Latest Post
Tampilkan postingan dengan label lautku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lautku. Tampilkan semua postingan

“205 HARI BERSAMA SANG DEWA” (Bagian Pertama: Prakata)

Written By Redaksi on Rabu, 25 Desember 2013 | 15.30

Oleh: Martinus Bong
Saya lupa peran apa ini namanya. Kadet mengambil posisi pada tali di tiang layar. (Foto: Konsul Jenderal Republik Indonesia, KJRI, Guangzhou, Cina.)
“205 HARI BERSAMA SANG DEWA” (Bagian Pertama: Prakata)

BEGITU BANYAK MITOS yang muncul di benakku, sewaktu aku mulai menulis memoir ini. Ada yang tentang tong yang menggelinding dari puncak bukit, dan akhirnya berhenti di dasar lembah, terpantek dalam jepitan dua batu besar.

Ada yang mengenai ikan kecil yang berlarian di sela ranting kering yang menjulur ke air dan suara tembakan yang membuyarkan kegembiraannya menari riang.

Ada pula tentang bentangan waktu yang belum kulewati hingga ke ujungnya. Dan ada juga tentang air yang lembut tetapi mampu memecah batu hitam.

Orang sipil di kapal perang --kapal latih layar jangkung--, betapa menyenangkan tampaknya tugas itu.

Barangkali hanya nasib baik yang dapat mengantar seorang bocah kecil penjaja koran --berkaus oblong lusuh dan celana kolor hitam sepanjang jalan raya dan rel kereta api Semarang-Cepu-Bojonegoro—berkeliling dua per tiga dunia, menjadi salah satu duta bangsa.

Inilah yang aku sebut mitos tong itu, yang terjepit tugas kewajiban dan cinta keluarga. Betapa tidak, saat itu aku belum lama menikah dan anak lelakiku, yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang kedua di ranjang rumah sakit karena muntah-berak, sedang manja-manjanya kepadaku.

Ikan kecil itulah anakku, yang kini dihinggapi trauma takut ditinggal pergi lama lagi oleh ayahnya. (Aku tak tahu entah kapan aku --dengan bimbingan  Allah Azza wa Jalla-- baru bisa memperbaiki jiwanya yang retak itu.)

Segalanya memang memerlukan waktu –yang sebagian besar tampaknya berlalu sia-sia sewaktu aku terombang-ambing di atas kapal jangkung itu. Tetapi, sebenarnya tidak demikian halnya.

Kesepian dan kejenuhan mampu memaksaku rajin belajar tentang apa saja yang bisa dipelajari, meski yang membentang di hadapanku ketika itu hanya laut yang tenang bersahabat atau sedang bergolak keras menguncang-guncang kapal bagai beras ditampi.

Justru bentangan laut itu yang sering membuatku tertegun-tegun, bertegur sapa dengan diriku sendiri, tentang jati diri dan hakikat hidup, seraya mengamati senar pancing yang pada hakikatnya sia-sia dipasang di belakang kapal yang berpacu kencang.

Kesepian itulah yang kumaksud dengan mitos air --pedang tajam yang mampu memecah beton dan menyisakan besi tulangnya bila disemprotkan dengan kecepatan tertentu.

Kesepian itulah yang sebenarnya banyak memberikan arti bagi hasrat dan dahaga pencarianku yang entah sampai kapan baru akan terpuaskan.

(Diketik dengan komputer NEC di Wisma Antara pada tanggal 1 Desember 1986.)

“205 HARI BERSAMA SANG DEWA” (Bagian Ketiga: Bab 2. Kapal Layar Jangkung Bertiang Tiga)

Written By Redaksi on Sabtu, 30 November 2013 | 15.56

“205 HARI BERSAMA SANG DEWA” (Bagian Ketiga: Bab 2. Kapal Layar Jangkung Bertiang Tiga)

AKU PERTAMA KALI bertemu dia di Tanjung Priok pada awal 1986. Umurnya tak lagi muda, 34 tahun. Untuk ukuran manusia, usia sekian ini tidaklah uzur, tetapi bagi ukuran kapal, dia sudah sembilan tahun melampaui batas tertinggi ketuaannya yang pertama. Dia bahkan sudah memasuki tahun keenam periode usianya yang kedua, setelah perbaikan hampir menyeluruh di galangan kapal di Singapura pada tahun 1980.

Mestinya kapal layar jangkung (tall ship) bertiang tiga ini, yang diberi nama Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Déwårutji (ejaan kini: Déwåruci), sudah masuk museum, apalagi dua saudari-kembarnya sudah hancur tanpa bekas.

(Belakangan, aku paham pendapat soal usia kapal ini salah. Asal dirawat dengan baik dan berkesinambungan, umur kapal ini bisa bertahan melebihi seabad.)

Konon, pihak negara tempat kapal jenis barkentin[1] ini dirancang dan dibuat,Jerman Barat, --yang pada tahun pembuatan kapal ini, 1952, membangun tiga kapal layar serupa-- dikabarkan pernah mengajukan penawaran untuk membelinya kembali guna dimuseumkan.

Menurut salah satu anak buah kapal (ABK) ini, pihak Bonn bahkan sebagai penggantinya menawarkan satu destroyer (kapal perusak) modern dan berpeluru kendali.

Akan tetapi, lagi-lagi konon, pemerintah Indonesia tidak terbujuk untuk melepas kapal jangkung yang sudah banyak berjasa menetaskan ribuan perwira pelaut yang ulet dan tangguh yang kini mengomandani atau mengawaki kapal perang Republik Indonesia ini.

Sampai datangnya KRI Ki Hajar Dewantara pada tahun 1981, dia merupakan satu-satunya kapal latih yang digunakan untuk mendidik dan menggembleng remaja calon perwira, terutama untuk mematangkan mental dan kekuatan fisiknya, sehingga menjadi pelaut yang tangguh, trampil, dan trengginas.

Kapal ini mulai dibuat di galangan kapal H.C. Stülcken und Sohn, Hamburg, Jerman Barat, pada tahun 1952.[2] Dia diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953 dan dibawa ke Tanah Air oleh para pelaut Indonesia sendiri pada bulan Juli tahun itu.

Sejak itu, kapal jangkung ini dimanfaatkan sebagai sarana pelatihan kadet oleh Institut Angkatan Laut (IAL) yang didirikan pada tanggal 10 September 1951. Nama IAL diubah menjadi Akademi AL (AAL) pada tahun 1956. AAL bergabung dalam Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia AkABRI, sewaktu sekolah yang terakhir ini didirikan pada tahun 1966.


(1)  Kapal Muhibah Duta Bangsa

BANYAK LAMAN (website) asing menulis bahwa “The Déwåruci also serves as a goodwill ambassador for the country of Indonesia tothe rest of the world.”[3] {KRI Déwåruci juga bertugas sebagai duta besar muhibah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di berbagai belahan dunia.}

Demikianlah, dalam usianya yang ke-34, dia telah melakukan 16 pelayaran muhibah ke luar negeri, termasuk ke New York, Amerika Serikat; dan Vancouver, British Columbia, Canada, pada tahun 1986, ini, dan juga telah puluhan kali mengadakan pelayaran pelatihan di dalam negeri.

Muhibah pertama ke luar negeri dilaksanakan pada bulan Mei--Juli 1957, dari Surabaya menuju Bali, Pulau Christmas, Sabang, Riau, Singapura, Jakarta, dan kembali ke Surabaya, di bawah Komandan Mayor Laut (Pelaut) Frits Suak (d. 1956--1959).

Muhibah kedua masih dipimpin oleh komandan yang sama pada bulan Mei--Juli 1958 ke Kuala Lumpur, Bangkok, Saigon (kini: Ho Chi Minh City), Manila, dan pulang ke Surabaya, sedangkan yang ketiga pada bulan Mei--Juli 1959, dengan rute: Surabaya, Jakarta, Riau, Phnom Penh, Hainan, Hanoi, dan balik ke Surabaya.

Dalam pelayaran samudera keempat pada bulan Mei--Agustus 1961, KRI Déwåruci menuju Freemantle, Adelaide, Melbourne, Jervis Bay, Sydney, Brisbane, Cairus, Port Moresby, Darwin, Surabaya, dengan Komandan Mayor Laut (Pelaut) Rudy Purwana (d. 1959--1961).

Pelayaran muhibah kelima,“Sang Saka Jaya,” dilaksanakan pada bulan Maret--November 1964, dengan Komandan Mayor Laut (Pelaut) H. Soemantri (d. 1962--1965), berkeliling dunia, mengarung iSamudera Hindia, Terusan Suez, Laut Tengah, Samudera Atlantik, New York, Terusan Panama, Samudera Pasifik, untuk mengikuti Bermuda Race.

(Martin Moentadhim S.M.)

[1]      A barquentine or Schooner barque (alternatively barkentine or Schooner bark) is a sailing vessel with three or more masts; with a square rigged foremast and fore-and-aft rigged main, mizzen and any other masts. The term "barquentine" is 17th century in origin, formed from "barque" in imitation of "brigantine", a two-masted vessel square-rigged only on the forwardmast, and apparently formed from the word brig. Lihat Anonim, "Barquentine,"dalam http://en.wikipedia.org/, last modified on 17 November 2013 at 14:29, dengan mengutip
·        "Sailingship rigs, an infosheet guide to classic sailing rigs," Maritime Museum ofthe Atlantic. Archived from the original on 28 December 2010, retrieved 2011-01-15.
·        T F Hoad, ed. (1993). Oxford Dictionary of English Etymology. Oxford: Oxford University Press. p. 34. ISBN 978-0-19-283098-2.
[2]      Pembuatan kapal ini dimulai pada tahun 1932, namun terhenti karena, saat Perang Dunia II, galangan kapal pembuatnya rusak parah. Kapal tersebut akhirnya selesai dibuat pada tahun 1952. Lihat Anonim1, "KRI Dewaruci," dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 26 Juni 2013.06:37.
[3]      Lihat, misalnya, Anonim2, “"KRI Dewaruci," dalam http://en.wikipedia.org/, last modified on 31 October 2013 at 06:00.

205 HARI BERSAMA SANG DEWA” (Bagian Kedua: Bab 1. Panggilan Tugas Negara)

205 HARI BERSAMA SANG DEWA” (Bagian Kedua: Bab 1. Panggilan Tugas Negara)

EMPAT TAHUN SUDAH aku menekuni tugas yang satu itu: menerjemahkan berita sosial, politik, dan budaya[1] internasional dan kawasan Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (Perbara[2] = ASEAN) di Meja Sunting (Desk) Berita Internasional Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di Jakarta. Betapa pun cinta dan sukanya aku pada tugas itu, kebosanan dan kejenuhan tetap juga ada. Kadang-kadang perasaan semacam itu begitu menyesaki dada.

{Padahal, pada pagi hari ketika aku tidak dinas, aku sudah berhasil mengaktifkan diri dalam kegiatan perfilman. Ini terjadi setelah salah satu wartawan senior, tepatnya Kepala Redaksi Berkala, Tony Ryanto, memercayai aku mewakilinya menghadiri konferensi pers Festival Film Indonesia (FFI) 1983 di Gedung Dewan Pers, tepatnya kini Jakarta Media Center (JMC).

Dalam hal ini, izinkan aku memuji diri sendiri perihal menjalin hubungan. Betapa tidak, dalam konferensi pers itu, aku berkenalan dengan Ibnu R. Sawarno, wartawan film senior yang sejak aku masih berjualan koran/majalah di jalanan kota Cepu pada kelas IV Sekolah Dasar (SD) hingga tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri  1 Blora pada tahun 1972 sudah aku baca tulisannya, misalnya di Majalah Tjaraka. Senior ini suami Evawani Eliza, putri tunggal penyair Chairil Anwar. Aku juga berkenalan dengan penulis masalah perfilman di Harian Umum Kompas, Marseli Soemarno, yang belakangan menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Pada tahun 1983 itu juga Mas Ibnu sudah memasukkan aku ke jajaran wartawan film yang diizinkan ikut Program Pembinaan Perfilman Nasional (PPFN) yang dibiayai oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pada tahun berikutnya, aku sudah ikut Diskusi Perfilman Nasional (DPN) dari program tersebut di Preview Room Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan. Juga menghadiri FFI di Jogjakarta, 1984. Juga menjadi anggota Kine Klub Indonesaia (KKI) yang didirikan oleh Ratna Sarumpaet.

