarma,
* pada tanggal 12 Mei 2002, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, serta Pameran Lukisan, bertempat di Plaza Hero Bekasi, didukung oleh:
1. RAPI Lokal 1 Wilayah 11 Bekasi,
2. Hero Supermarket,
3. PT Pharos (Igastrum Plus),
4. PT Nestle Indonesia,
5. PT AIMI (Indomilk),
6. PT Indofood Sukser Makmur,
7. MacDonald, dan
8. Yayasan Pendidikan GPL.
* pada tanggal 30 Juni 2002, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Arena Payung Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII, didukung oleh:
1. Museum Purna Bhakti Pertiwi,
2. PT Abbot Indonesia (Pediasure),
3. PT Indofood Sukser Makmur. dan
4. PT Pharos (Igastrum Plus).
* pada tanggal 12 Oktober 2003, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Ramayana Plaza Jl. A Yani, Bekasi, didukung oleh:
1. Ramayana Department Store,
2. PT Indofood Sukses Makmur,
3. Toko Prapatan,
4. Studio GNG,
5. Studio Lima,
6. PT Nippon Indosari Corp. (Sari Roti),
7. PT Niramas Utama (Inaco),
* pada tanggal 17 April 2005, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, bertempat di Hero Supermarket Jl K.H. Noer Ali, Bekasi, didukung oleh:
1. Hero Supermarket,
2. PT Abbot Indonesia (Gain Plus),
3. Toko Prapatan,
4. PT Arnott’s Indonesia
5. PT Ultra Prima Abadi,
6. PT Nirmala Lestari,
7. Yoko Bento, dan
8. MacDonald.
* pada tanggal 7 Mei 2006, Lomba Lukis dan Mewarnai untuk anak TK-SD, serta Pameran Lukisan, bertempat di Plaza Hero Bekasi, didukung oleh:
1. Hero Supermarket,
2. Toko Prapatan,
3. PT Nippon Indosari Corp. (Sari Roti),
4. PT Mony Saga Prima,
5. City Club,
6. Sanggar Saraswati, Bogor,
7. PT Harpers (Sugus), dan
8. Yoko Bento.
Sebagai lembaga pembinaan daya cipta anak yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat, Sanggar Jangka Langit sudah merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri. Melalui berbagai event yang diadakan, Sanggar Jangka Langit selalu berusaha mewujudkan kepedulian sosial, dengan menyisihkan sedikit pendapatan dari event itu untuk disumbangkan kepada masyarakat yang kurang mampu dan anak jalanan.
Berangkat dari keprihatinan terhadap kenakalan remaja serta banyaknya anak yang putus sekolah dan terpaksa bekerja di jalanan, Sanggar Jangka Langit juga senantiasa berusaha ikut membina dan menyalurkan bakat anak agar tidak terjerumus ke jalan yang kurang baik.
Setelah pendirinya diberhentikan dari bidang kewartawanan pada tanggal 16 Januari 1999 dan diserahi tugas merintis Penerbit Antara Pustaka Utama (APU), Sanggar Jangka Langit berusaha menerbitkan buku sendiri dengan panji JLC Prod. Inc.
Langkah ini diawali dengan penerbitan buku Kebatinan Islam: Pengantar Menuju Pemahaman Mistik Islam karya Dr.(H.C.) Hasjim Darif Mirajim pada bulan Desember 2000 dan Enam Langkah Menggambar Mudah: (1) Dengan Pertolongan Abjad A-M, (2) Dengan Pertolongan Abjad N-Z, dan (3) Bermain Angka karya Indah A.R. Martin. Ketiga jilid buku yang akan dilengkapi dengan jilid berikutnya ini merupakan buku panduan cara menggambar yang gampang melalui berbagai langkah yang mudah diikuti oleh anak.
Demikian sekilas profil Sanggar Jangka Langit yang berusaha senantiasa memegang teguh misi pembinaan dan pengembangan sesuai dengan motto Knowledge is Power, bahwa pengetahuan itu kekuatan sejati, karena hanya lewat penguasaan pengetahuanlah kita semua dapat maju, dan masa yang paling baik untuk memperoleh pengetahuan ialah masa kanak-kanak. (*)
Label:
jangka langit