Pada tahun 1984 itu juga, tentu saja, aku sudah menjadi anggota Seksi Film dan Hiburan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang saat itu diketuai oleh Chaidir Rachman. Senior yang satu ini aku baca karyanya di Majalah Bumi Artis dan Harian Umum Duta Masyarakat waktu aku masih di kampung halaman sebagai anggota Gerakan Pemuda (GP) Anshor, organisasi kepemudaan Nahdlatoel Oelama (NO) yang ayahku menjadi pengurus di tingkat ranting.

Pada tahun 1985, Bang Chaidir sudah memasukkan aku sebagai anggota kehumasan Panitia Tetap (Pantap) FFI di Bandung. Oleh Pemimpin Redaksi Majalah Film dan Direktur Pemasaran PT Peredaran Film Nasional (Perfin) ini, aku dibimbing khusus menangani laporan statistik produksi film nasional sesuai dengan catatan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) yang saat itu diketuai oleh H. Turino Junaidy.}

Uf, ngelanturnya kejauhan, mari kita kembali ke tugasku di Antara. Betapa tidak, kamus Inggris-Indonesia[3] yang dibeli empat tahun yang lalu saja sudah tak lagi berbentuk dan sudah jarang tersentuh; Bukan karena isinya sudah habis masuk otak, melainkan karena kemalasan membukanya sudah sedemikian memuncak.

Akh, sebagai abdi negara tak seharusnya aku merasa bosan dan jenuh begitu. Tetapi, begitulah kenyataannya. Tambahan pengetahuan, yang setiap hari datang melimpah ruah, tak lagi menarik. Persetan dengan itu, sedikit-dikitnya lima jam per hari mengetuk-ngetuk mesin tulis dan membalik-balik kamus pada akhirnya membuat hidupku menjadi monoton dan seolah-olah aku telah menjadi mesin tulis itu sendiri.

Tidak lebih dan tidak kurang, aku seolah-olah hanya sekrup kecil yang setiap saat siap, mau tak mau, dilepas dan diganti dengan yang baru dari sebuah mesin besar yang bernama LKBN Antara.

Sejak setahun yang lalu aku mendambakan mutasi, tetapi dari hari ke hari aku semakin terpantek di kursi tugasku, satu dari sepuluh kursi di Meja Sunting Berita Internasional, yang oleh salah satu bekas kepalanya dijuluki “Siberia”.

Sampai saat aku menulis memoir ini barang kali julukan itu masih tepat dan relevan. Betapa tidak, kecuali beberapa tenaga yang sejak awal kariernya sudah ditunjuk mengisi jabatan itu, selebihnya ialah tenaga buangan dari redaksi atau biro lain yang dianggap pernah melakukan kesalahan di tempat tugasnya yang lama, termasuk aku.

Pada hari itu --salah satu di antara hari-hari terakhir tahun 1985-- aku mulai mawas diri, memikirkan tentang takdir dan bagian nasib yang sudah dipilahkan untuk suratan hidupku.

Aku pun tengadah, ingat bahwa lembaga itulah yang mengentasku dari perjalanan panjang seorang penganggur. Itulah sebabnya aku tidak pernah meragukan sendiri loyalitasku kepada lembaga yang telah mendidik dan menggemblengku hingga aku menjadi aku yang sekarang.

 Aku pun tersenyum bagaikan bocah kecil yang menemukan kembali barang mainannya yang hilang.

Beberapa hari sesudah hari itu --masih juga pada salah satu hari-hari terakhir tahun 1985-- mendadak aku dipanggil Direktur Redaksi, Ismail al-Banjar.

Seraya melangkah ke ruangannya, dalam hati aku bertanya-tanya: kesalahan apa yang telah kuperbuat dan teguran macam apa yang akan kuterima.

Tidak seperti biasanya, kali ini alis Sang Direktur tidak terangkat naik. Jadi, itu pasti bukan teguran, melainkan sesuatu yang lain. Tanya-jawab rutin untuk mengisi kondite-ku?

Dengan agak tenang aku duduk di hadapannya.

“Kamu suka bertualang?” dengan tersenyum Sang Direktur bertanya.

Meski mengangguk, aku tertegun, tugas macam apa yang harus kukerjakan?

“Ada undangan dari Angkatan Laut untuk mengikuti pelayaran muhibah KRI[4] Dewaruci ke New York dan Vancouver; Kamu mau?”

“Berapa lama, Pak?”

“Tujuh bulan.”

Masya-Ållåh! Tujuh bulan di laut di laut padahal aku tidak dapat berenang? Rasanya aku tak kuasa menjawab. Tetapi, dalam bayanganku, langsung tergambar pengalaman baru yang sama sekali belum pernah kualami.

Aku pun menunda jawab, bukan karena aku takut menghadapi kebuasan samudera, melainkan aku menunggu kata istriku tercinta. Apa katanya?

“Berangkatlah, Dad! Kapan lagi akan datang kesempatan sebaik itu, anggaplah 210 hari itu cuti wisata dari kejenuhan dan kebosanan berkamus-kamus.”

“Tapi ingat: seekor ikan tak tahu apa itu air, ketika ia bertanya, ikan yang paling bijak menjawab: bila kau ingin tahu apa itu air, keluarlah kau dari air.”


Catatan Kaki:

[1]       Saat itu aku masih terbawa salah kaprah mengartikan “budaya” secara sempit yang meliputi seni dan tradisi saja --MMeSeM.

[2]       Ini akronim entah diciptakan oleh siapa, tetapi belakangan yang lebih populer justru singkatan Inggrisnya: ASEAN.

[3]       John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Cornell University Press dan P.T. Gramedia, Ithaca, London, Jakarta, cetakan ke-11, Maret 1982. Kamus ini aku beli di “pasar loak buku” di Kwitang pada tanggal 19 April 1983, karena yang di toko buku terlalu mahal. Orang bilang ini barang bajakan, tetapi belakangan aku tahu ini hanyalah barang yang keluar dari gudang secara haram.

[4]       KRI itu kapal perang Republik Indonesia.

Pendidikan Non-Formal Ujung Tombak Upaya Atasi Pengangguran dan Kemiskinan?

Written By Unknown on Senin, 04 November 2013 | 21.44

Pendidikan Non-Formal Ujung Tombak Upaya Atasi Pengangguran dan Kemiskinan?

UPAYA MANUSIA UNTUK menyejahterakan dirinya, termasuk mengelola sampah “untuk dijual”, entah disadari entah tidak, selalu serbaguna dan beragam dampak. Di samping itu, sepanjang sejarah Indonesia merdeka, pengelolaan sampah di republik ini selalu menimbulkan masalah. Padahal, secara ekonomis selalu ada saja warga negara yang secara swadaya mengolahnya. Bahkan, sepuluh tahun belakangan ini, lembaga internasional pun turun tangan berkampanye mengubah sikap hidup masyarakat.

Adalah Divisi Lingkungan dan Pembangunan di Kawasan Pesisir dan Pulau Kecil (Environment and Development in Coastal Region and Small Islands = CSI) Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa (UNESCO) yang melakukan kampanye tersebut. Diterapkan di kawasan Ibu Kota dan sekitarnya, proyek ini bernama panjang Environmental Governance and Wise Management Practice for Tropical Coastal Mega-Cities Sustainable Human Development of The Jakarta Metropolitan Area 2000-2004. Dalam bahasa Indonesia, maknanya kira-kira: Praktik Pengelolaan Lingkungan dan Penanganan Sampah yang Bijak bagi Pembangunan Berkelanjutan yang Manusiawi Kota Besar Pantai Tropis di Wilayah Ibu Kota Jakarta 2000-2004. Penggagasnya tak lain dari petinggi UNESCO di Paris, Prancis, Dr. Yoslan Nur, yang asal ranah Minang.

Pada dasarnya, Doktor Yos minta kita mengoreksi sudut pandang. Akar masalah pencemaran di Pulau Seribu, misalnya, tidaklah terletak di kepulauan itu sendiri, melainkan terserak-serak mulai dari kawasan hulu ke-13 sungai yang mengalir di Jakarta dan sekitarnya sampai ke perilaku penduduk kawasan itu sendiri. Kawasan hulu itu berada di daerah Jawa Barat, termasuk Cibinong, tempat pabrik semen berada. Karena itu, dengan tujuan utama menciptakan “budaya laut bersih”, CSI-UNESCO berusaha menanamkan ke benak kita prinsip 4-R: Reduce, Re-use, Recycle, and Re-plant (Kurangi, Gunakan Kembali, Olah Lagi, dan Bikin Balik), tak hanya bagi warga Daerah Khusus Ibu Kota (DKI), melainkan juga Jawa Barat dan Banten.

Secara kasat mata, menurut Nuning Wirjoatmodjo, senior program assistant UNESCO Jakarta, program ini bisa berupa: kompetisi melukis di atas kertas daur ulang dengan tema laut, menanam tanaman obat dengan kompos organik, dan mengubah barang bekas menjadi barang yang punya nilai tambah, dengan tujuan mengurangi beban laut. Pemenang lomba gambar itu tak hanya mendapatkan hadiah kenang-kenangan dari Direktur UNESCO Jakarta Prof. Stephen C. Hill pada tanggal 1 September 2000, melainkan juga diajak berdarmawisata ke Pulau Seribu pada tanggal 16 September 2000. Apa yang mereka lakukan di sana? Persis seperti berbagai program CSI-UNESCO sebelumnya, peserta diajak berkeliling membersihkan Pulau Bidadari. sekadar mendapatkan contoh yang benar dari cara pengamalan prinsip 4-R tersebut. (Baca: box SuratAnda pada halaman 5.)

Anda mungkin akan memprotes: Gagasan tak akan berguna tanpa pelaksanaan yang baik dan mengena. Tentu saja, CSI-UNESCO tak bisa jalan sendiri. Peran serta semua pihak dibutuhkan, termasuk Anda! Banyak mitra UNESCO dalam melaksanakan baik program maupun proyeknya, terutama lembaga swadaya masyarakat (LSM), terlepas dari bagaimana caranya menghidupi diri dan kegiatannya. Masih pada tahun itu, segerombolan manusia yang tergabung dalam kelompok kerja [aikon!] dengan manajer A.S. Handayani Ningsih mengajak anak berlomba menghias kotak sampah dengan lukisan bewarna-warni.

Jadi, Anda sekarang tahu dari mana asal tong, kaleng, atau kotak sampah bergambar indah yang tersebar di berbagai lokasi umum di Jakarta. Tentu saja tidak semuanya berasal dari proyek kerja sama CSI-UNESCO dan [ai-kon!]. Anda pasti masih ingat lomba lukis tong sampah di Taman Surapati beberapa tahun sebelumnya. Dengan kata lain, pinjam istilah Dana Suaka Alam Dunia (World Wide Fund for Nature = WWF), “Banyak cara untuk dapat berpartisipasi dalam proses pelestarian alam, terserah kepada kita untuk menentukannya.”

Anda boleh saja memprotes keras: Itu kan cerita basi bin sangat usang! Upaya itu tidak menghasilkan uang lagi! Anda benar sekali. Akan tetapi, prinsip hidup bersih dan cinta lingkungan yang dikampanyekannya masih afdol dan bernilai ekonomi, yang pada segi tertentu bernilai uang cukup tinggi. Mengolah koran bekas menjadi kertas daur ulang, misalnya, pada akhirnya akan menghasilkan berbagai kerajinan tangan, terutama kartu ucapan selamat dan undangan, yang dijual mahal di toko cendera mata. Membeli produk ini pun meningkatkan gengsi dan prestise Anda. Iyya, kan?

Dulu, sewaktu terlibat program CSI-UNESCO, penulis mendapatkan kesan seolah-olah pemerintah menutup mata. Akan tetapi, seusai rapat mematangkan gagasan untuk menerbitkan majalah Profesi ini, penulis disodori brosur Program Beasiswa Kursus (PBK) yang dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2006. Lho, apa hubungannya?

Itulah kejutan baru: pemerintah Republik Indonesia sudah berkenan mengucurkan bea siswa yang pada akhirnya akan bisa dinikmati oleh remaja miskin di perkotaan, termasuk mereka yang ingin mendalami seluk-beluk pengolahan sampah. Dengan kata lain, pendidikan non-formal (PNF) kini sudah terjamah bea siswa. (Baca: box Motivasi: Bea Siswa Kursus, Mau? pada halaman 10--11) Memang, ini baru program, tetapi yakinlah, efek berganda akan tercipta. Upaya yang diawali oleh pemerintah ini akan segera disusul secara berurutan. Badan usaha milik negara (BUMN) yang besar-besar tak pelak lagi kelak akan turun tangan, apalagi mereka ini sudah diprogramkan untuk mengucurkan sebagian keuntungannya guna membina usaha kecil dan menengah (UKM = Small and Medium Enterprise = SME).

Apa artinya ini? Pada masanya kelak, PNF akan membuktikan dirinya sebagai ujung tombak upaya mengatasi pengangguran dan kemiskinan, terutama di kalangan warga perkotaan. Angka jumlah orang miskin di republik ini pada bulan Maret 2007, meski mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, masih cukup tinggi, 37,17 juta kepala atau 16,58% dari jumlah penduduk Indonesia. (Baca: box Indikator pada halaman 8--9)


Lingkup Sasaran

PENGALAMAN ADALAH guru yang terbaik. Divisi CSI-UNESCO tentu dengan cermat telah memilih sasaran kampanyenya, dengan pertimbangan strategis. Siapakah sebenarnya yang mereka pilih? Salah satu di antaranya boleh jadi akan membuat Anda iri. Anak nelayan dari Desa Kronjo, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pernah terpilih untuk mengikuti pelatihan pemisahan sampah organik dan anorganik.

Desa nelayan yang satu ini memang istimewa. K.H. Abdurrahman “Gus Dur” Wahid, presiden keempat RI, pernah ikut menanam kepala kerbau di sana sewaktu masih menjabat ketua umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU). Terlepas dari pro dan kontra soal adat itu, desa tersebut pernah pula dibina dan diangankan menjadi pusat wisata pembuatan kapal layar tradisional. Yang mengikhtiarkan ialah wartawati kaliber dunia dan pecinta lingkungan Sasmiyarsi Sasmoyo, ketua Paramitra Bahari, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengkhususkan diri pada bidang pariwisata kelautan dan industri rumahan ramah lingkungan.

Waktu berkunjung ke sana bersama rombongan CSI-UNESCO, termasuk perempuan kuli tinta itu, penulis sempat membicarakan kemungkinan mengolah sejenis ikan tangkapan nelayan setempat yang masyarakat tidak mengonsumsinya menjadi panggang (ikan asap). Di sana, tersedia banyak pohon yang batang, dahan, dan rantingnya bisa dijadikan kayu bakar. “Kalau pohon yang ada habis?” tanya nelayan yang kami ajak bicara polos. “Tanam pohon mèh (Jawa: trembesi), potong rantingnya secara rutin saat sudah cukup besar. Pohonnya tetap hidup berumur panjang.” Nelayan itu mengangguk. Ia orang turunan Banten yang lahir di Jawa Tengah. Nama mèh tak asing baginya. Konon, nelayan di sana sudah melaksanakan gagasan membuat panggang itu. Benar atau tidak, penulis tidak tahu.

Sasaran lain dari program “kampanye kesadaran lingkungan hidup dan cinta laut” CSI-UNESCO ialah kampung ramah lingkungan Banjarsari, Cilandak Barat, dan Cipete Utara, Jakarta Selatan, serta wilayah Kapuk Muara dan Kamal Muara, Jakarta Utara. Kampung yang dipilih rata-rata memiliki semua atau sebagian kemudahan pengolahan sampah, pusat daur ulang kertas, atau kebun tanaman obat. Cipete Utara, yang saat itu dipimpin wanita lurah Tri Wahyuningdyah, misalnya, tidak hanya memiliki kebun tanaman obat, melainkan berhasil mengajak warganya untuk memanfaatkan sebanyak mungkin tanah pekarangannya untuk memelihara Tanaman Obat Keluarga (Toga), dan bahkan punya pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang diizinkan meresepkan Toga.

Cipete Utara memang pernah meraih prestasi nasional di bidang tersebut, yang tampaknya akan disusul oleh kampung Banjarsari sebagai kawasan ramah lingkungan. Membandingkan dua kawasan ini akan terasa nyata perbedaannya. Masyarakat Cipete Utara relatif heterogin dengan kesenjangan yang cukup jauh antara si kaya, menengah, dan yang miskin, sedangkan kawasan Banjarsari tampaknya lebih dihuni menengah-atas, relatif homogin, ditandai dengan taman baca atau perpustakaan RW yang cukup mewah, bertingkat dua.

Tentu saja bukan itu maksud program kampanye tersebut. Yang pasti, keduanya asri dan ramah lingkungan dalam ukurannya masing-masing. Itu saja yang harus dicatat baik-baik dan sedapat mungkin ditiru di banyak desa lain di seantero Nusantara ter-cinta.

Dalam kampanyenya itu, CSI-UNESCO juga punya subprogram, yakni Lomba Anak Muda Cinta Lingkungan. Kompetisi ini terdiri atas tiga bidang, yakni melukis di atas kertas daur ulang, menciptakan kreasi baru (dengan nilai tambah) dari barang bekas, tetapi masih dalam prinsip “pemakaian ulang, penghematan pemakaian barang, dan secara fungsional dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari”, serta menanam tumbuhan obat dengan menggunakan pupuk “kas-cing” (bekas cacing atau vermi-compost atau vermi culture) atau pupuk organik disertai deskipsi tanaman: nama latin, nama lokal, serta guna dan cara pemakaian (dengan menyebutkan sumbernya).

Salah satu pemenang lomba melukis ialah Theodorus Raditiyo (lahir 17 Februari 1989), siswa SD Yasporbi III Kompleks Perumahan BI Pasar Minggu. Lukisannya benar-benar mendekati tema “Laut, masa depan kita” yang ditentukan CSI-UNESCO, dengan pilihan objek salah satu dari: kehidupan nelayan, perahu, pemandangan alam, terumbu karang, ikan dan isi laut, aktivitas pantai, atau kegiatan pelabuhan. Hadiah lomba yang ditekankan pada orisinalitas ini ialah darmawisata ke Kepulauan Seribu dan tempat lain untuk pelajaran lingkungan hidup, yang tak lain ialah Banjarsari.

Di Pulau Bidadari, di bawah bimbingan pecinta lingkungan dari Yayasan Muara Indonesia (YMI), pemenang diajak menyusuri pesisir, mengelilingi pulau yang pada zaman Belanda merupakan salah satu benteng Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) itu, dengan membersihkannya dari sampah. Dalam kesempatan seperti itu, orang YMI sendiri, M. Yusri, mengingatkan peserta darmawisata bahwa daun yang luruh dari pohon merupakan bagian dari siklus alam.


Sisi Manusia

SISI MANUSIA makalah Yoslan Nur mengenai pengelolaan dan daur ulang limbah di tingkat masyarakat Teluk Jakarta diamati dengan kasat mata Jum’at 14 Juli 2000, ketika para wakil donor internasional berkunjung ke dua pusat daur ulang limbah organik di permukiman penduduk berpenghasilan rendah di Jakarta Utara.

Di pusat kegiatan daur ulang Kapuk Muara, mereka melihat Rizal Fauzi (12) sedang melem selembar kertas hasil daur ulang pada kotak pensil sisi-tiga berbentuk prisma. Di satu bangunan di halaman samping, para pengunjung menyaksikan cacing makan dengan asyik limbah organik rumah tangga untuk menghasilkan kompos. Penduduk memakai pupuk itu untuk tanaman halaman mereka, kata Mudakin Zaini (63) menjelaskan.

Di Pasar Inpres Pluit, yang berjarak sepuluh menit dengan kendaraan bermotor dari Kapuk Muara, kelompok pengunjung mengamati bagaimana limbah pasar organik diubah menjadi kompos dengan cara tumpuk. Siregar, kepala pasar, memperlihatkan kompos siap pakai dalam kantung seberat 1,6 kilogram yang dijual dengan harga Rp2.000. Jenis kompos lebih halus yang dibuat dengan cacing dijual seharga Rp3.000 per kantung.

Dalam pertemuan pagi hari sebelumnya, para wakil donor itu mendengarkan paparan dari anggota masyarakat biasa mengenai bagaimana mereka menanggulangi limbah organik setempat.

Nyonya Bambang Wahono, ibu rumah tangga di Banjarsari, Cilandak, Jakarta Selatan, menerangkan bagaimana warga setempat mengolah limbah rumah tangga menjadi kompos. Mereka tidak hanya memakai pupuk itu untuk tanaman obat tetapi juga menjualnya dan menghasilkan untung Rp100.000 sebulan, katanya.

Endang Werdiningsih, guru Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 34 di Pondok Labu, Jakarta Selatan, menceritakan bagaimana muridnya belajar tentang daur ulang kertas bekas dan bagaimana membuat kompos dengan cacing. Kini, sekolah lain dan kelompok masyarakat setempat minta sekolahnya mengadakan peragaan tentang daur ulang, katanya.

Jakarta Raya dan sekitarnya punya 20 juta jiwa penduduk dan menghasilkan 25.000 meter kubik limbah setiap hari, 4.000 meter kubik di antaranya berasal dari pasar tradisional. Fakta yang membuat orang tersentak ialah 70 persen sampah itu organik dan 1.400 meter kubik masuk Teluk Jakarta setiap hari.

Kegiatan daur ulang di Banjarsari dan SMU Nege-ri 34 merupakan upaya ke-cil tapi bermakna untuk mengurangi jumlah limbah yang mengalir dari kota ke laut. Banjarsari dan SMU Negeri 34 dalam jumlah lebih banyak dapat mengecilkan secara berarti tekanan sampah terhadap Teluk Jakarta. Hal yang diperlukan ialah pemuka masyarakat yang memiliki ketrampilan berkomunikasi dan semangat membara untuk menyebarkan kabar tentang praktik bijak dalam mengelola limbah organik.


Lindungi Pantai

DAERAH PANTAI harus dilindungi dari dampak negatif berbagai kegiatan yang dilakukan di darat, khususnya yang berupa limbah. Pentingnya hubungan kota dan laut serta perlindungan daerah pantai dari limbah yang berasal dari darat, kata Dr. Dirk G. Troost, kepala Divisi CSI-UNESCO, ketika berdiskusi dengan sejumlah LSM, pejabat pemerintah, guru, dan wartawan di Jakarta, Kamis 13 Juli 2000.

Sampah tidak bisa dianggap enteng, katanya. Ia mencontohkan tragedi runtuhnya “gunung sampah” di Manila yang menewaskan puluhan orang. “Tragedi sampah di Manila tersebut merupakan pelajaran penting. Di kota besar seperti Jakarta, partisipasi masyarakat merupakan faktor penting dalam penanganan limbah,” kata Dr. Troost yang bertugas di kantor pusat UNESCO di Paris.

Diskusi dengan Dr. Troost yang berasal dari Belanda itu berlangsung di Desa Banjarsari, Cilandak. Kampung ini dipilih oleh UNESCO sebagai proyek percontohan “kampung ramah lingkungan” sejak tahun 1996. Banjarsari telah memenuhi kriteria ramah lingkungan, antara lain telah memiliki pengelolaan sampah, mampu membuat kompos dari limbah, memiliki perpustakaan, dan telah melaksanakan penghijauan, termasuk tanaman obat-obatan.

Dalam rangka program “Selamatkan Pulau Seribu”, UNESCO telah mengadakan kerja sama untuk mengolah dan mengurangi sampah di sejumlah pasar di Jakarta. Sistem pengolahan sampah yang diperkenalkan oleh UNESCO dan sejumlah LSM di pasar tersebut berhasil mengurangi volume limbah hingga 30-40 persen.

Menurut hasil penelitian UNESCO dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagian besar terumbu karang di Pulau Seribu telah rusak terutama akibat sampah yang mencemari perairan di daerah ini. Hadir dalam diskusi tersebut antara lain wakil dari LIPI, SMU Negeri 34, YMI, dan Yayasan Kirai.


Agenda Pemulihan

Sarwono  Kusumaatma-
    dja sewaktu menjadi menteri eksplorasi laut dan perikanan di Jakarta hari Jum’at 14 Juli 2000 menya-takan Indonesia telah me-masuki era baru dengan memasukkan pengelolaan pantai dan sumber daya laut dalam agenda utama pemulihan ekonomi dan reformasi politik.
“Kami punya komit-men untuk tidak mengu-langi kesalahan pemerin-tahan yang lalu. Pendekat-an dari atas ke bawah, ter-pusat, dan berdasarkan sektor semata telah menye-babkan kerusakan ling-kungan hidup, konflik sosi-al, serta berkurangnya pen-dapatan dan kesempatan bagi generasi mendatang,” katanya pada acara diskusi tentang Manajemen Zona Pantai Teluk Jakarta dan Pulau Seribu.
Teluk Jakarta menjadi teluk yang paling tercemar di Asia antara lain akibat limbah yang berasal dari rumah tangga dan industri serta reklamasi tanah, kata-nya dalam diskusi itu, yang diselenggarakan oleh UNESCO.
Menurut ia, pencemar-an tersebut bahkan meluas hingga ke Pulau Seribu dan pembenahan masalah ter-sebut merupakan tantang-an utama bagi pemerintah dan masyarakat. Pengelola-an wilayah pantai mesti di-integrasikan dengan mana-jemen perkotaan serta dae-rah aliran sungai, katanya.
Kepala Divisi CSI-UNESCO Dr. D. Troost mengatakan, komponen penting yang tercakup da-lam program pengelolaan wilayah pantai adalah sains, sosial budaya, ekonomi, pendidikan, dan komunika-si. Ia juga menekankan pentingnya hubungan pe-ngelolaan pantai dan kota guna melindungi wilayah pantai dari dampak negatif berbagai kegiatan yang di-lakukan di darat, terutama yang menghasilkan limbah.
Walikota Jakarta Utara saat itu, Subagyo, dalam diskusi tersebut mengata-kan, dari 13 sungai yang mengalir hingga ke Teluk Jakarta, hanya delapan yang punya alat penyaring lim-bah.
Sementara itu, Direktur UNESCO Jakarta Prof. Stephen Hill dalam pidato sambutannya menjelaskan bahwa program UNESCO yang menyentuh langsung masyarakat bawah di wila-yah Teluk Jakarta dan Pu-lau Seribu merupakan re-fleksi perubahan di dalam UNESCO. Badan PBB yang berpusat di Paris ini dulu lebih berkutat pada masalah ilmu pengetahuan dan teknologi semata. Na-mun, kini, program UNESCO menghubung-kan antara sains dan kese-jahteraan masyarakat. “UNESCO sedang melak-sanakan restrukturisasi dan desentralisasi,” katanya.
Setelah acara diskusi yang dihadiri wakil dari LSM, lembaga pemerintah, sekolah, media, dan kedu-taan asing itu, peserta me-ngadakan kunjungan ke proyek percontohan UNESCO antara daerah pelestarian bakau (ma-ngrove) di Muara Angke, pengelolaan limbah di pasar tradisional Pluit, serta pusat daur ulang di Kapuk Muara.

Pusat Daur Ulang
Muhammad Rizal  Fau-
    zi melem selembar kertas buram keabu-abuan pada balok sisi-tiga. Anak lelaki berbadan kecil itu sedang memasang lapis lu-ar tempat pensil. Balok ber-bentuk prisma itu sendiri dibuat dari dupleks, jenis kertas tebal yang dipakai membuat sampul keras un-tuk buku. “Ini kegiatan sa-ya selama libur,” kata Rizal (12), putra sopir mobil pri-badi.
Rizal dan dua rekannya yang sebaya bekerja tanpa bicara menyelesaikan tem-pat pensil berbentuk balok segi tiga dan tabung. Di sanggar kerja mereka di Kapuk Muara, Jakarta Uta-ra, satu kotak penuh lem-baran kertas buram kasar berada di sisi kanan Rizal. Kertas buram itu hasil daur ulang kertas bekas.
Berapa honornya? “Sa-ya tidak tahu,” jawab polos Rizal yang masuk SLTP Negeri 112 di Kecamatan Penjaringan mulai tanggal 17 Juli 2000. Menurut Nur-hasan (24), pelatih di Pusat Kegiatan Daur Ulang Ma-syarakat Kapuk Muara itu, Rizal dibayar Rp1.000 un-tuk setiap tempat pensil yang beharga Rp6.000.
Sejak pusat itu dibuka Juni 1999, lebih dari 50 o-rang telah dilatih untuk me-ngolah kertas daur ulang dan memakainya untuk membuat amplop, undang-an, dan kreasi lain seperti tempat pensil, Nurhasan menjelaskan. Pusat yang berada di mulut Sungai Muara Angke itu, sekira sa-tu kilometer dari pantai, ti-dak hanya mendaur ulang kertas bekas, tetapi juga mengolah sampah organik.
Mudakin Zaini (63), pe-nanggung jawab ternak ca-cing, memperlihatkan se-jumlah baki kayu ukuran la-ci meja di halaman samping sanggar. Dalam baki itu, ada segumpal sampah da-pur. Di celah gumpalan itu, terlihat cacing sedang ma-kan sisa dapur rumah tang-ga.
Dasar bak sudah ditu-tup serbuk hitam halus. Ini adalah kompos, pupuk or-ganik hasil pengolahan sampah sayur dan buah de-ngan bantuan cacing jenis lumbrikus. Warga memakai kompos ini untuk tanaman halaman rumah, kata Mu-dakir, ketua RT di Kelurah-an Kapuk Muara.
Sementara itu, Pasar In-pres Pluit juga mengada-kan kegiatan daur ulang sampah dalam skala lebih besar. Di pasar tradisional itu, volume sampah orga-nik berkurang 80 persen, kata M. Yusri, pengurus YMI yang menangani pro-yek daur ulang sampah di Kapuk Muara dan Pasar Pluit.
Kompos hasil penyi-raman dan pengeringan serta kompos hasil perom-bakan dengan cacing dijual di pasar. Kompos jenis per-tama dijual Rp2.000 sekan-tung 1,6 kilogram, sedang-kan kompos kascing (bekas cacing) yang lebih halus be-harga Rp3.000 satu kan-tung.

Sampah DKI
Setiap hari, pasar Inpres
    di Jakarta menghasilkan sampah 4.000 meter kubik. Secara keseluruhan pendu-duk Jakarta membuang 25.000 meter kubik limbah setiap hari, 1.400 meter ku-bik di antaranya masuk ke Teluk Jakarta. Padahal, 70 persen sampah DKI meru-pakan limbah organik yang baik untuk dijadikan kom-pos.
Kegiatan daur ulang sampah di Kapuk Muara dan di Pasar Inpres Pluit merupakan upaya kecil da-lam menanggulangi polusi akibat sampah di Jakarta. Pengelolaan sampah yang baik di darat diharapkan dapat mengurangi limbah yang mengotori Teluk Ja-karta.
Karena Kapuk Muara dan Pluit merupakan pro-yek perintis, serombongan wakil donor internasional mengunjungi dua tempat tersebut 14 Juli lalu. Kun-jungan mereka dalam kait-an proyek usulan UNES-CO yang lebih besar untuk menghasilkan model pe-ngelolaan lingkungan hi-dup di Jakarta, khususnya di sekitar Teluk Jakarta dan Pulau Seribu.
Sebelum berangkat ke lapangan, para donor me-nerima paparan upaya ma-syarakat dalam menanggu-langi sampah. Ny. Bam-bang Wahono, ibu rumah tangga di Banjarsari, Cilan-dak, menjelaskan bagaima-na warga di kampungnya sejak yahun 1996 mendaur-ulang sampah dapur.
Kompos yang dipero-leh dengan bantuan cacing itu lalu dipakai untuk me-nghasilkan tanaman obat. Penjualan kompos menda-tangkan untung Rp100.000 sebulan dan penjualan 600 lembar kertas daur ulang sebulan menghasilkan un-tung Rp200.000, kata Ny. Bambang.
Endang Werdiningsih, guru SMU Negeri 34 di Pondok Labu, Jakarta Sela-tan, menceritakan kegiatan ekstrakurikuler mengelola sampah di sekolahnya sejak tahun 1996. Secara bergilir, setiap minggu 25 murid mengolah sampah organik dan mendaur-ulang kertas bekas. Akibat dari kegiatan itu ialah SMU Negeri 34 harus memenuhi permin-taan penduduk sekitar akan pelatihan daur ulang kertas dan sampah.

Isi-mengisi
Dalam menanggapi
    ragam paparan dari berbagai pengelola ling-kungan di tingkat masyara-kat itu, wakil dari USAID mengatakan ia ingin meli-hat survei tentang perilaku penduduk. “Kami tahu se-dikit tentang perilaku pen-duduk yang kena dampak pencemaran. Kami ada niat mengadakan survei perila-ku tingkat nasional. Penja-jakan sudah kami lakukan di Lampung, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Uta-ra,” kata Ian M. Dutton, ke-pala proyek pesisir di USA-ID, lembaga bantuan inter-nasional AS, di  Jakarta.
Mengenai proyek usul-an itu sendiri, Stefano Fazi menyatakan, proyek itu hendaklah dapat mencon-toh kegiatan yang sudah berhasil. Fazi ialah spesialis program UNESCO Jakarta yang mengoordinasi usul proyek yang diajukan kepa-da donor dan menyertakan Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan.
Fazi membayangkan proyek usulan itu akan ber-langsung minimal lima ta-hun, tetapi tidak dapat me-nyebutkan biayanya. Na-mun, ia menyatakan, pro-yek terpisah dapat saja di-laksanakan tanpa menung-gu persetujuan untuk kese-luruhan proyek yang diu-sulkan itu.
Tentang keberhasilan proyek, salah satu peserta dalam kunjungan lapangan menekankan perlunya komplementaritas. “Satu kata kunci ialah saling isi,” kata Dirk G. Troost, kepala Divisi CSI di kantor pusat UNESCO di Paris.
“Anda hanya dapat me-mberikan contoh kalau ada kemungkinan untuk saling isi dan saling memperkuat. Maka, orang akan dapat memperoleh keuntungan dari itu, tidak hanya untuk sekarang, tetapi untuk ge-nerasi yang akan datang,” katanya.

(Diolah dari data koleksi Lautku Newsletter CSI-UNESCO Jakarta oleh Slamet No One)

Teluk Jakarta Bersih, Mungkinkah?

Teluk Jakarta Bersih, Mungkinkah?

ANDA TIDAK PERLU buru-buru menjawab pertanyaan ini. Kenapa demikian? Yang pertama-tama harus diketahui ialah duduk persoalannya. Bila sudah begini, kunci untuk melihat duduk persoalan itu menjadi lebih penting.

Teluk Jakarta kotor dan tercemar. Pertanyaan mendasar di balik ini ialah kotoran dan cemaran itu datang dari mana? Apakah itu berasal dari Teluk Jakarta sendiri ataukah dari tempat lain? Ternyata, realitas menyatakan mayoritas polutan itu datang dari luar Teluk Jakarta.

Adalah M. Husin Munir, manajer pengelola resort Pulau Bidadari, yang mampu melihat kenyataan itu. Teluk Jakarta “menerima sampah dari Jakarta,” katanya pada konferensi pers dalam rangkaian acara Media Gathering atau Malam Keakraban Antar-Media di pulau yang dikelolanya itu Rabu 22 Juli 2009 siang. Demikian pula dikatakan oleh Ir. H. Abdul Rachman Andit, bupati Kepulauan Seribu, pada malam harinya.

Jadi, persoalan lingkungan Teluk Jakarta bukan disebabkan oleh faktor dalam, melainkan faktor luar. Dengan kata lain, sudut pandang kita perlu ditepatkan. Kenapa begitu? Sering kita salah lihat, persoalannya di luar, tetapi yang kita ubek-ubek untuk dibenahi malahan bagian dalamnya, yang sebenarnya tidaklah terlalu bermasalah.

Dalam pertemuan di Kantor Perserikatan Bangsa (PB, United Nations = UN) di Jakarta hampir sedasawarsa lalu, hadirin telah dibuat terkaget-kaget dan terhenyak. Padahal, cendekiawan Minang, Sumatera Barat, yang bekerja untuk CSI (Environmental and Development in Coastal Regions and Small Islands) UNESCO di Paris, Dr. Yuslan Nur, hanya minta hadirin membandingkan tiga peta.

Yang pertama peta Jakarta dengan sepenggal Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu yang sering digunakan orang untuk membahas persoalan perairan yang kian hari makin kotor itu. Yang kedua peta yang melukiskan wilayah Kepulauan Seribu lengkap, tetapi hanya menyorot sepenggal Jakarta. Yang ketiga peta yang membentang luas dari batas terutara Teluk Jakarta sampai menjorok jauh ke wilayah pegunungan di Jawa Barat, tempat ke-13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta berhulu.

Dengan kata lain, Dr. Yuslan telah membuka mata kita, khususnya agar kita mengubah sudut pandang. Ini terutama sekali untuk menyadari bahwa masalah Teluk Jakarta tidaklah terletak di perairan itu sendiri, melainkan terserak-serak di berbagai kawasan di Jawa Barat.

Setelah akar masalah dan filosofi kunci pemecahannya terpahami, barulah Doktor Yus mengajak orang membuka Draft Project Proposal Environmental Governance and Wise Management Practice for Tropical Coastal Mega-Cities Sustainable Human Development of The Jakarta Metropolitan Area 2000--2004 yang mencakup tak kurang dari 15 kegiatan. Proposal ini sudah dibuat CSI pada tahun 1999.

Redaktur Pelaksana Buletin Lautku, Martin Moentadhim S.M., hadir dalam pertemuan itu sebagai mur kecil dari unsur kampanye penyadaran melalui media massa. Ia menyatakan tidak ingin mengajak Anda membahas terinci ke-15 aktivitas tersebut.

Martin MSM hanya ingin mengajak Anda --siapa pun Anda yang tinggal di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)-- berperan, hanya dengan mengimbau Anda untuk berbudaya bersih di lingkungan tempat Anda sendiri tinggal dan di mana pun sewaktu Anda bermobilitas.

Anda yang perokok, misalnya, sisihkan sedikit uang untuk membeli asbak saku, yang biasanya bergaris tengah 3,5 cm dan tinggi 1,0 cm. Bila isinya sudah penuh, tolong Anda membuangnya ke tempat sampah. Dengan cara ini saja, Anda sudah membantu Proyek Teluk Jakarta Bersih.

Betapa tidak, mari kita bermatematika-ria sedikit. Seandainya ada tiga juta dari (katakanlah:) 20 juta jiwa penduduk Jabodetabek merokok, dalam satu hari, setiap orang menghasilkan abu dan puntung satu asbak saku dengan volume 22/7 x 3,5/2 x 1 cm3 atau 9,625 cm3. Secara akumulatif ini menghasilkan polutan 28.875.000 cm3 atau 28,875 m3.

Seandainya 10 persen saja cemaran abu rokok ini terangkut ke Teluk jakarta, ini berarti akan ada 365 x 2,8875 m3. Wow, betapa mengerikan! Martin tidak berani membayangkan Teluk Jakarta akan tereklamasi oleh abu rokok saja dalam waktu yang relatif singkat.

Tentu saja realitasnya tidak semenakutkan itu. Yang pasti, dengan membuang sampah pada tempatnya, Anda sudah berperan menegakkan budaya bersih yang pada akhirnya kelak akan membuat Teluk Jakarta bersih. Atau: Anda mau berperan lebih jauh? Jawaban untuk pertanyaan yang satu ini bisa panjang bisa juga pendek.

Kantor Jakarta UNESCO (Badan PB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan), melalui proyek yang dikoordinasi oleh Nuning Wirjoatmodjo, misalnya, mengajak kita melakukan daur ulang sampah.

Ini misalnya dapat dilakukan dengan membuat kertas daur ulang atau membuat pupuk bekas cacing yang bahasa kerennya vermi-culture. Keduanya tidak sekadar menegakkan budaya bersih, melainkan juga bernilai ekonomi.

Inti dari proyek ini sebenarnya membangkitkan swadaya masyarakat dalam hal menegakkan budaya bersih, yang diwujudkan dengan pengelolaan sampah yang baik. Di beberapa pasar di Jakarta, UNESCO dengan rincian kegiatan yang sama: daur ulang sampah dan vermi-culture, telah melaksanakan Program Pasar Bersih (Propasih).

Sebenarnya, badan dunia ini hanya sekadar memancing kita untuk melaksanakan apa yang disebut community base management dalam hal pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya penegakan budaya bersih di lingkungan kita masing-masing. Ataukah Anda punya gagasan lain? Silakan!

(Ki Slamet No One)

[Peringatan Dini] Jakarta Aman Gempa? Penurunan Tanah?

Written By Unknown on Jumat, 01 November 2013 | 00.34

[Peringatan Dini] Jakarta Aman Gempa? Penurunan Tanah?

KEMUNGKINAN JAKARTA MENJADI episentrum atau pusat gempa memang kecil. Walau bagaimanapun, Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) ini tergolong rawan gempa. Soalnya, kampung besar yang nama kunonya Betawi ini dikepung sepuluh daerah potensi gempa: Subduksi Sumatera, Subduksi Jawa, Sesar Sunda, Sesar Semangko, Sesar Sukabumi, Sesar Baribis, Sesar Lembang, Sesar Pati, Sesar Bumi Ayu, dan Sesar Yogya atau Opak.[1] Entah apa pula yang akan terjadi bila Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berulah.

Antisipasi apa yang sudah dilakukan? Apakah rumah Anda --penduduk Jakarta-- tergolong bangunan tahan gempa? Apakah gedung bertingkat tempat Anda berkantor di seantero DKI sudah aman? Apakah Tim Penasihat Arsitektur Kota Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (TPAK Dinas P2B) DKI Jakarta sudah melakukan tugasnya memberikan jaminan bahwasanya gedung bertingkat delapan ke atas sudah direncanakan dan dibangun tahan gempa? Apakah Tim Revisi Peta Gempa Nasional (RPGN) sudah merampungkan tugasnya melakukan mikrozonasi gempa untuk Kota Jakarta sebagai panduan mitigasi dan antisipasi gempa?

Katakanlah benar bahwa Jakarta tidak mungkin menjadi episentrum gempa bumi. Pada dasarnya dampak kerusakan gempa terhadap bangunan dan lingkungan bergantung pada jarak titik episentrum dan besaran skala gempa. Marilah kita lihat contoh nyata dampak gempa Tasikmalaya dan Padang pada bangunan fisik di DKI Jakarta:

a.    Gempa Tasikmalaya, yang berkekuatan 7,3 Skala Richter, kedalaman 30 kilometer, dan jarak episentrum 142 km tenggara[2] (menurut http://www.bmg.go.id) telah mengakibatkan terjadinya kerusakan pada konstruksi bangunan di DKI Jakarta. Kerusakan bangunan tersebut telah didata. Hasilnya: kerusakan masih masuk kategori kerusakan minor, tidak sampai terjadi kerusakan struktur yang fatal;

b.    Gempa Padang, yang berkekuatan 7,6 Skala Richter, kedalaman 71 km, dan jarak episentrum 57 km barat daya (www.bmg.go.id), tidak terasa di DKI Jakarta, sehingga tidak terjadi dampak terhadap fisik bangunan, baik kerusakan minor maupun major.[3]

Kita, tentu saja, tidak boleh menafikan apa yang telah diupayakan oleh aparat Pemerintah Provinsi DKI sesuai dengan bidangnya:

a.    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memiliki ketentuan dan persyaratan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), yakni mensyaratkan rancangan bangunan yang harus mengikuti ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) bangunan tahan gempa tahun 2002 dan juga Peraturan Beton Indonesia (PBI) tahun 1971;

b.    Pasca gempa Tasikmalaya, Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (DPPB) Provinsi DKI Jakarta, bersama dengan Tim Penasihat Konstruksi Bangunan (TPKB), dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Provinsi DKI Jakarta telah melakukan dua kali sosialisasi terhadap lebih kurang 600 pemilik/pengelola bangunan tinggi di DKI Jakarta dengan cara memberikan penyuluhan tentang gempa, apa yang harus dilakukan selama dan sesudah gempa, serta menyusun dan memberikan formulir pemeriksaan konstruksi bangunan tahan gempa untuk digunakan para pemilik/pengelola sebagai pemeriksaan awal untuk dilaporkan ke DPPB, yang selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh DPPB dan konsultan yang ditunjuk terhadap kelaikan bangunan;

c.    DPPB Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan brosur serta pendidikan dan pelatihan bangunan tahan gempa dan upaya penyelamatan diri dari gempa.[4]

Masalahnya ialah telah berkembang kabar perihal adanya Patahan atau Sesar Ciputat di wilayah DKI ini, yang membentang dari Ciputat hingga Kota. Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), salah satu bukti keberadaan sesar itu ialah adanya sumber mata air panas di sekitar gedung Arsip Nasional. Sesar itu patahan tua. Sesar serupa juga terdapat di Surabaya, Jawa Timur, dan Lembang, Jawa Barat.[5]

Namun, pada tahun 2006, sesar itu masih berstatus tidak aktif. Satu-satunya yang bisa mengaktifkan patahan tersebut ialah gempa berkekuatan di atas 7 Skala Richter. Untungnya, tidak pernah ada gempa sebesar itu di Jakarta, setidak-tidaknya dalam 200 tahun terakhir.[6]

Sebelumnya, para ahli gempa memperingatkan potensi terjadinya gempa besar di Jakarta. Ibu kota Indonesia dalam sejarahnya pernah diguncang gempa dahsyat pada tahun 1699, 1780, 1883, dan 1903. Intensitas gempa yang kian meningkat di zona patahan aktif di sepanjang pantai barat Sumatera belakangan ini memunculkan kekhawatiran, potensi gempa bisa menuju Ibu Kota sewaktu-waktu.[7]


(0)   13 Wilayah Rawan Gempa

SECARA TEORETIS Indonesia tergolong negara rawan gempa bumi dan tsunami. Sedikit-dikitnya ada 13 wilayah yang paling rawan diayun gempa teknonik, bahkan tsunami, karena berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.[8]

Ke-13 wilayah itu secara geologis berada pada lempeng yang membentuk zona gempa bumi. Dinamika lempeng tersebut yang membentuk zona tersebut. Wilayah itu ialah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Papua.

Lho, mana Jakarta? DKI tak terdaftar. Sementara itu, Kalimantan tergolong wilayah aman dari gempa bumi.

Gempa bumi terjadi berawal dari gerakan lempeng benua yang mengalami perlambatan akibat gesekan dari selubung bumi, sehingga menyebabkan penumpukan energi di zona tumbukan (subduksi) dan zona patahan yang menimbulkan tekanan, tarikan, dan geseran.

Pada saat elastisitas lempeng terlampaui, terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. Proses ini menimbulkan getaran partikel ke segala arah yang disebut gelombang gempa bumi.

Bencana gempa tidak dapat dicegah dan diprediksi. Kita hanya bisa menghindari jatuhnya korban jiwa dengan melakukan mitigasi. Mitigasi gempa bisa dilakukan dengan membuat bangunan tahan gempa, tidak mendirikan bangunan di atas atau bawah tebing.

Karena itu, penting bagi pemerintah untuk membuat Rancangan Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang mempertimbangkan aspek kebencanaan, menyelenggarakan pendidikan dini tentang gempa, bencana, dan bahayanya serta menyiapkan jalur evakuasi.

Saat terjadi gempa, masyarakat yang berada di tempat umum yang ramai seperti di mal, bioskop, atau hotel seyogyanya tidak pernah membuat kepanikan, namun dengan tenang memilih cara menyelamatkan diri yang benar.


(1)   Tujuan Mikrozonasi: Pengalaman Sleman

APAKAH MIKROZONASI itu? Dalam hal ini, ada baiknya kita melihat pengalaman Kabupaten Sleman --dan juga Kabupaten Klaten.[9]

Gempa tektonik 27 Mei 2006 mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan permukiman di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kabupaten Sleman mencatat 20.792 rumah rubuh akibat peristiwa tersebut dan korban 264 orang meninggal, 672 orang luka berat, 560 orang luka sedang, dan 2.539 yang lain luka ringan.

Magnitude gempa tersebut tidak begitu besar, tetapi mengakibatkan korban manusia dan kerusakan bangunan yang sangat besar. Korban luka dan meninggal umumnya disebabkan runtuhnya bangunan. Di wilayah Kabupaten Sleman yang jaraknya kurang dari 50 km dari sumber gempa mengalami kerusakan yang cukup hebat, 20.792 rumah rubuh dan rusak berat, 24.765 rumah rusak sedang, dan 47.753 rumah rusak ringan.

Kerusakan paling parah terjadi di Kecamatan Berbah dan Kecamatan Prambanan. Di Kecamatan Berbah, tercatat 6.212 rumah rubuh dan rusak berat, 2.761 rumah rusak sedang, dan 3.274 rumah rusak ringan, sedangkan di Kecamatan Prambanan tercatat 5.111 rumah rubuh dan rusak berat, dan 4.443 rumah rusak ringan.

Di dalam mitigasi bencana geologi, prediksi bukan satu-satunya cara untuk menurunkan risiko. Korban akibat gempa bukan disebabkan oleh gempa itu sendiri, disebut bahaya primer, tetapi umumnya oleh dampak getaran gempa terhadap struktur bangunan hingga runtuh menelan korban manusia, sebagai bahaya sekunder, serta akibat lanjut dari rusaknya infrastruktur.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingkat kerusakan bangunan atau rumah akibat gempa bumi, yaitu: (1) Kekuatan atau magnitude gempa, (2) Jarak bangunan terhadap sumber gempa, (3) Kualitas bangunan, dan (4) Amplifikasi tanah.

Faktor tersebut memberikan akibat bahwa semakin dekat dengan sumber gempa akan semakin semakin terasa getarannya, sehingga tingkat kerusakan bangunan di daerah tersebut akan semakin tinggi walaupun kualitas bangunannya sama dengan daerah lain. Namun, pada kasus gempa Yogya, jarak bangunan yang jauh dari sumber gempa mengalami kerusakan yang berat juga, sehingga ilmuwan punya simpulan bahwa amplifikasi tanah perlu diteliti.

Dengan demikian, hanya ada dua hal yang bisa diupayakan untuk mengurangi jumlah korban akibat gempa bumi, yaitu meningkatkan kualitas bangunan dan menghindari pembuat bangunan di daerah yang beramplifikasi tinggi.

Pemetaan mikrozonasi ialah langkah awal untuk mengurangi risiko bencana alam, khususnya gempa bumi. Agar bisa menjadi upaya nyata pengurangan risiko bencana, diperlukan langkah lanjut berupa kebijakan pemerintah daerah untuk mengatur tata ruang. Daerah yang amplifikasi tanahnya sangat tinggi tidak cocok untuk permukiman, bila terpaksa harus dengan konstruksi yang khusus.[10]

Pemetaan mikrozonasi ialah instrumen untuk mengetahui daerah atau kawasan yang tanahnya bersifat memperbesar (amplifikasi) atau memperlemah (deamplifikasi) getaran gempa bumi. Dan tujuan dari survei ini ialah memetakan daerah yang rawan terhadap gempa bumi. Dengan demikian, diharapkan bisa mengurangi jumlah korban gempa bumi pada masa datang dan bisa menjadi acuan untuk mengatur tata ruang.

Gempa Bantul 27 Mei 2006 tidak menyebabkan kerusakan yang berarti pada bangunan rumah tua di Parangtritis. Jarak rumah ini terhadap sumber gempa sekira empat kilometer. Tetapi, gedung BPKP yang berjarak 10 km di Jalan Parangtritis Yogyakarta rusak berat dan tidak layak huni. Gedung Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten yang berjarak sekira 50 km dari sumber gempa 27 Mei 2006 juga rusak berat.


(2)   Jakarta Seberapa Rawan Bencana?

PADAHAL, MENURUT Sistem Reduksi Risiko Multi-Bencana (SiRRMa) Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta dan sekitarnya masih merupakan daerah yang sangat rawan bencana di muka bumi ini, baik dilihat potensi bencana sosial maupun dari potensi bencana alam lain, khususnya bencana kebumian. Kalau dibiarkan berlangsung seperti apa adanya sekarang, Jakarta akan menyerupai Calcutta, Bangkok, dan Mexico City: Calcutta dari segi bencana sosial menuju kegalauan; Bangkok dari segi penurunan permukaan bumi; Mexico City dari segi bencana gempa dan penurunan muka bumi. Khusus untuk Jakarta, faktor turun-naik muka laut, variasi iklim, dan siklus tektonik sangat dominan untuk jangka panjang.

Dari segi kegempaan, semua gempa yang terasa di DKI hingga kini berasal dari daerah sumber yang terletak di luar wilayahnya. Dari penyebaran sesar di Selat Sunda dan sekitarnya dan dari data isoseis ada gempa masa lampau, sudah dapat dibuat peta isoseis sederhana. Untuk gambaran umum, khususnya untuk DKI, peta tersebut belum cukup. Skalanya masih terlalu kecil. Untuk kebijakan yang diikuti dengan building codes, DKI butuh peta isoseis, peta akselerasi maksimum dengan skala 1:10.000. Yang paling dibutuhkan DKI ialah zonasi mikro pada skala 1:10.000.

Dalam peta itu, perlu disadari bahwa DKI berdiri di atas tumpukan sedimen kuarter dari berbagai macam jenis, berbagai ketebalan, dengan berbagai penyebaran lateral. Pada tempat tertentu, sedimen tersebut mencapai ketebalan hingga 600 meter atau lebih. Itu berarti ada akselerasi kecepatan rambat gelombang seismik. Lagi pula, dari beberapa penampang geologi permukaan, terlihat penyebaran lapisan pasir. Gejala tersebut dapat menyebabkan proses liquefaction. Ini sangat berbahaya bagi gedung bertingkat di DKI.

Untuk membuat building codes dan kebijakan dalam mitigasi bencana gempa, zonasi mikro sangat mendesak. Ini harus dilakukan sekarang. Sambil menunggu informasi ilmiah yang benar-benar solid melandasi kebijakan, contingency planning sudah harus dapat disusun, yang secara berangsur diperbaiki.

Selain dari bencana gempa, DKI juga dibayangi oleh bencana jangka panjang:

1. Naiknya muka air laut yang akan menimbulkan kerugian dan kerusakan pada prasarana di wilayah pesisir.

2. Munculnya land-subsidence karena: penurunan alami; beratnya gedung besar di atas sedimen yang belum terkonsolidasikan; dan pemompaan air tanah tak terkontrol. Gejala kerusakan tersebut akan sudah dapat terlihat secara jelas 20-30 tahun lagi. Mungkin bukan saja gedung, bahkan bagian dari DKI secara perlahan-lahan mengalami penurunan. Ini akan sangat fatal.

Untuk mitigasi bencana land-subsidence dan naiknya muka laut, diperlukan studi intensif yang harus melahirkan rekomendasi praktis untuk pengamanan prasarana. Konklusinya: pemerintah, dalam hal ini DKI, perlu mensponsori dua kegiatan: melengkapi informasi ilmiah untuk menyusun kebijakan mitigasi bencana bumi dan studi mengenai dinamika cekungan secara mendetail dengan pendekatan baru guna mengantisipasikan daerah yang akan mengalami penurunan, dan daerah yang harus diperkuat/dilindungi terhadap naiknya muka laut. (MMeSeM)


Catatan Kaki:

[1]       Wiastuti, “Antisipasi Gempa, DKI Siapkan Peta Mikrozonasi Gempa,” dalam http://today.co.id/, Rabu 18 Mei 2011.20:54, dengan mengutip Ketua Tim Revisi Peta Gempa Nasional (RPGN), Masyhur Irsyam.

[2]       Saya koreksi dari data asli barat daya.

[3]       Anonim, “Dampak Gempa yang Terjadi di DKI Jakarta,” dalam http://www.jakarta.go.id/, tanggal posting-nya aneh: 1 Januari 1970, bersumberkan Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Provinsi DKI Jakarta.

[4]       Ibid.

[5]       Jakarta Siaga Bencana, “Ada Kaitan Sesar Ciputat & Gempa Dahsyat DKI? Patahan atau sesar di Jakarta membentang dari Ciputat hingga wilayah Kota,” dalam http://facebook.com/, Saturday, November 6, 2010.11:01, dengan mengutip laporan Elin Yunita Kristanti dan Ismoko Widjaya pada http://metro.vivanews.com/, Jumat 16 Juli 2010.11:11, yang bersumberkan Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Erick Ridzky.

[6]       Ibid.

[7]       Ibid.

[8]       Salman Mandira, “13 Wilayah di Indonesia Rawan Gempa,” dalam http://okezone.com/, Selasa, 25 Oktober 2011.11:02:15, dengan mengutip paparan pakar geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Lono Satrio, dalam diskusi tentang kebencanaan dengan wartawan di Hotel The Pade, Banda Aceh, Sabtu 15 Oktober 2011.

[9]       Guntur, “Pemetaan Mikrozonasi Daerah Rawan Gempa Kabupaten Sleman: Kerja Sama Pemerintah Kabupaten Sleman, BPPTK, dan NZ Aid,” dalam http://p3ba.slemankab.go.id/, Selasa 10-Februari-2009.

[10]     Peningkatan mutu bangunan ini saya lihat ketika saya berkunjung ke Bengkulu, terutama dari campuran adukan beton dan besi tulangnya.

Kisah dari Gunung Merapi, Dieng, dan Kelut: MENINGGALKAN ANAK-ISTRI MENGHADAPI KEBUASAN ALAM

Written By Unknown on Selasa, 29 Oktober 2013 | 20.00

Kisah dari Gunung Merapi, Dieng, dan Kelut: MENINGGALKAN ANAK-ISTRI MENGHADAPI KEBUASAN ALAM

(Pengantar: tulisan ini di-create untuk Biwara Antara Spektrum LKBN Antara pada tahun 1987. Diketik ulang dari versi yang dimuat oleh Harian Umum Pelita, Jakarta, Senin 15 Juni 1987, halaman 6 dan 9 pada hari Sunday, June 24, 2007.08:30-12:06, selesai juga setelah listrik mati cukup lama akibat kebakaran di rumah Ketua RW 013.)

Banyak pekerjaan bisa dipilih, baik dengan terpaksa maupun dengan segala senang hati. Tetapi, tentu saja tidak semua orang mudah menerima kenyataan bahwasanya ada orang yang dengan segala senang hati, bahkan turun-temurun, memilih pekerjaan sebagai pengamat gunung berapi.

Apalagi, pengamat seperti itu hanya dua hari saja berkumpul bersama anak-istrinya setelah enam sampai tujuh hari berdinas di tempat terpencil, jauh dari keramaian, hanya berteman alam gunung yang diamatinya.

Mereka juga menghadapi kebuasan alam, yang setiap saat siap menebarkan maut. Mereka menanggung beban bahwasanya sewaktu-waktu gunung yang diamatinya bisa giat --,entah itu meletus, entah itu memuntahkan gas beracun-- dan siap menyebarkan bibit bencana yang bisa mencelakakan jiwa ribuan orang yang bertempat tinggal di lereng dan lembah di sekitar gunung yang mereka amati itu.


Turun-Temurun

Salah satu di antara mereka, Sugiyono H.S., yang lahir di Muntilan, Jawa Tengah, pada tanggal 17 November 1951, ditugasi untuk mengamati Merapi, gunung yang berwatak paling aneh di Jawa, bahkan mungkin di Indonesia.

Lulusan Sekolah Menengah Atas yang beranak tiga itu ditugasi di Pos Pengamatan Babadan, satu dari lima pos pengamatan yang ada di sana. Pengatur muda tingkat satu dengan golongan gaji II/b itu bertugas sebagai pegawai harian mulai tahun 1975 dan lima tahun kemudian baru diangkat sebagai pegawai negeri.

Yang unik, pria yang menikah dengan Sri Hartatiningsih itu seolah-olah menerima pekerjaan itu sebagai warisan dari ayah dan kakeknya, Djuwangi dan Kertodikoro, yang masing-masing bertugas sebagai pengamat gunung itu pada tahun 1920-1957 dan 1930-1971.

Bersama dua rekan-sejawatnya, secara bergiliran Sugiyono bertugas melakukan pengamatan visual membaca rekaman gempa bila ada perubahan kegiatan gunung yang diamatinya. Secara rutin setiap pagi ia berkomunikasi dengan kantor induk di Yogyakarta, serta melakukan hubungan antarpos pengamatan dan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang.

Dalam keadaan biasa, sekali sebulan ia mengadakan pemeriksaan kawah dan puncak. Tidak ada kesulitan untuk mencapai puncak karena jalan setapak yang ada cukup baik. Hanya saja, bila cuaca jelek dan berkabut sewaktu ia bertugas mengamati kawah, ia harus menghadapi risiko duduk berbilang jam di tepi kawah menggigil kedinginan.

Atas pertanyaan penulis, Sugiyono menyatakan tugasnya ini “berat karena menanggung jiwa ribuan orang” yang tinggal di lereng Merapi, yang setiap saat siap memuntahkan lahar yang bisa saja membanjir, menghancurkan segala apa yang dilintasinya.

Ia mengaku hatinya merasa senang dan bahagia sempat mengabarkan perihal kegiatan gunung itu kepada masyarakat. Dengan demikian, ia dapat melaksanakan tanggung jawab tugas dan sekaligus dapat menyelamatkan rakyat awam dari ancaman yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan gunung itu.

Pada tahun 1984, misalnya, gunung itu “batuk-batuk” dan menebarkan abu ke arah utara, ke daerah Boyolali dan sekitarnya, hingga abu menumpuk di atas rumah setebal dua sentimeter. Peletusan kecil ini tidak minta korban.


Pisah Keluarga

Sugiyono menyatakan bahwa tanggapan masyarakat terhadap para pengamat gunung berapi itu cukup baik. Banyak anggota masyarakat yang melakukan kunjungan ke pos pengamatan, sehingga suasana di sana menjadi hidup dan ”seolah-olah semua mata memandang ke arah kami bertiga yang ada di pos,” katanya.

Sebagian dari mereka yang berkunjung itu pelajar dan mahasiswa yang mendapat tugas untuk membuat karya tulis. Tetapi, bila musim kunjungan ini sudah reda, menurut ia, “secara berangsur keadaan pos sepi kembali, tinggal kami bertiga yang hanya dihibur kicauan burung dan desah angin yang menerpa pepohonan di lereng Merapi.”

Dalam keadaan seperti itu, terasalah kedukaan karena harus selalu berpisah dari keluarga. “Betapa tidak, setiap kali kami harus meninggalkan istri dan meniduri gunung,” katanya. Ia kemudian menambahkan bahwa “hanya satu atau dua hari saja dalam seminggu kami bisa berkumpul.”

Tetapi, ia mengaku tidak mengalami kelainan jiwa ataupun kelainan seksual. Bahkan, menurut ia, pendidikan anaknya serta hubungan anak itu dengannyapun tidak terganggu oleh kesenantiasaan berpisah itu.

“Anak-anak tetap berkembang normal sebagaimana lazimnya anak lain,” katanya. Ia menyatakan pula bahwa kelak bila sudah sekolah, selaku anak pengamat gunung berapi, mereka akan mendapatkan beasiswa dari Yayasan Supersemar.
Fasilitas di pos pengamatan yang dibangun permanen pada tahun 1954 itu cukup baik. Ada tempat tidur dan dapur, lengkap dengan peralatan masak. Bahkan, atas kebaikan bupati setempat, di pos itu sekarang sudah ada pesawat televisi.

Di bangunan beton cor berukuran 7x12 meter persegi itu, Sugiyono memasak sendiri makanan sehari-hari baginya, yang bahannya juga dibelinya sendiri di kampung terdekat. Hanya saja, air minum agak sulit diperoleh. Tidak jarang ia dan dua temannya segiliran tugas hanya mengandalkan pada air hujan yang dapat ditampung di bak penampungan.

Ini terutama bila mereka tak sempat membawa air dalam jerigen ke pos pengamatan yang jauhnya lebih kurang lima kilometer dari desa terdekat dan empat kilometer dari puncak Merapi itu. Bila musim kemarau tiba, merekapun tak mungkin lagi mandi, karena air hanya cukup untuk sekadar masak dan minum saja.

Pada tanggal 25 Mei 1987, bersama dua sejawatnya dari Gunung Kelut dan Gunung Dieng, Sugiyono dipanggil ke Jakarta untuk menerima radio transistor dari Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Raya R. Soeprapto dan berbagai bingkisan lain yang Ketua Yayasan Perjalanan Mencerdaskan Bangsa (YPMB) Sukyatno Nugroho dapat kumpulkan.


Orang Gunung

Sejawat Sugiyono dari Pos Pengamatan Gunung Dieng, Suwandi, yang lahir di Batur pada tanggal 21 Juni 1943 dan tamatan Sekolah Rakyat (SR), tampak begitu lugu dan sulit diwawancarai. Bapak enam anak dari perkawinannya dengan Sutini ini bekerja sebagai buruh harian mulai tahun 1967 dan diangkat menjadi pegawai negeri pada tahun 1982.

Di samping bertugas sebagai pengamat, juru muda tingkat satu dengan golongan gaji II/b ini juga melakukan pemeliharaan bangunan pos, bangunan seismograf, halaman dan lingkungan pos, serta bertindak sebagai kurir.
Setelah pekerjaan di sekitar pos usai dilakukannya, ia membantu tugas lapangan seperti pemeriksaan kawah dan melakukan pengukuran suhu. Sebelum ada sepeda motor, untuk mencapai satu dari 11 kawah di Dieng, ia harus berjalan kaki seharian, kadang-kadang sampai 13 kilometer jauhnya.

Karena adanya ancaman gas beracun, ia selalu menggunakan masker bila sedang melakukan pengukuran suhu. Sewaktu terjadi musibah gas maut Sinila pada bulan Februari 1979, ia berada di pos pengamatan dan melihat bahwa penyebaran gas racun itu diawali dengan gempa dan peletusan.

Posnya terletak pada ketinggian 2.000 meter dari muka laut, sehingga udaranya dingin, baik siang maupun malam. Karena di pos tak tersedia alat pemanas ruangan, ia terpaksa harus tidur dengan selimut berlapis-lapis. Tidurnyapun tak pulas, karena ia harus bangun pada waktunya untuk melakukan pengamatan visual.

Air bersih, baik dari mata air maupun sumur, sangat sulit diperoleh di sekitar pos. Karena itu, untuk mencukupi kebutuhan minum sehari-hari, ia hanya bisa berharap pada air hujan.

Meski menghadapi situasi kerja yang demikian sulit, Suwandi yang mengaku “orang gunung” merasa “cocok dengan tugas yang dipilihnya.” Setiap hari dengan senang hati ia melaksanakan tugas “karena sudah kewajiban.”

Di pos itu, tidak ada pesawat radio single side band (SSB) dan telefon. Karena itu, bila mendadak gunung tampak melakukan kegiatan, ia atau temannya segiliranpun terpaksa bergegas naik motor enam kilometer ke desa terdekat. Petugas di sana akan meneruskan berita itu ke Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Pada malam penerimaan bingkisan, Suwandi tampak gelisah. Ia berkali-kali menengok mobil dinas Direktorat Vulkanologi yang membawanya ke Jakarta. Maklum, ia baru pertama kali menginjakkan kakinya di Ibu Kota.

Bapak yang keenam anaknya belum ada yang kawin dan tinggal satu yang belum sekolah ini menyatakan ”Jakarta panas bukan main, tetapi di sini pembangunan maju pesat.” Hari itu, oleh YPMB, ia diajak darmawisata ke Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), bersama sejawatnya yang lain.


Tangga Plastik

Mirip dengan sejawatnya dari Merapi, Giyono, yang lahir di Brenggolo pada tahun 1940 dan ditugasi di Pos Pengamatan Gunung Kelut, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, memulai karirnya sebagai pengamat untuk menggantikan kakaknya, Gian Mulyono, yang anaknya banyak dan tak betah bertugas di tempat terpencil.

Lulusan SR ini bertugas melakukan pengamatan, baik visual maupun nonvisual, misalnya mengamati suara kegiatan solfatara/fumarola dan bau gas belerang. Ia juga mengamati cuaca, termasuk arah angin dan hujan.

Selain itu, pengatur muda dengan golongan gaji II/a yang beranak tiga dari hari perkawinannya dengan Darsih ini juga membantu mengelola alat pengamatan, menyiapkan bahan laporan, dan memeriksa kawah serta mengukur suhunya.
Kecuali pekerjaan kawah, semua tugasnya itu dilakukannya setiap hari, baik sewaktu ia masih bekerja sebagai buruh harian sejak tahun 1963 maupun setelah diangkat menjadi pegawai negeri pada tahun 1970.

Untuk sampai ke kawah yang jauhnya kira-kira sembilan kilometer dari pos, ia harus berjalan kaki lebih kurang enam jam. Ia tidak melakukannya sendirian tetapi bersama rekan sejawatnya karena sulitnya medan dan adanya ancaman binatang buas.

Untuk turun ke tepi kawah, ia hanya menggunakan tangga dari tambang plastik. Pekerjaan ini tentu saja dilakukannya dengan hati-hati, tergelincir berarti tercebur ke danau kawah yang cukup dalam.

Ia juga harus mengukur suhu air kawah dan solfatara. Pekerjaan ini cukup berat, karena harus dilakukannya dengan menyeberangi danau, hanya menggunakan rakit bambu. Ia melakukan pekerjaan ini sendirian, sementara temannya menunggu di tepi kawah dengan harap-harap cemas.

Lingkungan tempat Giyono, Suwandi, dan Sugiyono bertugas tampaknya tenang tetapi sebenarnya menyimpan kebuasan. Tempat itu juga terasing. Karena itu, kebuasan yang terpendam itupun tidak begitu menimbulkan kekuatiran, meski sebenarnya kebuasan itu tetaplah merupakan ancaman.

Tempat itu jauh dari keramaian dan tampaknya keterasingan itu juga melahap manusia seperti mereka, menyembunyikannya dari masyarakat, padahal mereka sebenarnya masih merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri.

Cepu Sarang Naga

Written By Unknown on Kamis, 03 Oktober 2013 | 08.30

(Potret Budaya dan Perspektifnya bagi Pemuda)[1]
Oleh M. Moentadhim S.M.[2]


APA ITU BUDAYA? Secara etimologis, kata “budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta… buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia,” demikian ditulis dalam laman kamus Wikipedia.[3]

“Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin: colere, yaitu mengolah atau mengerjakan; Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang(-kadang) diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.”[4]

Sekarang, saya ingin kukuhkan pendapat di atas dengan apa yang ditulis orang dalam Dictionary of Cultural Literacy. “Kebudayaan merupakan ‘jumlah’ dari seluruh sikap, adat(-)istiadat, dan kepercayaan yang membedakan sekelompok orang dari[5] kelompok lain; Kebudayaan ditransmisi… melalui bahasa, objek material, ritual, institusi (misalnya sekolah), dan kesenian, dari s.atu generasi kepada generasi berikutnya.”[6]

Jadi, budaya itu mencakup segala kegiatan manusia. Entah kenapa setelah Kongres Kebudayaan memerikannya demikian, hingga sekarang, orang masih juga memaknai budaya dalam arti sempit sebagai kesenian dan tradisi serta adat-istiadat. Salah kaprah memang susah diluruskan, apa boleh buat.

(1)  Ngloram-Jipang

CEPU SARANG naga? Yang saya maksud naga ialah Cah (dari bocah, Jåwå: “nak” dari “anak”) Cepu yang berprestasi, sehingga dapat dijadikan suri teladan. Terlalu banyak Cah Cepu berprestasi luar biasa pada bidangnya masing-masing. Berikut ini saya contohkkan lima naga saja.

Naga pertama tidak begitu dikenal orang. Namanya entah siapa. Gelarnya Haji[7] Wurawari (w. 1032 M). Jabatannya pemimpin Kerajaan Lwaram (kini: Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupatèn Blora, Jåwå Tengah).

Prestasinya: menghancurkan istana Wwatan (kini: entah desa apa di Kecamatan Maospati, Kabupatèn Madiun, Jåwå Timur), tempat kedudukan Prabhu Dharmåwångså Teguh (k. 991[8]–1006 M), saat pesta perkawinan Herlånggå[9] (Bedahulu, Bali, h. 990–1049 M, Belahan, Pasuruan, k. 1009–1042 M)[10] dengan Dèwi Laksmi, yang Haji Wurawari juga mencintainya.

Dengan kata lain, Cah Ngloram inilah yang mengakibatkan Kerajaan Medang Mataram (k. 732–1006 M) måhåpralåyå (kiamat).

Naga kedua tak pelak lagi ialah Adipati Aryå Penangsang (k. 1521–1549 M), yang sejak masih bocah sudah berkuasa, diembani oleh Patih Aryå Matahun. Namanya mungkin Ibråhim[11]. Kadipatèn Jipang Panolan merupakan daerah andalan Kesultanan Demak (k. 1475–1549 M). Wilayahnya luas, termasuk Blora dan Pati.

Pada masa ayahnya, Radèn Kikin gelar anumerta Pangéran Sekar Sédå ing Lèpèn (w. 1521 M), di Jipang Panolan, tinggal Sunan Ngudung,[12] yang nama kecilnya Malik al-Fajri atau Radèn Mukti. Inilah ayah guru Aryå Penangsang, Pengulu Råhmatullåh[13] gelar Sunan Kudus II, yang boleh jadi lahir semasa ayahnya tinggal di Bhumi Jipang.[14] Konon, pensyiar Islam inilah yang menciptakan wayang golèk purwå atau wayang krucil atau wayang klithik.[15]

 (2)  Merah-Cepu

KITA MELOMPAT ke era pemerintah kolonial Hindia Belanda. Keluarga besar Kelurahan Cepu menetaskan dua naga yang lain. Lurah Cepu yang saya maksud itu Kartådikråmå, ayah Mas Marco Kartodikromo, wartawan yang dibuang ke Digul oleh penjajah.

“(Pada)… zaman penjajahan, (buku) wartawan yang hidup pada kurun waktu 1890–1935 (M) itu… banyak dibredel (oleh) pemerintah kolonial Belanda. Tak cukup dibredel, pria kelahiran Cepu… ini sempat mengalami hidup di pembuangan.” Bukunya yang dilarang itu antara lain: Student Hidjo, yang ditulis pada tahun 1919 dan Rasa Merdeka, karya tahun 1924.[16]

Lurah Kartådikråmå itu juga bapak Kartåsuwiryå, ayah dari Sekarmadji Maridjan (S.M.) Kartosoewirjo, pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Kakek buyut Sekarmadji Maridjan ialah Rånådikråmå, lurah Mèrah[17], kini Mulyorejo, Kecamatan Cepu.

Mas Marco dan Sekarmadji Maridjan ialah dua dari tiga “Tri Abangan dari Hutan Jati”. Siapa yang satu lagi? Tokoh ini tak lain dari “guru agama-spiritual” Sekarmadji Maridjan, Notodihardjo, pemuka Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di Kawedanan Padangan, Kabupatèn Bojonegoro.

“Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir pada tanggal 7 Januari 1907 di Cepu, kota dengan romansa Bengawan Sålå dan belukar hutan jati. Sang Ayah, Kartosoewirjo, mantri candu pemerintah Belanda, memberinya nama Sekarmadji Maridjan. Kelak nama ayahnya disematkan di belakang nama Sang Bayi. Kakek Si Orok ialah Kartodikromo, lurah Cepu. Rumah Sang Kakek, tempat Sekarmadji lahir, di belakang pasar lama, kini telah musnah.”[18]

“Yang tersisa ialah rumah di Jalan Raya Cepu 15, milik Kartodimedjo, paman Sekarmadji, yang sempat menjadi pamong pråjå pemerintah Belanda. Rumah kayu jati berkapur putih yang dibangun pada tahun 1890 itulah tempat berkumpul keluarga besar Kartodikromo. ‘Ini rumah induk, tempat jujugan keluarga besar kami,’ kata Nuk Mudarti, 75 tahun, keponakan Sekarmadji.”[19]

Deretan panjang nama Cah Cepu dapat saya sebutkan. Saya hanya memilih lima naga saja. Koq mayoritas tokoh yang saya pilih ini rada-rada terkesan pemberontak? Pertanyaan berikutnya ialah mereka memberontak terhadap siapa? Apa pula kepentingannya?

Saya menyatakan bahwa ini hanya masalah sudut pandang. Setiap sikap itu, pinjam istilah Jåwå, ånå empan lan papané. Segala sesuatu tergantung konteksnya. Tetapi, adagium Jåwå yang sekarang lebih pantas dipegang sesuai dengan konteks zamannya ialah jer basuki måwå béyå, yang konyolnya sering membuat orang biyayakän.

(3)  Langkah Nyata

ANDA PASTI masih ingat bunyi Soempah Pemoeda yang dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang: Jakarta) pada tanggal 27–28 Oktober 1928.

 1.   Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia,

2.   Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia,

3.   Kami poetra dan poetri Indonesia mengdjoengdjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

 Djakarta, 28 Oktober 1928.[20]

Apa konteks Soempah Pemoeda ini dengan sejarah kunå dan modern yang saya ceritakan pada bab satu dan dua? Haji Wurawari berpihak pada Kemaharajaan ŚriWijåyå dan memusuhi Imperium Medang Mataram. Sekarang, keduanya sudah menyatu dalam pangkuan bumi pertiwi Indonesia Raya.

Aryå Penangsang sebagai ahli waris sah takhta Kesultanan Demak harus rela sabar lan narimå menunggu kesabarannya habis, baru membumihangus Kota Demak. Ia masih menjalani tugas ksatrianya sebagai sénåpati ketika raja yang mengambil takhtanya, Sultan Trenggånå (k. 1521–1546 M), menyerang Panarukan. Ia masih dapat juga membiarkan Sunan Prawåtå (k. 1546–1549 M) berkuasa. Ini berarti ia masih dapat mengamalkan adagium sakdumuk bathuk saknyari bumi pada konteksnya.

Kedua naga ini menjadi pejabat pemerintah. Sekarmadji Maridjan Kartåsuwiryå pada dasarnya juga ingin menjadi penguasa. Tetapi, Pengulu Råhmatullåh gelar Sunan Kudus II menciptakan salah satu jenis wayang, sementara Mas Marco Kartodikromo menjadi wartawan yang tulisannya tajam, dengan memanfaatkan keahliannya ber-jarwå dhosok.

Dengan kata lain, pemuda haruslah menjadi, dadi uwong. Pilihan profesi sangat terbuka, terserah mau memilih jadi apa saja. Sebelum menjadi, pemuda haruslah nJåwå (mengerti). Apa yang harus dimengerti? Yang harus dipahami ini mau tak mau (sine qua non) ialah potensi, baik yang ada dalam diri maupun bumi pertiwinya.

Saya tak akan lagi bicara soal potensi minyak bumi dan hutan jati yang sudah dihaki oleh pemerintah pusat. Anda –pemuda– juga sudah tahu bagaimana mengambil peran dalam pemanfaatan kedua sumber daya alam ini. Marilah kita gali potensi lain yang boleh dibilang masih perawan atau belum terlalu terjamah di Bhumi Penangsang.

Apakah Anda tahu di aliran Bengawan Sålå dekat Ngloram, misalnya, ada pemandangan indah yang orang kunå menyebutnya bregåjå? Tidak inginkah Anda situs Nglinggå Kerajaan Lwaram dan situs Kadipatèn Jipang tetap bisa dinikmati anak cucu kita? Inilah potensi wisata yang Anda dapat garap dalam konteksnya yang sangat luas. Lihatlah bagan berikut ini.[21]


Griyå Ciptadi, mBalun mBulakan, Cepu, Selasa 23 Oktober 2012.

[1]       Makalah Diskusi Publik Refleksi Sumpah Pemuda di Pendapa Sasana Widya Praja, Kecamatan Cepu, Jalan Ronggolawe No. 44, Kota Cepu 58312, pada hari Kamis 25 Oktober 2012.08:00-selesai.

[2]       MMeSeM itu penasihat Paguyuban Malem Jemuah Pahing (PMJP), badan penyelenggara Pasar Seni Cepu (PSC), yang ketika dimulai pada hari Sabtu 24 Maret 2012 bernama Pasar Seni Tukbuntung (Sarnitung). PSC diadakan di sisi selatan Simpang Tujuh Jalan Ronggolawe. MMeSeM lahir di Desa Jetis, Kota Blora, pada hari Minggu Legi 2 Mei 1954. Pada tahun 1969, saat kelas 3 SMP Negeri Cepu, MMeSeM mendirikan Sanggar Jångkå Langit di Jalan Arya Jipang No. 22 (kini: 41), Balun. MMeSeM pensiunan penanggung jawab Penerbit Antara Pustaka Utama (PAU), unit usaha strategis (UUS) Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, tempat ia bekerja pada tahun 1981 hingga tahun 2003.

[3]       Anonim, “Budaya,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 10 Oktober 2012.18.10.

[4]       Ibid.

[5]       Saya ubah dari aslinya: dengan –MMeSeM.

[6]       Yudhi M., “Pengertian Kebudayaan,” dalam http://yudhim.blogspot.com/, 24 Januari 2008, dengan mengutip Dictionary of Cultural Literacy.

[7]       Haji itu raja vassal, raja bawahan –MMeSeM.

[8]       Angka tahun mulai bertakhta Darmåwångså Teguh ini saya ambil dari Anonim, “Dharmawangsa Teguh,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 7 Desember 2009.07:54.

[9]       Saya ganti dari aslinya: Airlånggå, karena “air” dalam bahasa Jåwå Kunå ialah her –MMeSeM.

[10]       Angka tahun lahir Herlånggå saya ambil dari Anonim, “Airlangga,” dalam http://id.wikipedia.org/, terakhir diubah pada 29 November 2010.05:46. Ia menikah pada usia 16 tahun, saat istana di Wwatan ibu kota Medang Mataram, kerajaan mertuanya, Darmåwångså Teguh, diserbu, hingga Sang Raja gugur. Tiga tahun kemudian rakyat mendaulat Herlånggå agar mendirikan kembali kerajaan.

[11]       Hal ini dikatakan oleh Nassirun Purwokartun, pengarang tetralogi Arya Penangsang, dalam chattingFacebook dengan MMeSeM belum lama ini.

[12]       Solichin Salam, Sekitar Wali Sanga, Penerbit Menara Kudus, cetakan kedua, 1963, halaman 51. Lihat juga H. Sayid Husein al-Murtadho, Keteladanan dan Perjuangan Wali Songo dalam Menyiarkan Agama Islam di Tanah Jawa, Penerbit Pustaka Setia, Bandung, cetakan pertama, Mei 1999, halaman 131, dengan mengutip Mohammad Zaini A.A., Kisah Wali Sanga, Bintang Terang 99, Surabaya, tanpa tahun, halaman 146.

[13]       Nama saya ambil dari H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, PT Pustaka Utama Grafiti dan Perwakilan KITLV, Jakarta, cetakan keempat, 2001, halaman 56, dengan mengutip Jan Edel, Hikayat Hasanuddin, Meppel, 1938. Buku Graaf-Pigeaud ini terjemahan dari De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java: Studien Over de Staatkundige Geschiedenis van de 15 de en 16 de Eeuw, seri VKI No. 69. VKI itu Verhandelingen van het (rangkaian terbitan) KITLV, sedangkan KITLV ialah Koninlijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde.

[14]       Mohammad Guntur Shah dan Martin Moentadhim S.M. (editor), Sit-Lam: Sejarah Cina-Islam di Indonesia, manuskrip, Sanggar Jangka Langit, Bekasi, 2003, halaman 122.

[15]       S. Haryanto, Pratiwimbå Adhiluhung: Sejarah dan Perkembangan Wayang, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1988, halaman 33, dengan mengutip Serat Centhini.

[16]       WaroengBhatiek, “Buku-buku yang sempat dilarang,” dalam http://waroengbhatik.file.wordpress.com, 14 Oktober 2010.

[17]       Saya ganti dari aslinya: Merak, Panolan –MMeSeM.

[18]       Anonim1, “Tri Abangan dari Hutan Jati,” dalam…

[19]       Ibid.

[20]       Teks ini saya dari http://www.sumpahpemuda.org/.

[21]       MMeSeM, “Tanpa Pantai Blora Tak Punya Wisata Tirta? No Way!”, dalam Tapak Jentera, lembar khas ekowisata Koran Mingguan Cahya, Cepu, Edisi No. 1/Th. I, 29 April 2005, halaman 21.

Translate

Selamat Datang di Sanggar Jangka Langit

JANGKA LANGIT

Pengikut

Popular post

 
Support : Creating Website | Jangka-Langit | Martin
Copyright © 2013. JANGKA LANGIT - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Jangka-Langit
Proudly powered by Jangka-Langit